MENJELASKAN DAN MEMAHAMI HASIL BERBAGAI METODE INVESTIGASI ATAU PEMERIKSAAN ADANYA GANGGUAN ATAU KELAINAN KELENJAR SALIVA

  1. PEMERIKSAAN UMUM

Dapat dilakukan melalui pemeriksaan ekstra dan intraoral dengan :

  1. Inspeksi: untuk melihat adanya pembengkakan (Cawson, 2008), membedakan infeksi kelenjar saliva dengan infeksi gigi (Topazian, 1987), dll
  2. Palpasi: menemukan adanya batu pada ductus kelenjar saliva, menentukan karakteristik pembengkakan (letak, bentuk, tekstur, konsistensi) (Cawson, 2008).

2. PEMERIKSAAN KHUSUS

a. Imaging

  • Plain radiografi: identifikasi kalkuli dalam kelenjar saliva, tumor kelenjar saliva
  • Sialografi: untuk mengetahui derajat kerusakan kelenjar saliva akibat infeksi dan sialadenitis. Digunakan pula untuk deteksi striktur, benda asing atau calculus dan abses parenkimal yang luas
  • Computerized Tomography (CT): untuk mendefinisikan struktur jaringan lunak
  • MRI: untuk melihat lesi jaringan lunak
  • Ultrasound: untuk melihat pembentukan massa dan kista jaringan lunak, bermanfaat pada pemeriksaan kista kelenjar ludah, Sjogren syndrome, dll
  • Scintigrafi: untuk memvisualisasikan tipe khusus sel, dengan technetium 99m dapat mengetahui fungsi masing-masing kelenjar saliva

(Cawson, 2008; Topazian, 1987)

b. Histopatologi

Pengambilan spesimen jaringan dengan teknik biopsi untuk mendiagnosa penyakit mukosa, jaringan lunak dan tulang. Kegunaan:

  • Melihat lesi, kerusakan sel karena virus, pertumbuhan neoplasma, malignasi,  hipertrofi sel, oedema jaringan ikat intersisial (Cawson, 2008).
  • Akumulasi sel limfosit, atrofi sel asinar kelenjar ludah, melihat adanya perubahan sifat morfologi struktur asinar, melihat pertumbuhan jaringan ikat disekitar duktus pada penderita fibrosis kistik (Amerongen, 1988).

c. Pemeriksaan Laboratoris

  • Pengecatan: umum digunakan pengecatan Haematoxylin eosin, misalnya untuk melihat sitoplasma tumor pada tumor kelenjar saliva (eosinofilik) (Cawson, 2008).
  • Immunofluorescent dan immunohistochemical staining: mewarnai molekul spesifik pada jaringan dengan menggunakan teknik antigen-antibody binding. Misalnya untuk melihat sel myoepithelial pada pleomorphic adenoma (Cawson, 2008), memeriksa kandungan HLA-DR yang berperan penting dalam patogenesis penyakit autoimun pada penderita Sjogren’s syndrome (Amerongen, 1988).
  • Serologis: untuk mengetahui keadaan serum amylase, laju sedimentasi eritrosit (Topazian, 1987)
  • Sialochemistry: mengukur sodium, klorit, fosfat, albumin dan imunoglobulin pada infeksi kelenjar saliva mayor (Topazian, 1987)
  • Histokimiawi: mengetahui perubahan biokimia yang menunjukkan adanya perubahan susunan membran plasma (Amerongen, 1988)

d. Tes biologi molekuler : untuk melihat dan mengidentifikasi abnormalitas genetik, identifikasi bakteri dan virus. Misalnya dengan menggunakan PCR (Cawson, 2008).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s