#fiksi – maafkan aku bunda

aku melangkah ke dapur dengan bimbang. sekali lagi aku menoleh kepada ayah yang sedang memperhatikanku dari ruang tamu. beliau mengangguk, berusaha meyakinkanku. rasa jirih dalam hati terasa kian menguat saat aku melihat sosok bunda sedang berdiri membelakangiku, sibuk memasak makan malam untuk kami.

” Bunda” panggilku ragu. bunda tak menyahut. rasa perih mengiris hatiku karena diabaikan. aku menggigit bibir bawahku dalam usaha agar tidak meneteskan air mata.

” Bunda, bunda masih marah padaku ya?” aku menarik napas, menunggu respon darinya. tapi bunda seolah tak mendengarkanku.

” Bunda, aku tau, menurut bunda aku salah. Aku minta maaf bunda!” bunda mengambil potongan sayur dari meja di sebelahku tanpa mengacuhkan aku dan kembali sibuk dengan masakannya. aku beringsut pelan di sampingnya.

” Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini, tapi aku sudah tak tahan jika bunda terus-terusan mendiamkan aku. aku sedih bun! aku merindukan bunda.”
” Kalau saja..” aku menelan ludah, memantapkan diri untuk melanjutkan, ” kalau saja Bunda bersedia mendengarkan aku sekali saja. aku tau bunda hanya menginginkan yang terbaik untukku, aku tau apa yang aku pikirkan belum tentu baik menurut bunda. tapi seandainya saja, seandainya saja bunda bisa melihatku sebagai seseorang. aku seorang manusia dewasa.  bunda tak bisa mencegah aku untuk bisa mempunyai pemikiran yang berbeda dengan bunda walaupun bunda tak suka. aku juga tak bisa memaksakan segala ideku agar bisa bunda terima dengan lapang dada. tapi aku punya pemikiranku sendiri bunda.

” mengapa bunda marah hanya karena kita berbeda pendapat? bukankah wajar perbedaan pendapat itu bunda? karena Tuhan telah menciptakan akal bagi manusia. bahkan orang kembar pun belum tentu punya pikiran yang sama. lalu mengapa bunda marah ika pemikiranku berbeda dengan pemikiran bunda?”

” Aku, maksudku..” aku tak dapat menemukan kata yang pas untuk mengungkapkannya. bunda mengambil mangkok dan menuang sayur masakannya ke dalam mangkok itu.

” Aku tak tau di mana salahnya bunda. itu hanya sekedar pemikiran! tapi aku tak dapat menahan diri untuk tidak mengungkapkan ideku. kalaupun akhirnya bunda tak setuju, kalau ternyata akhirnya bunda marah, aku tak pernah tau. dan aku tak pernah bermaksud membuat bunda marah. aku masih sangat muda bunda, aku hanya tau cara mengungkapkan sesuatu, aku hanya tau aku ingin melakukan sesuatu,

” Aku tak merasa pemikiranku salah bunda. hanya saja kalau akhirnya itu menyakiti bunda, membuat bunda kecewa, aku sungguh-sungguh minta maaf. aku sungguh sangat menyesal.” aku mengikuti bunda yang kini beralih ke meja makan. bunda meletakan mangkuk sayur kemudian menyeret keluar kursi dari bawah meja dan duduk dengan takzim. aku melirik ke ayah yang buru-buru menenggelamkan diri ke korannya lagi, pura-pura tak mendengarkan percakapan ini.

” Jadi ini hasil perenunganmu selama tiga hari?” tanya Bunda pada akhirnya. aku merasakan ayah mendongakkan kepalanya dari balik koran.

” Belum sepenuhnya bunda. aku masih merasa bahwa aku tidak salah. hanya saja aku tidak tau mengapa hal itu salah bagi bunda. bunda tiba-tiba saja langsung marah tanpa mengatakan apa sebabnya. aku sungguh tak punya ide mengapa bunda sedemikian murka padaku hingga mendiamkanku berhari-hari.”

” Bukannya kau yang berdiam diri? kau menghabiskan waktumu berdiam diri di kamar. keluar makan jika bunda dan ayah selesai makan. tak sedikit pun usahamu untuk bertanya atau bicara pada bunda.” bunda memandangi kedua tanggannya yang ditautkan. aku menoleh ke ayah yang tersenyum-senyum. kini beliau telah menurunkan korannya dan cenderung tidak mendengarkan kami lagi. menurutnya masalah ini sudah terselesaikan.

” aku tidak tau bahwa bunda menginginkan itu.”

” sebegitu menakutkannyakah kemarahan bunda hingga kau tidak tau apa yang bunda inginkan? bunda lebih tua darimu, maka bunda mengharapkan kau yang lebih dulu datang untuk memulai meskipun bunda yang salah. kau tau kan? egoisme orang tua.” bunda menghela napas lalu menggeser kursinya dan memutar tubuhnya hingga menghadapku.

 ” sini kemari, peluk bunda!” aku langsung menjatuhkan diri ke pelukan bunda. pelukan paling nyaman sedunia. air mata yang sedari tadi kucegah untuk menetes kini tak terbendung lagi. meleleh begitu saja dalam kehangatan pelukan bunda.

” maafkan aku bunda.” kataku di sela sedu sedanku.

” Bunda juga minta maaf sayang, memarahimu tanpa mengatakan sebabnya.” bunda mengecup kepalaku dengan lembut.

” Nah, kalau saling ngomong begitu kan lebih enak! Ngomong-ngomong Ayah udah laper loh!” Ayah tiba-tiba sudah ada di dekat kami dan mengacak gemas rambutku. bunda tertawa. aku juga tertawa lalu melepaskan pelukan bunda dan menghapus air mataku.

” Aku ambil piringnya dulu Yah!” kataku sambil melompat senang dan berjingkat menuju dapur untuk mengambil piring makan.

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s