kepadamu, lelaki pilihan Allah

Dear my future husband,

Aku menulis ini sebelum aku tau siapa dirimu, bagaimana rupamu, atau bahkan dimana dirimu sekarang. Surat ini aku tulis untuk kau baca nanti, saat kau telah berhasil “memintaku” dari orangtuaku, saat kau telah “menerimaku” sebagai sesuatu yang kau sebut sebagai istri.

Siapapun engkau nanti, aku akan sangat menghargaimu sebagai seorang lelaki pilihan Allah. Lelaki yang telah dituliskan sebagai jodohku bahkan jauh sebelum aku atau kamu tercipta. Siapapun dirimu nanti, engkaulah lelaki yang Allah pilihkan untukku.

Sayangku, ada banyak hal yang nanti akan kita bagi bersama. Sebelumnya ketahuilah bahwa aku mungkin bukanlah manusia sempurna seperti yang kau inginkan. Ada kalanya kau nanti akan kecewa. Tapi sebelum kau bermuram durja, maukah kau menunduk sejenak dan merenung bahwa kau juga mungkin tak sesempurna bayanganku? Maka dari itulah Allah menyatukan kita, agar aku menyempurnakanmu dan kamu menyempurnakanku.

Sayangku, taukah kau begitu lama aku menunggu? Begitu keras aku berusaha menyiapkan diriku, memperbaiki ini itu, agar nantinya aku pantas bersanding denganmu. Ah Sayang, tidaklah seorang pria yang baik-baik, sepertimu, melainkan untuk wanita yang baik-baik pula, kuharap aku bisa begitu. Tapi Sayangku, “baik” bukanlah hasil. “Baik” adalah proses. Bagaikan sebuah roda, sifat baik pun akan begitu labil. Maukah kau, bersediakah kau mengingatkan aku jika sedikit saja aku lengah dari “baik” itu? Menasehatiku dengan bijaksana dan lembut? Karena sungguh aku memang keras kepala, namun hatiku tetaplah wanita yang lemah akan kelembutan.

Sayangku, jika nanti ada satu atau dua yang membuatmu tak berkenan padaku, tolong katakanlah! Katakanlah jika sayur yang kumasak kurang asin, lauk yang kugoreng terlalu gosong, atau teh yang kubuat untukmu terlalu manis. Katakanlah jika hasil cucian dan setrikaanku kurang wangi, kurang bersih, kurang rapi. Katakanlah jika dandananku terlalu menyolok atau malah kurang bagus. Sungguh katakanlah Sayang! Karena ridhomu adalah bahagiaku.

Sayangku, aku akan menyukai bangun di pagi hari dan melihatmu masih tertidur. Semoga tak akan pernah sekali pun kau bangun lebih awal daripada aku. Aku yang akan membangunkanmu, memasak sarapan untukmu dan mengantarmu sampai ke depan rumah sebelum kamu berangkat kerja.

Sayangku, aku akan menyukai pulang ke rumah dengan pintu masih terkunci. Semoga tak akan pernah sekali pun kau pulang lebih awal daripada aku karena itu akan berarti aku lebih sibuk daripadamu. Tidak! Pekerjaanku, karirku hanyalah sebagai pengisi waktu luang. Memanfaatkan hidup dan ilmu yang telah kudapatkan. Aku takkan mengambil pekerjaan lebih banyak darimu agar aku bisa tetap memasakkan makan malam, bermain dengan anak-anak kita, dan menyambutmu pulang setelah seharian bekerja.

Sayangku, aku akan menyukai melihatmu duduk sambil membaca koran di ruang keluarga. Sesekali menyeruput segelas teh hangat dan sepiring camilan yang kubuatkan untuk menemanimu membaca. Aku juga senang kamu tidak suka merokok, menjauhkan rumah kita dari polusi udara menjengkelkan itu. Lalu selesai dengan koranmu, kau akan mengajakku berbincang sampai waktu istirahat tiba.

Ah, menyenangkan sekali.

Sayangku, dimanapun kau berada saat ini, siapapun dirimu, semoga kita dipertemukan dalam iman Islam dan tetap istiqomah dalam menjalani kehidupan rumah tangga di dalam naungan cintaNya.

Sayang, semoga kau tidak lupa untuk menjemputku. Jangan terlalu lama ya.🙂

 

Salam sayangku,

Your future wife

 

diikutkan dalam proyek sujodku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s