kemarahan yang absurd

saya merasakan kemarahan yang absurd..aneh dan mungkin tidak pada tempatnya. ini berkaitan dengan kejadian di yogyakarta akhirakhir ini. yup! bencana merapi.

saya tidak ingin menyalahkan siapapun karena ini memang bukan kesalahan. namun entah mengapa saya merasa sangat marah pada beberapa orang. seperti status saya beberapa waktu yang lalu:

saya tak mengerti..mengapa ada yang mendengar panggilan dan ada yang tidak (ataukah pura-pura tidak mendengar?)..padahal kami semua sama-sama manusia.. 

dan saya tak mengerti mengapa saya merasa marah kepada mereka yang tidak mendengar..semoga Allah meredakan amarah saya.. ;(

menjadi relawan adalah masalah “mendengar” dan “tidak mendengar” panggilan kemanusiaan. jadi hal tersebut tergantung pada sensitifitas “telinga hati” masing-masing manusia. maka dari itu sebenarnya saya tidak berhak marah ataupun kesal kepada teman-teman yang memilih pergi dari jogja, juga teman-teman yang berdiam diri di dalam rumah menikmati “liburan” karena kampus ditutup. tapi saya marah.

kemarahan yang absurd yang seharusnya tidak boleh ada.

bukan. saya marah bukan karena saya berada dalam posisi relawan. tapi saya marah karena sebagian besar teman-teman saya, yang notebenenya menuntut ilmu di bidang yang nantinya mengharuskannya mempunyai jiwa sosial, malah cenderung tidak peduli. ada juga yang ingin membantu tapi harus sesuai dengan bidang yang dipelajarinya, kesehatan. ada yang ingin membantu tapi menunggu “situasi aman”.

ada-ada saja.

sedangkan saya melihat keadaan teman-teman relawan saya yang staminanya mulai menurun. rela tidak pulang (dan mandi) berhari-hari. kelelahan dan kejenuhan. hanya demi mengurusi orang-orang yang bukan siapa-siapa mereka. sementara teman-teman saya yang lain hanya diam. sibuk dengan salon, mall, magnum.

mereka seharusnya malu, beberapa hari yang lalu kami kedatangan relawan yang rela jauh-jauh datang dari cepu, jakarta, dll. tapi yang di dalam jogja hanya diam atau malah pergi dari jogja.

mungkin karena saya berada di tempat kejadian, dan di tempat lain di luar TKP semua kehidupan berjalan normal, dan saya tidak melihat itu. dan mungkin juga mereka sudah membantu dalam bentuk bantuan lain. tapi yang jelas saya kecewa. kecewa dengan teman-teman saya.

seorang dosen saya yang datang meninjau lokasi bahkan berkata:

“ayoo bangunkan temen-temen kamu yang lagi malas-malasan! temen-temenmu malah pada kabur ya!”

saya tersenyum simpul, memaklumi kemarahannya.

kemarahan saya ini belum sempurna terungkapkan. saya ingin bicara. saya ingin mengeluh. saya ingin kemarahan saya didengarkan. oleh seorang teman atau siapapun. saya ingin ditemani agar kemarahan saya ini tidak menjadi permanen. karena jujur saja, saat ini saya merasa muak berhubungan dengan teman-teman saya.

saya ingin bicara kepada seseorang.

kepada para relawan gelanggang, saya menyanyikan Hymne Gadjahmada untuk kalian, sebagai bentuk penghormatan saya kepada kalian, baik para mahasiswa dan alumni UGM, maupun para relawan dari luar UGM. saya salut. saya terharu dan saya berterima kasih kepada kalian semua. semoga amal kita dinilai sebuah ibadah oleh Allah dan diberi pahala setimpal.

terima kasih.

maaf, bukan bermaksud menyindir..tapi kemarahan pasti menimbulkan sindiran yang tajam..

salam

yogyakarta, 16.11.10

belindch

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s