SITOLOGI SEL EPITEL RONGGA MULUT

INTISARI

Pengamatan kondisi patologis yang terjadi di dalam rongga mulut dapat dilakukan dengan membuat preparat apusan yang diperoleh dengan membuat irisan tipis dari sepotong kecil jaringan yang telah difiksasi, kemudian dipulas, dilekatkan dalam medium dengan indeks refraksi yang sesuai di atas sebuah kaca objek kemudian ditutup dengan suatu kaca tutup. Praktikum ini dilakukan dengan cara membuat preparat apus dari mukosa mulut yang didapat dari gingiva, palatum durum, palatum molle, mukosa bukal, mukosa labial, lidah, dan dorsum lidah kemudian diwarnai dengan bahan pewarna Papanicolau dan selanjutnya diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya perbesaran 400x. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sel-sel yang terdapat pada masing-masing mukosa tersebut didominasi oleh sel intermediet. Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami dan melakukan prosedur pembuatan preparat apusan sel epitel lidah, mukosa bukal atau gingiva untuk mengamati keadaan sel epitel subyek dalam keadaan normal ataupun kondisi patologis.

Kata Kunci : Papanicolau, epitelium, mukosa mulut

PENDAHULUAN

Pengamatan kondisi patologis yang terjadi di dalam rongga mulut dapat dilakukan dengan membuat preparat apusan yang diperoleh dengan membuat irisan tipis dari sepotong kecil jaringan yang telah difiksasi, kemudian dipulas, dilekatkan dalam medium dengan indeks refraksi yang sesuai di atas sebuah kaca objek kemudian ditutup dengan suatu kaca tutup. Setelah hasil usapan ditempel pada gelas objek secara merata kemudian direndam dalam larutan alkohol 96% untuk fiksasi. Jaringan yang telah difiksasi kemudian direhidrasi dengan cara merendam gelas objek dalam sederetan alkohol yang konsentrasinya makin menurun. Setelah itu, baru dilakukan pemulasan atau pewarnaan yang bertujuan meningkatkan kontras alami dan untuk memperjelas berbagai unsur sel dan jaringan. Setelah dipulas, kelebihan warna dihilangkan melalui proses dehidrasi (penarikan molekul air dari dalam jaringan) yang dilakukan dengan cara merendam gelas objek dalam deretan alkohol dengan konsentrasi yang makin meningkat. Jaringan tersebut kemudian dijernihkan dengan agen penjernih seperti xilol, kloroform, benzene, dan  minyak kayu sedar. Setelah dikeluarkan dari larutan penjernih, diatas irisan jaringan tersebut diberi setetes medium saji yang mempunyai indeks refraksi hampir sama dengan indeks refraksi kaca, misalnya balsam Canada. Sajian itu ditutup dengan kaca tutup dan dibiarkan mengering (Leeson,1990).

Jaringan epitelium (epithelial tissue) terdapat dalam wujud lapisan-lapisan sel yang terkemas dengan rapat. Pada banyak epitelium, sel-sel tersebut dipatri menjadi satu oleh tight junction (persambungan ketat). Permukaan bebas pada epitelium itu terpapar ke udara atau cairan, sementara sel-sel yang berada di bagian dasar rintangan itu melekat ke suatu membran basal (Campbell, 2004).

Sel-sel epitel mukosa mulut terdiri dari empat lapisan berturut-turut dari yang paling dalam ke permukaan yaitu lapisan germinativum/basalis, lapisan spinosum, lapisan granulosum dan lapisan corneum. Stratum basalis terdiri dari selapis sel berbentuk kubus yang berbatasan dengan  lamina propia dan mengandung sel-sel induk yang secara kontinyu bermitosis dan anak selnya dikirimkan ke lapisan yang lebih superfisial. Stratum spinosum terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk bulat atau oval dan mempunyai karakteristik sel yang mulai matang. Stratum granulosum terdiri dari beberapa lapis sel yang lebih gepeng dan lebih matang dari stratum spinosum dan mengandung banyak granula keratohyalin yang merupakan bakal sel keratin. Stratum corneum terdiri dari selapis atau berlapis-lapis sel (tergantung regio) berbentuk pipih yang tidak berstruktur dan tidak mempunyai inti sel. Mukosa mulut dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu mukosa pengunyahan, mukosa penutup dan mukosa khusus. Mukosa pengunyahan terdapat di regio rongga mulut yang menerima tekanan kunyah seperti gusi dan palatum durum. Jaringan epitelnya parakeratinised (mempunyai lapisan keratin tipis yang beberapa selnya da yang masih memiliki inti sel yang tidak sempurna). Mukosa penutup terdapat pada dasar mulut, permukaan inferior lidah, permukaan dalam bibir dan pipi, palatum molle dan mukosa alveolaris kecuali gusi. Tipe epitelnya nonkeratinised (tidak memiliki lapisan keratin). Mukosa khusus terdapat pada dorsum lidah, tipe epitelnya ortokeratinised (memiliki lapisan keratin yang tebal yang terdiri dari sel-sel yang sudah tidak berinti) (Puspitawati, 2003). Perbandingan antara sel basal-parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial disebut indeks maturasi. Pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel pada lapisan sel basal (Naib, 1970).

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami dan melakukan prosedur pembuatan preparat apusan sel epitel lidah, mukosa bukal atau gingiva untuk mengamati keadaan sel epitel subyek dalam keadaan normal ataupun kondisi patologis.

BAHAN DAN CARA

Praktikum ini membutuhkan alat dan bahan seperti cytobrush, gelas obyek dan glass cover slip, staining jar, mikroskop cahaya, aquades 0,9%, alkohol 96% dan bahan pengecatan Papanicolau.

Pertama kali yang harus dilakukan adalah membuat preparat apus dari sel epitel lidah, mukosa bukal, dan gingiva. Cytobrush dibasahi dengan aquades kemudian diusap memutar pada daerah yang ditentukan. Hasil usapan tadi diusapkan pada gelas obyek yang telah diberi label secara merata kemudian direndam dalam alkohol 96% untuk fiksasi.

Setelah preparat apusan jadi, langkah selanjutnya adalah pengecatan. Preparat direhidrasi dengan cara merendam gelas obyek dalam alkohol 90%, 80%, 70%, 50%, 30%, dan terakhir dalam aquades, dilakukan selama 1 menit dalam tiap-tiap larutan. Selanjutnya preparat direndam dalam larutan Harri’s haematoxylin selama 5 menit kemudian dicuci di bawah air mengalir selama 10 menit. Preparat kemudian didehidrasi dengan cara merendam gela sobyek dalam alkohol 30%, 50%, 70%, 80%, 90%, dan 96%, masing-masing selama 1 menit. Preparat diletakkan di atas alas datar, ditetesi zat warna Orange G-6, dibiarkan selama 3 menit, dan dibilas alkohol 95% sebanyak 3 kali. Preparat kemudian dipulas dengan zat warna E. A 50 dan dibiarkan 6 menit kemudian dibilas alkohol 96% sebanyak 3 kali. Preparat dimasukkan ke dalam alkohol absolut tiga kali berturut-turut, masing-masing selama 3 menit kemudian dikeringkan dengan kertas saring. Kemudian preparat dimasukkan ke dalam larutan xylol I, II, III masing-masing selama 5 menit. Terakhir preparat dimounting dengan balsam canada dan diamati dengan mikroskop cahaya menggunakan perbesaran 400x. Sel dihitung sesuai jenisnya yaitu sel basal-parabasal, sel intermediate dan sel superfisial menggunakan 100 buah sel yang tidak saling tumpang tindih dengan kriteria masing-masing sebagai berikut :

Tabel 1. Kriteria Penilaian Jenis-Jenis Sel

Sel basal-parabasal Sel Intermediate Sel Superfisial
Berwarna biru hingga biru tua; bentuk bulat atau oval; inti sel bulat atau oval. Berwarna biru atau merah muda; bentuk poligonal, bulat atau oval; inti bulat atau oval. Berwarna orange; bentuk poligonal kadang bulat atau oval; inti bulat atau piknotik, kadang tanpa inti.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 2. Hasil Penghitungan Jenis-Jenis Sel

Lokasi Apusan Jenis Sel
Superfisial Intermediate Basalis
GingivaPalatum Durum

Palatum Molle

Mukosa Bukal

Mukosa Labial

Lidah

Dorsum Lidah

14%9%

37%

11%

23%

20%

23%

85%89%

44%

83%

75%

77%

68%

1%2%

19%

6%

2%

3%

9%

PEMBAHASAN

Seperti yang dapat dilihat pada tabel 2, mayoritas sel yang terdapat pada masing-masing mukosa adalah sel intermediate, kemudian sel superfisial, dan yang paling sedikit adalah sel basal. Hasil ini sesuai dengan teori Balaciart (2004) yang menyatakan bahwa sel terbanyak yang biasa ditemukan pada mukosa oral yang normal adalah intermediate sel dan bukannya basal-parabasal sel. Hal ini terjadi karena aktivitas proliferasi pada epitel mulut yang normal tampak lebih banyak terjadi pada lapisan intermediet daripada sel basal-parabasal maupun sel superfisial (Maidhof, 1979).

Dari data di atas juga dapat dilihat bahwa persentasi jumlah sel-sel superfisial lebih besar daripada sel-sel basal. Hal ini tidak sesuai dengan teori Naib (1970) yang menyatakan bahwa pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel pada lapisan sel basal. Selain itu, konsep homeostasis sel epitel mengindikasikan bahwa produksi sel di lapisan  yang lebih dalam seimbang dengan derajat kehilangan sel di lapisan permukaan (Puspitawati, 2003). Ketidaksesuaian ini tidak selalu menunjukkan keabnormalan karena hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor misalnya kurangnya ketelitian praktikan dalam menghitung jumlah sel, kesalahan dalam menentukan lapang pandang, atau kesalahan dalam pembuatan preparat misalnya apusan terlalu tipis sehingga hanya mengandung sedikit sel (Lusa, 2009).

KESIMPULAN

  1. Epitel mukosa oral dibentuk oleh sel-sel yang memiliki karakteristik berbeda di tiap lapisannya
  2. Cara pembuatan preparat apus dapat mempengaruhi hasil penghitungan jumlah sel
  3. Penghitungan jumlah sel dapat digunakan untuk mengetahui keabnormalan serta menunjukkan indeks maturasi suatu jaringan.
  4. Praktikum ini dapat membuktikan teori proliferasi pada epitel mulut yang normal tampak lebih banyak terjadi pada lapisan intermediet daripada sel basal-parabasal maupun sel superfisial.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell Neil, et al. 2004. Biologi. Edisi Kelima. Jilid III. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Puspitawati Ria. 2003. Struktur Makroskopik dan Mikroskopik Jaringan Lunak Mulut. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia; 10 (Edisi Khusus) : 462-467.

Lesson C, et al. 1990. Mempersiapkan Jaringan dalam Buku Ajar Histologi. Edisi V. Jakarta. EGC. Hal 7-8.

Naib Z M. 1970. Exfoliative Cytophatology. 2nd Edition. Boston. Little Brown and Company.

Lusa. 2009. Pap Smear. http://www.lusa.web.id/pap-smear/. (diunduh tanggal 25 Oktober 2009)

Balaciart Daniel. 2004. Evaluation of Keratinization and Agnors Count in Exfoliative Cytology of Normal Oral Mucosa from Smokers and Non-Smokers. MED ORAL 2004;9:197-203.

Maidhof R dan Hornstein 0 P. 1979. Autoradiographic Study and Some Prolerative Properties Of Human Buccal Mucosa. Arch. Dermatol. Res., 265: 165-172.

About these ads

4 responses

  1. Ping-balik: Praktikum Biologi Sel « santashandianna

  2. selain apus cervical tampak sel epitel superfisial, sel intermedier, kelompok dan lipatan cukup banyak banyak sel lekosit pmn sel histiosit dan sel endocervical artinya apa ya … tindakan selanjutnya untuk saya apa ya unutuk pencegahan terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s