nekrosis pulpa

Nekrosis adalah matinya pulpa. Dapat sebagian atau seluruhnya, tergantung pada apakah sebagian atau seluruh pulpa terlibat. Nekrosis meskipun akibat inflamasi dapat juga terjadi setelah injuri traumatik yang pulpanya rusak sebelum terjadi reaksi inflamasi. Nekrosis pulpa dapat disebabkan oleh injuri yang membahayakan pulpa seperti bakteri, trauma dan iritasi kimiawi (Grossman et al., 1995).

Nekrosis pulpa jarang menyebabkan prosedur kegawatdaruratan. Gigi yang kelihatan normal dengan pulpa nekrotik tidak menyebabkan gejala rasa sakit. Sering, diskolorasi gigi adalah indikasi pertama bahwa pulpa mati (Grossman et al., 1995). Meskipun kondisi kegawatdaruratan tidak terjadi, pasien dengan nekrosis pulpa harus segera dirawat karena kasus ini dapat menjadi akut dan lebih parah.  Biasanya kondisi ini pertama kali ditemukan dalam rontgen periapikal selama pemeriksaan radiograf atau ketika ditemukan pembengkakan atau distention pada jaringan periapikal selama pemeriksaaan dengan jari (palpasi). Radiograf biasanya menampakkan area radiolusen berkisar dari kepadatan dari ligament periodontal ke periapikal lesi yang luas. Jika apeks akar tertutup bucal plate tidak ada perubahan secara jelas pada periapikal. Gigi sudah tidak sensitif saat dilakukan perkusi, atau hanya sedikit sensitif, dan tidak memberikan respon pada tes vitalitas (Weine,2004).

Pulpektomi dengan debridemen yang sempurna merupakan pilihan perawatan yang dapat dilakukan. Jaringan harus dihilangkan dari saluran akar secara tuntas untuk mengurangi gejala dan mencegah proliferasi bakteri. Gigi nekrosis tanpa pembengkakan tidak memberikan respons terhadap stimuli, namun gigi tersebut terkadang masih mengandung jaringan terinflamasi vital di daerah apeks dan memiliki jaringan periradikuler terinflamasi yang menimbulkan nyeri (periodontitis akut). Oleh karena itu, anestesi lokal diberikan demi kenyamanan dan kerja sama pasien (Tarigan, 1994; Walton dan Torabinejad, 2002). Isolator karet dipasangkan, panjang kerja ditentukan dengan menggunakan electronic apex locator. Jika menggunakan instrument tangan, maka panjang kerja harus dikurangi 1 mm dari panjang gigi dan saluran akan dipreparasi 3 kali dengan menggunakan 3 instrumen yang lebih besar dari instrument pertama. Apabila panjang kerja tidak dapat ditegakkan sebagaimanamestinya, perkiraan panjang kerja pada perawatan kegawatdaruratan dapat dilakukan dengan menggunakan rontgen foto (Gutmann dkk. 2006).

Jaringan pulpa diambil menggunakan K-file yang sesuai dengan panjang kerja. K-file diputar searah jarum jam memasuki jaringan lunak hingga panjang kerja tercapai. K-file ditarik keluar bersama dengan jaringan nekrosis pulpa disekeliling K-file. Setelah pengangkatan jaringan lunak, H-file digunakan dengan gerakan sirkumferensial untuk menghilangkan sisa jaringan lunak dan menghaluskan dinding saluran akar. Instrumen putar juga dapat digunakan untuk mengangkat jaringan lunak dan debris ke koronal tanpa resiko terdorongnya debris ke apikal. Saluran akar tidak boleh diperlebar tanpa mengetahui panjang kerja (Dumsha dan Gutmann, 2000; Gutmann dkk. 2006).

Irigasi saluran akar menggunakan larutan natrium hipoklorit 2,6-5,25 % selama dan setelah pembersihan saluran akar, kemudian saluran akar dikeringkan dengan paper point. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan jaringan lunak yang tersisa, mencegah debris terdorong ke apex akar gigi, dan membunuh bakteri di saluran akar sehingga meminimalkan kegagalan perawatan (Dumsha dan Gutmann, 2000; Gutmann dkk. 2006; Tarigan, 1994; Walton dan Torabinejad, 2002).

perawatan saluran akar

perawatan saluran akar

 

Jika saluran akar cukup lebar, maka diisi dengan pasta kalsium hidroksida kemudian ditumpat sementara. Sejumlah klinisi menempatkan cotton pellet yang dibasahi medikamen intrakanal (Formokresol, CMCP, kresatin) di kamar pulpa sebelum penumpatan sementara, tetapi sebenarnya pemberian medikamen itu tidak bermanfaat (Dumsha dan Gutmann, 2000; Tarigan, 1994; Walton dan Torabinejad, 2002). Pasien dapat diberikan resep analgesik untuk meredakan nyeri, antibiotik tidak diindikasikan apabila prosedur dilakukan secara sempurna (Walton RE dan Keiser K, 2009).

referensi

Dumsha TC, and Gutmann JL. 2000. Clinician’s Endodontic Handbook. Lexi-Comp Inc.: Ohio. P. 137-139.

Grossman LI, Oliet S, Del Rio CE. 1995. Ilmu Endodontik Dalam Praktek (terj.). EGC: Jakarta. P. 82.

Gutmann JL, Dumsha TC, Lovdahl PE. 2006. Problem Solving in Endodontics. Prevention, Identification, and Management. Elsevier Mosby Inc.: St. Louis. P. 291-292.

Tarigan R. 1994. Perawatan Pulpa Gigi (endodoti). Edisi I. Widya Medika: Jakarta.

Torabinejad, M., and Walton, R.E., 2008, Endodontics: Principles and Practice, 4th edition, Elsevier Health Sciences, UK

Walton RE dan Keiser K. 2009. Endodontics Emergencies and Therapetics. In: Torabinejad M dan Walton RE (ed.):  Endodontics: Principles and Practice. Elsevier Saunders: St. Louis. P. 156-157.

Weine, F. S. 2004. Endodontic Therapy. Elsevier Mosby Inc.: St. Louis.

kontributor: mega cicilia, yosaphat bayu, ratna fitrianingrum

editor: belinda chandra hapsari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s