diagnosis tanpa anamnesis

ini adalah pengalaman yang sangat mengesalkan dan mengecewakan dalam hidup saya berkaitan dengan kinerja beberapa orang dokter di sebuah rumah sakit. memang sih saya tidak mengetahui SOP di RS tersebut. tapi sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi yang juga diajarkan mengenai langkah-langkah pemerisaan pasien, saya benar-benar dibuat kecewa. ceritanya siang ini saya pergi ke RS tersebut untuk memeriksakan salah satu bagian yang bermasalah dari tubuh saya. setelah mendaftar, saya diminta ke bagian yang menangani kasus-kasus seperti yang saya derita. saya menyerahkan RM (rekam medik) ke administrasi bagian tersebut. saat itu saya menyebutkan masalah saya dan ditanya apakah saya membawa foto rongent oleh seorang co-as (sarjana kedokteran yang mengambil program profesi u/ mendapatkan gelar dokter). setelah menunggu sebentar, co-as tersebut keluar dari ruang periksa dan menyerahkan memo kepada saya. memo itu berisi pesan kepada bagian radiologi untuk mengambil foto rongent terhadap saya. di dalam memo tersebut juga sudah tertulis diagnosis untuk saya.

sampai di saat itu saya benar-benar tercengang. how could the doctor diagnose me?? padahal ketemu muka juga belum, anamnesis (tanya jawab seputar pasien, keluhan, riwayat kesehatan, dll) juga belum dan kebetulan saya sedikit mengerti tentang keluhan saya, dan diagnosis yg diberikan sedikit kurang relevan dengan penyakit yang saya derita. maka dari itu saya datangi coo-as tadi dan menanyakan, benarkah saya harus mengambil foto ini krn diagnosisnya tidak mungkin terjadi pada saya mengingat keadaan saya? dan co-as tadi kembali ke ruang periksa dan menanyakan kepada dokter yang sama. dia kembali dengan memo yang tadi, diagnosis awal dicoret dan diganti dg diagnosis baru (yg juga saya perkirakan sbg penyakit saya) tapi tindakan fotonya tetap. baiklah saya mengalah, saya pun foto, kemudian diperiksa oleh dokter. sampai sini kekecewaan saya terobati sih. dokter yang memeriksa saya beda dengan yang meresepkan foto rongent tadi, dan dokter yang ini terlihat lebih oke.

begitulah kira-kira pengalaman saya, so, being a patient must be aware. bukannya kita tidak yakin, tapi sebaiknya tetap kontroling karena siapa tau dokter lupa melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, seperti melakukan anamnesa (yang merupakan kunci penting juga dalam diagnosa), dokter toh manusia juga.🙂

salam sehat,

semarang, 11 feb 2011

-belindch-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s