PENGARUH RANGSANG BERKUMUR, MENGUNYAH DAN STIMULASI KIMIA TERHADAP SEKRESI SALIVA

ABSTRACT

Secretion of gl. salivary, according to Amerongen (1991), can stimulate by mechanical stimulation (mastication), chemical (sour, sweeot, salty, bitter, hot), neuronal (sympathic and parasympathic), psychological and also pain. The aims of this study were to understand about the effect of gargling, mastication and chemical stimulation to salivary secretion. This study were divide into 2 steps, first was to collect unstimulated saliva by collect it on the oral cavity in 5 minutes. Then the second was to collect stimulated saliva by gargling for a minute, mastication (apple and banana) for 5 minutes and sitrat acid stimulation by drop it to the tongue. The sample of saliva was collected in 15 minutes interval for each experiment and subject was on stand up position. The volume of those sample were measured by a spuit injection and the pH were measured by pH meter. Stimulated saliva gave the biggest volume (in sequence: banana mastication: 1.46 mL, sitrat acid stimulation: 1.37 mL, gargling stimulation: 1.25 mL and apple mastication: 1.025) while unstimulated saliva was the smallest. The result of measuring pH, unstimulated saliva has the lowest pH (7.07), follow by banana mastication (7.31), gargling stimulation (7.36), sitrat acid stimulation (7.42) and last apple mastication (8.13).

Kata Kunci : saliva, sekresi saliva, pH saliva, volume saliva

PENDAHULUAN

Saliva adalah sekresi eksokrin mukoserous berwarna bening dengan sifat sedikit asam, tidak berbau dan memiliki kekentalan bervariasi (Rantonen P, 2003). Total volume saliva yang dikeluarkan dalam satu hari mencapai 800-1000 ml dengan pH rata-rata 6-7 yang sangat dipengaruhi laju aliran saliva (Macphee and Cowley, 1975; Humprey dan Williamson, 2001). Sekresi saliva dikontrol oleh pusat salivasi di medulla yang terdiri dari salivary nuclei superior dan inferior (Burgen and Emmelin, 1961). Menurut Grant (1988), jalannya stimulus melalui jalur parasimpatik yang mengatur glandula parotis yaitu Nuklei salivatori inferior (Nervus glossopharyngeal, n. IX)→ nervus timpanicus→ ganglion oticum (Nervus auriculotemporalis) → kelenjar.

Sekresi kelenjar ludah, menurut Amerongen (1991), dapat dirangsang dengan cara-cara mekanis (mengunyah), kimiawi (rangsangan asam, manis, asin, pahit, pedas), neuronal (syaraf simpatis dan parasimpatis), psikis, serta rangsangan sakit. Sebagian rangsang kecap terutama rasa asam menimbulkan sekresi saliva dalam jumlah besar sampai 8-20 kali kecepatan sekresi basal (Guyton, 1995). Konsistensi makanan akan mempengaruhi kelenjar ludah dan selanjutnya pada jumlah dan susunan ludah. Penggunaan makanan cair yang menghilangkan daya pengunyahan akan mengurangi daya sekresi. Sebaliknya, makanan padat akan merangsang sekresi saliva secara mekanis (Amerongen, 1991).

Sekresi saliva mengandung imunoglobulin, sel darah putih, lipid, elektrolit dan enzim proteolitik (lisozim) sehingga dapat memberikan perlindungan alami untuk menjaga integritas gigi, lidah, dan membran mukosa oral dan area oropharingeal serta memberikan resistensi penting untuk penyakit periodontal (Burgen and Emmelin, 1961).

Susunan dan volume ludah sangat berubah-ubah dilihat dari segi keasaman (pH), elektrolit, dan protein yang ditentukan antara lain oleh

  1. Irama siang-malam

pH dan kapasitas bufer tinggi segera setelah bangun (keadaan istirahat), tetapi kemudian cepat turun, agak naik sampai malam tapi setelah itu turun.

b.  Diet

Diet kaya karbohidrat menurunkan kapasitas bufer, menaikkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut. Diet kaya sayuran dan protein menaikkan kapasitas bufer dan membangkitkan pengeluaran zat-zat basa seperti amoniak. pH akan tinggi seperempat jam setelah makan (stimulasi mekanik) tetapi biasanya 30-60 menit turun lagi.

  1. Rangsangan (tipe, intensitas, durasi, sifat dan kekuatan)

Keasaman (pH) ludah yang tidak distimulasi pada kecepatan sekresi rendah kurang lebih adalah netral (6,4-6,9). Sedangkan ludah encer dapat turun sampai di bawah 6,0. lainnya (keadaan psikis, kadar hormon, gerak badan, obat-obatan, umur, jenis kelamin). Rangsangan kimiawi pada lidah dapat mengaktifkan sistem saraf otonom, secara tidak langsung melalui sistem saraf sentral, sehingga kelenjar ludah dirangsang untuk sekresi. Kecepatan sekresi ludah parotis naik lima kali oleh larutan sitrun 1%. Asam sitrun dapat menggiatkan lintasan saraf secara refleks (Amerongen, 1991)

(Amerongen, 1991; Roth and Calmes, 1981).

Dalam sebuah jurnal penelitian disebutkan bahwa penyakit sistemik yaitu diabetes melitus (tipe 1) juga dapat mempengaruhi volume dan pH saliva. Menurut hasil penelitian penulis, pada pasien DM tipe 1 mengalami penurunan aliran saliva nonstimulasi. Keasaman (pH) salivanyapun rendah karena berkurangnya kapasitas bufer saliva. Hal inilah yang meningkatkan resiko karies pada pasien DM tipe 1 (Moreira et al, 2009).

Konsentrasi bikarbonat pada ludah istirahat adalah rendah sedangkan pada ludah yang dirangsang adalah tinggi. Kapasitas bufer ludah yang dirangsang terutama (85%) ditentukan oleh konsentrasi bikarbonat, untuk 14% ditentukan oleh konsentrasi fosfat dan 1% oleh protein ludah. Hal ini mengakibatkan pada kenaikan kecepatan sekresi, konsentrasi bikarbonat menjadi lebih tinggi dan dengan demikian pH juga menjadi lebih tinggi. Pada kecepatan sekresi yang rendah pH dapat turun sampai 6,0 karena semua bikarbonat praktis diresorbsi. Konsentrasi bikarbonat adalah sistem bufer yang terpenting dalam ludah dan berbanding lurus dengan kecepatan sekresi ludah; makin tinggi konsentrasi bikarbonat, makin tinggi pH dan kapasitas bufer dalam ludah (Amerongen, 1991).

Penurunan produksi saliva di dalam mulut dapat mengakibatkan mukosa oral kering, kasar, dan lengket, mudah berdarah dan mudah terjadi infeksi (Macphee and Cowley, 1975). Lidah menjadi merah, halus, lemah, hipersensitif terhadap iritasi serta kehilangan ketajaman pengecapan. Akan terdapat akumulasi plak, material alba dan debris yang parah. Progres karies akan menjadi cepat dan meluas, serta penyakit periodontal menjadi parah. (Burgen and Emmelin, 1961; Humprey dan Williamson, 2001).

Praktikum ini dilaksanakan dengan tujuan agar mahasiswa mampu memahami pengaruh rangsang berkumur, mengunyah dan stimulasi kimia terhadap sekresi saliva.

BAHAN DAN CARA

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu bahan kumur aquabides, pot saliva, pH meter, stopwatch, tissue, buah apel dan pisang, spuit injeksi, dan tissue. Praktikum dilaksanakan dalam 2 percobaan yaitu tanpa stimulasi dengan mengumpulkan saliva dalam rongga mulut selama 5 menit, dan dengan stimulasi yaitu:

  1. Stimulasi berkumur dengan aquabides selama 1 menit,
  2. Stimulasi mengunyah apel atau pisang selama 5 menit,
  3. Stimulasi asam sitrun dengan meneteskannya pada lidah

Keempatnya (tanpa stimulasi, berkumur, mengunyah apel atau pisang, asam sitrun)  dilakukan dalam interval waktu 15 menit dan posisi subyek berdiri tegak lurus lantai. Saliva ditampung dalam pot saliva masing-masing selama 1 menit, kemudian volumenya diukur menggunakan spuit injeksi dan diukur pH-nya dengan pH meter. Hasilnya dicatat dan dianalisa.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Rata-rata hasil percobaan

No Jenis stimulasi Volume (mL) pH
1 Tanpa stimulasi 0.49 7.07
2 Stimulasi berkumur 1.25 7.36
3 Stimulasi pengunyahan (apel) 1.025 8.13
4 Stimulasi pengunyahan (pisang) 1.46 7.31
5 Stimulasi asam sitrun 1.37 7.42

PEMBAHASAN

  1. Volume saliva

Hasil percobaan menunjukkan volume saliva tanpa stimulasi merupakan volume terbanyak, diikuti oleh stimulasi pengunyahan pisang, stimulasi asam sitrun, stimulasi berkumur dan yang paling sedikit adalah stimulasi pengunyahan apel. Hal ini sesuai dengan pernyataan mengenai sekresi kelenjar ludah menurut Amerongen (1991), yaitu bahwa sekresi kelenjar ludah dapat dirangsang diantaranya dengan cara-cara mekanis (mengunyah), kimiawi (rangsangan asam, manis, asin, pahit, pedas), neuronal (syaraf simpatis dan parasimpatis), psikis (stres akan menghambat sekresi, sedangkan ketegangan dan kemarahan akan menstimulasi sekresi), serta rangsangan sakit.

  1. Keasaman (pH) saliva

Hasil pengukuran pH saliva percobaan, yang paling asam adalah saliva tanpa stimulasi, kemudian stimulasi pengunyahan pisang, stimulasi pengunyahan apel, stimulasi berkumur dan stimulasi asam sitrun pHnya paling tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya ion bikarbonat yang berfungsi sebagai buffer. Amerongen (1991) menyatakan bahwa konsentrasi bikarbonat pada ludah istirahat adalah rendah sedangkan pada ludah yang dirangsang adalah tinggi. Hal ini mengakibatkan pada kenaikan kecepatan sekresi, konsentrasi bikarbonat menjadi lebih tinggi dan dengan demikian pH juga menjadi lebih tinggi.

Pada percobaan pengunyahan, terdapat perbedaan volume dan pH. Pengunyahan pisang menghasilkan volume yang lebih tinggi daripada pengunyahan apel. Hal ini berkaitan dengan tingkat keasaman saliva itu sendiri karena pada pengunyahan pisang yang mengandung karbohidrat akan menaikkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri dan menurunkan kapasitas bufer mulut, sehingga pH saliva pun akan menjadi lebih asam daripada pH saliva pengunyahan apel. Hal ini akan memberikan kompensasi berupa sekresi saliva yang meningkat untuk menetralkan asam dalam mulut (fungsi buffer saliva).

KESIMPULAN

  1. Hasil pengukuran volume saliva didapatkan hasil yang sesuai dengan teori bahwa sekresi kelenjar ludah dapat dirangsang diantaranya dengan cara-cara mekanis (mengunyah) dan kimiawi (rangsangan asam, manis, asin, pahit, pedas).
  2. Terdapat hubungan yang berbanding lurus antara volume dan pH saliva terkait dengan fungsi saliva sebagai buffer karena mengandung ion bikarbonat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s