Hidup di Perantauan

Awal mula hidup di rantau, aku merasa selalu curiga pada setiap orang. Aku takut ditipu karena disini terasa serba asing. Maka dari itu aku selalu waspada. Aku juga menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, which is ngga aku kenal sama sekali. Mimpi pun tidak aku bisa bersekolah di Jogja. Tapi kini, mau ngga mau harus aku jalani.

Aku ngga pernah membayangkan akan hidup jauh, untuk waktu yang sangat lama, dari orangtuaku. Kemudian aku baru menyadari, bukan hanya hidup jauh untuk waktu yang lama, namun dengan hidup di kos ini berarti berakhir sudah kehidupanku bersama kedua orangtuaku. maksudku, aku harus mulai hidup sendiri dan mandiri. Setelah aku lulus kuliah, jika menikah dan tinggal bersama suamiku, berarti aku udah ngga bisa lagi serumah dengan mama dan papa. Jadi inilah awal dari segala urusannya. Well, memang ngga usah mikir sampai menikah dulu. Hidup di kos ini dulu!

Untungnya aku dididik mandiri oleh mama dari kecil. Aku juga mensyukuri sedikit bakat memasak yang aku miliki karena ternyata bermanfaat juga dalam bertahan hidup di negeri yang asing ini. Hanya ada satu kendala. Sampai saat ini aku belum pandai mengatur uang. Aku kelimpungan. Hampir setiap mendekati akhir bulan aku selalu minta tambahan uang. Belum lagi tambahan uang yang aku minta untuk membeli alat – alat praktek. Papa selalu mengabulkan.

Hanya saja aku mulai berpikir. Aku ngga bisa selamanya seperti ini. Boros. Uang keluar seperti sungai mengalir. Maka aku mulai membuat perencanaan dana. Memang belum berhasil. Tapi aku pasti akan menemukan caranya! Aku harus bisa hidup dengan uang yang diberikan saat awal bulan dan harus ada sisa untuk kutabungkan!

Ada beberapa kegembiraan kecil yang kuperoleh dengan hidup kos. Aku bisa bebas pergi dan pulang jam berapapun tanpa harus menghadapi interogasi panjang. Namun biar begitu, ngga lantas aku selalu keluar rumah dan pergi ke tempat – tempat ngga jelas. Aku cukup tau diri dan aku sebenarnya tidak terlalu suka pergi.

Kamar kos adalah dunia kecilku. Rumah pertamaku ( walaupun hanya sewa ). Habitat sehari – hariku. Aku terkenal sebagai pemilik dari sebuah kapal pecah di rumah. Dalam artian, aku ngga bisa membuat kamarku rapi karena selalu saja berantakan seperti kapal pecah. Hal inipun, dengan sangat malu kuakui, masih saja kuterapkan di kos. Aku tipe orang yang menyukai kebersihan dan keteraturan sebenarnya. Namun ada satu keburukanku. Aku selalu harus menunggu “wangsit” kalau hendak beres – beres. Jadi ngga jarang kamar tidurku akan berantakan selama 1 atau 2 minggu. Setelah aku ngga bisa lagi menemukan jalan dari pintu menuju tempat tidurku, yang mana letaknya berseberangan dengan pintu, baru kubereskan kamarku itu. Sampai kemudian aku berteman akrab dengan salah seorang teman kos dan dia mengajariku cara membereskan kamar yang praktis. Sekarang kamarku rapi berkilauan!

Masalah lain adalah mengenai baju! Bukan! Bukan tentang mencuci dan menyetrika baju! Aku bisa kalau itu. Yang menjadi masalah adalah, dari dulu aku buta fashion! Maklum, aku anak tunggal yang ngga begitu suka nonton tivi atau membaca majalah. Mama juga ngga begitu paham dengan model – model yang sedang in. Buat mama,

“ Pakaian itu  yang penting muat di badan kamu!”

Jadi disinilah aku, terdampar di negeri asing, tanpa pengetahuan tentang fashion yang memadai, padahal setiap hari aku kuliah dengan baju bebas, dan aku berkuliah di tempat orang – orang dengan baju super keren dan pengetahuan tentang fashion yang luas. Setiap hari buatku adalah bad clothes day. Aku ngga bisa memadupadankan pakaian dengan layak! Dan lagi, aku ngga begitu punya banyak baju bagus karena selama 9 tahun plus 1 tahun di kebidanan, aku selalu memakai seragam. Aku jarang keluar jadi aku otomatis ngga punya banyak koleksi baju bagus. Huwaaah…

Setiap hari sebelum kuliah aku selalu bertapa di depan lemariku, memandangi tumpukan bajuku, melirik gantungan jilbabku. Berusaha keras memutuskan akan memakai baju apa. Sampai kemudian  menemukan baju yang akan kupakai setelah mengambil secara acak. Baju yang akan kupakai ini secara garis besar hanya kunilai dari sudut pandang keserasian warna. Walaupun kadang tidak ada keserasian, namun aku berpendapat bahwa baju akan terlihat bagus kalau yang memakainya merasa enjoy kan?!

Kemudian adalah masalah makan. Menyusun menu adalah hal kedua dalam hidupku yang ( masih saja ) sulit aku lakukan setelah memilih pakaian. Namun selain itu sebenarnya masalah ini kerap kali dihubung – hubungkan dengan ketersediaan uang dan berkaitan erat dengan keborosan yang kulakukan. Aku semakin bebas menentukan menu untuk makan dan seringkalinya aku ngga lagi memperhatikan 4 sehat 5 sempurna ( denger – denger sekarang namanya berubah menjadi makanan dengan gizi seimbang! ).

Aku masak nasiku sendiri karena, kata temanku, warung disini lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Jadi nasi yang dimasak kadang keras. Entah karena kurang air atau memang terburu – buru masaknya. Jadi aku mengalah dengan membeli rice cooker sendiri.

Aku memang tangguh! Aku bisa hidup mandiri! Namun aku juga punya kelemahan. Sakit. Iya aku tau semua orang juga sakit! Tapi aku ini kalau sedang sakit udah terbiasa selalu ingin dekat dengan mama. Jadi aku sering sekali menangis kalau aku sakit. Aku pasti memanggil – manggil mama dan memeluk gulingku sebagai esensi pengganti mama. Ironis memang. Tapi ngga mungkin aku menelepon mama dan menangis. Malu. Maka yang biasa aku telepon adalah pacarku. Aku menelepon dan menangis. Dia hanya bisa menenangkan sambil ( mungkin ) geleng – geleng kepala.

Beginilah hidup di perantauan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s