aku dan jilbabku

jilbab pinkpost ini aku buat untuk menjawab pertanyaan teman-teman seputar perubahanku akhir-akhir ini. mungkin tidak penting, tapi aku ingin memuaskan diri dengan sedikit bercerita berbagi pengalaman.

aku mengenal jilbab sejak kecil. dari jaman masih suka ke TPA. dulu aku menyebutnya kerudung. aku pakai kerudung hanya saat TPA dan lebaran saja. itu pun nggak betah. panas dan bikin kepala gatal.

aku belajar pakai jilbab segiempat dari tanteku. dia memberikan satu tips praktis menyematkan peniti di bawah dagu dan sampai sekarang aku selalu memakai jilbab dengan cara itu.

aku nggak pernah kepikiran pakai jilbab, terus terang aku jarang sekali membaca alquran apalagi tau maknanya. keinginan pakai jilbab itu muncul secara tiba-tiba saat aku duduk di bangku kelas 2 SMA. setelah melakukan perbincangan seru dengan guru agamaku, pak masykur namanya. saat itu juga sepertinya aku ingin sekali memakai jilbab. langsung saja aku utarakan keinginanku kepada kedua orangtuaku. tapi apa dikata? mereka menolak. mama bilang aku orang yang mudah bosan. mama takut nanti aku lepas-lepas lagi jilbabku. belum lagi solatku masih bolong-bolong. saat itu aku hanya punya argumentasi: jika aku pakai jilbab, sepertinya akhlakku otomatis akan terbaiki. tapi penolakan mama justru membuatku semakin malas solat. aw..

lalu keputusan itu datang. bulan oktober 2006. aku ingat saat itu aku diundang seorang kawanku, mimma mustika sari, ke rumahnya untuk menghadiri acara makan-makan ulang tahunnya. sebenarnya itu acara arisan ibunya, tapi kami disuruh datang, nebeng makan. hihihi.. entah apa sebabnya saat itu aku memutuskan untuk memakai jilbab dan keputusan itu akan kulakukan seterusnya. malamnya aku berbincang dengan kedua orangtuaku. mereka meng-acc proposal pemakaian jilbabku. jadilah aku muslimah berjilbab sejak saat itu.

aku tak pernah absen pakai penutup kepala itu. baik yang langsung (bergo) maupun yang segiempat. penutup kepala? ya, karena saat itu aku memakainya hanya sebatas untuk menutupi kepala dan leher. aku belum mengerti benar syarat-syarat berjilbab seperti yang diperintahkan Allah. lalu aku pindah ke jogja.

jilbab lucu

di jogja, aku masih setia mengenakan penutup kepalaku. aku lebih suka memakai yang langsungan daripada segiempat. saat-saat tertentu aku merasa ingin nakal dan bepergian tanpa mengenakan jilbabku. ah, tapi ternyata rasanya tak nyaman. merasakan angin membelai rambut dan leherku, ini sama seperti ditelanjangi. lalu aku kapok dan sudah tak pernah lagi melepas jilbabku. meskipun di kos aku masih sering bersliweran tanpa jilbab meskipun ada mas jaka (penunggu kos) di rumah atau waktu mengambil pesanan aqua di depan kos.

saat jilbab paris sedang in, aku meninggalkan jilbab langsunganku dan beralih ke jilbab segi empat.

aku resah saat KKN datang. itu berarti aku harus setia mengenakan jilbabku 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 8 minggu 2 bulan!!! aw.. tapi untunglah rumah pondokan kami dipisah laki-laki dan perempuan. itu pun aku masih merasa gerah dan malas memakai jilbab. kadang hanya dengan kaus lengan pendek dan celana panjang lalu berjilbab saja. teman-temanku sibuk menasehati (kebetulan 9 dari 11 teman sedesa KKNku adalah muslim dan kelima muslimahnya termasuk aku berjilbab). tapi aku kan memang keras kepala. tapi kata-kata seorang kawanku dalam ceritaku berikut membuatku termenung dan menangis dalam hati

saat itu awal-awal KKN ada hal yang menyebalkan kami. seorang warga gemar sekali memelototi kami seolah matanya ingin melubangi kami. saat ada acara kumpul warga, aku dan teman-teman wanita membicarakan si bapak itu. kami ketakutan dan merencanakan untuk bercerita pada beberapa warga serta meminta perlindungan mereka. tapi, entah sadar atau tidak, tiba-tiba cici (septiany pristiantari) menyeletuk,

tapi memang ya, sebaik-baiknya perlindungan adalah dari Allah

entah mereka sadar atau tidak, tapi aku terdiam. kata-kata itu begitu meresap dalam otak dan hatiku. sudah ratusan kali aku mendengar kalimat itu, tapi entah mengapa malam itu cuplikan ayat tersebut membuatku merasakan sesuatu, rasa bersalah, malu, hina, dan tekad memperbaiki diri.

esoknya aku memperbaiki cara berpakaianku. aku memperbaiki solatku. senang saat cici dengan bangga mengatakan, “nah kalau gitu kan kamu cantik bel! aku suka deh ngeliat kamu rapi gitu” dia mengomentari bajuku, jilbabku yang panjang menutup dada. ada rasa haru. sungguh. tanpa dia sadari bahwa dialah yang berjasa membantuku memahami keseluruhan makna hidupku. dialah sebenarnya yang mengubahku menjadi aku yang seperti ini. bukan seorang ikhwan yang memang aku jatuh hati padanya. ya memang saat itu aku sedang mengagumi seorang ikhwan, dan kawan-kawanku mengira bahwa perubahanku, sikapku, akhlakku, adalah karena ikhwan itu. tapi sebenarnya bukan! perubahanku karena ayat yang dicetuskan oleh cici, kalimat Tuhan yang disadur secara tidak sengaja olehnya, seolah saat itu Tuhan memberikan energi penuh pada cici sehingga kalimatNya berhasil masuk dan mendobrak otak dan kesombonganku yang membatu.

demikianlah kisahku dan jilbabku. sampai sekarang aku senang sekali memakai jilbab. jilbab dan pakaianku sekarang benar-benar aku usahakan untuk menutup auratku, bukan lagi sekedar penutup kepala. dan ternyata memang dengan pakaian longgar dan jilbab yang besar membuatku semakin bebas bergerak tanpa khawatir akan ada bagian tubuhku yang tersingkap.

wassalamualaikum..

-belindch-

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s