adventuring jogja-solo-semarang by train

nothing special in this expedision actually. but train is always be my favourite transportation. why? because train is sooo much bigger than bus or car, and still on the land doesn’t like plane. hehehe… so this afternoon i decided to go home by train via Solo. i took prambanan express (pramex) on 14.35, since i got there on 14.00 so i had to wait then the train came on time (i surprised!!!)

dari sini saya akan mulai berbahasa Indonesia. karena beberapa emang lebih enak diekspresikan dengan bahasa indonesia. hihihi.. sebelumnya akan saya paparkan bahwa perjalanan saya kali ini melibatkan banyak orang. pertama, saya menanyakan jadwal kereta Pramex ke saras, lalu menanyakan nomor dek zulfaaul (alumni SMA 3 semarang yang kuliah di Solo) ke heyhakim dan meidiawancs. jadi setelah saya naek pramex, maka dengan bahagia saya menuju ke Solo.  by the way, saya nggak tau loh stasiun Solo itu apa aja. untungnya berkat petunjuk dari zulfaaul saya cukup tau bahwa saya harus turun di Solo Balapan. dan untunglah mbak-mbak (sebenernya adek2 sih) di sebelah saya memberitahu mana yang namanya stasiun Solo Balapan.

saya pongah cuy. saya selalu norak kalo naek kereta. tapi saya nggak sampe yang lompat-lompat kegirangan atau foto sana sini sih. too extreme. tapi ada rasa kebahagiaan yang meluap-luap. lebay? iya. norak? kan udah saya bilang tadi. yah jadi begitulah. tapi sayang euforia itu hanya bertahan beberapa menit, setengah perjalanan kemudian saya mengantuk dan tertidur. hrr.. untung saya bangun tepat pada waktunya, memasuki kota Solo saya memaksakan mata untuk tidak memejam lagi. takutnya kelewatan trus bangun-bangun udah di jogja lagi. wkwkwk..

sampai di Stasiun Solo Balapan saya langsung turun dan menuju ke pak satpam dan bertanya:

saya: Pak, kereta ke Semarang jam berapa ya?

Pak Satpam (PS): wah udah jam 1 tadi mbak.

saya: yaah nggak ada lagi pak?

PS: nggak ada mbak.

saya: trus kalau ke semarang saya bisa naek apa ya pak?

PS (berpikir sebentar): mbak, mbak ke Jebres aja trus naek Brantas jam 5

saya: Jebres? pakai pramex pak?

PS: iya, turun Jebres trus naek brantas jam 5 (ting tong teng tong tong ting ting tong..kereta prambanan express tujuan Solo Jebres siap diberangkatkan

saya (panik): aaah..ya ya pak.. makasih banyak ya pak (lari-lari mengejar kereta)

kepanikan berlanjut ketika pintu-pintu terdekat sudah menutup. untung ada satu pintu yang masih kebuka dan saya langsung melompat ke dalam kereta. begitulah drama di stasiun itu terselamatkan. saya selamat sampai di jebres sodara-sodara! fiuuh..

sampai di jebres saya keluar ke loket dan ternyata..loket untuk Brantas baru dibuka pukul setengah lima. baiklah. saya sempat ingin menyerah dan naek bus saja. bahkan saya kepikiran untuk balik ke jogja lagi dengan naik pramex ke jogja.tapi tekad bulat mengungkung hati. apapun yang terjadi, saya akan tetap naek kereta! saya buru-buru beli tiket saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, lalu saya menunggu di pinggir peron. kereta yang dijanjikan datang pukul 16.55 baru datang pukul 17.55 dan..saya berdiri sodara-sodara!!!nggak dapat tempat duduk. tapi yasudahlah. saya nikmati. apalagi ada seorang penyemangat anonim. pria tampan berkaos putih yang seperti oase di tengah kericuhan kereta ekonomi kediri-jakarta ini. pria tampan berkaos putih itu tadi juga naik dari solo. soal dia akan saya bahas nanti.

jadi di sanalah saya, di dalam kereta ekonomi yang penuh sesak ditingkahi oleh pedagang asongan yang mondar-mandir menjajakan dagangan, tidak peduli sesulit apapun untuk bergerak di lorong sempit diantara bangku penumpang. saya sangat bersyukur penumpang-penumpang di sekitar saya sangat friendly. saya sempat mengobrol dengan beberapa di antaranya.dan syukurlah mereka tidak ada yang merokok sodara-sodara. itulah yang paling menyelamatkan saya!!!ada satu yang merokok pada pertengahan akhir perjalanan, tapi ketika melihat saya menutup hidung dengan jilbab, dia mematikan rokoknya. how sweet?? >.<

ketika antusias akhirnya berganti dengan kelelahan, saya sudah tidak lagi berpikir bahwa dilewati pedagang asongan yang silih berganti itu lucu sekali. kelelahan akhirnya menjelma menjadi kejengkelan. tapi kemudian kejengkelan menuntun saya kepada perenungan kecil tentang hidup.

saya memandang sekeliling saya. inilah masyarakat! inilah dunia! inilah kehidupan. setiap orang yang naik kereta brantas itu pastilah punya tujuan dan pikiran masing-masing tentang tempat yang akan mereka tuju. menarik sekali melihat mereka. sesekali saya berpikir bahwa orang ini mungkin akan mengunjungi keluarganya di jakarta. orang ini mungkin akan mengadu nasib di jakarta. orang ini mungkin hanya sekedar liburan murah ke jakarta. dan sebagainya-sebagainya.

dari pemikiran yang sesekali terganggu oleh mondar mandirnya pedagang asongan, akhirnya fokus saya seluruhnya terserap oleh para pedagang asongan ketika tiba-tiba seorang ibu-ibu penjual makanan datang menawarkan barang dagangannya. dalam pikiran saya muncul berbagai pertanyaan seperti apakah ibu ini akan pulang malam ini? akankah dia bekerja juga esok hari? kapankah dia libur dan bermain dengan keluarganya? berapa banyak laba yang dia dapat dari penjualannya? bahkan saya sempat memikirkan shift kerja dia, mungkin sehari kerja sehari libur, atau dua hari kerja sehari libur, dan sebagainya.

unik. hidup itu memang unik. hal yang seperti inilah yang saya sukai. saya cenderung lebih memilih naik kereta ekonomi yang “berwarna” daripada kereta bisnis atau eksekutif yang monoton. maksud saya untuk pilihan perjalanan jarak dekat ya. kalau ke jakarta dengan kereta ekonomi, kalau tidak dapat tempat duduk mah saya mikir-mikir lagi deh. wkwkwk..

tadi sebenarnya sempat terpikir untuk langsung ke jakarta saja. dari solo jam 18.00 mungkin sampai jakarta jam 6.00. tapi berhubung tidak membawa bekal baju maka saya urung berangkat. untung tidak jadi berangkat. kalau jadi mungkin kaki saya sudah jadi perkedel saat ini. iyalah. hampir 3 jam saya berdiri terus. akhirnya sekitar pukul setengah 9 WIB (waktu Indonesia Belinda) saya sampai juga di stasiun poncol, dijemput mama dan papa.

oya, tadi sebelum turun, saya sempat berbincang dengan si pria berkaos putih. ternyata dia sedang menuju Pekalongan. dia sedang belajar di UNS jurusan teknik sipil angkatan 2008. sayangnya, pria berkaos putih itu kini tetap bernama pria bekaos putih karena saya malu untuk menanyakan nama, bahkan twitter ataupun FB. -.-”

demikianlah kawan, sekilas perjalanan saya yang sungguh asik ke semarang ini. mungkin biasa dan cenderung membosankan buat kalian. tapi untuk saya, semonoton apapun hal yang saya hadapi, saya selalu berusaha untuk memikirkan hal-hal lain yang mungkin cenderung aneh, hanya agar saya tidak bosan saja. heheeh..

ciao..😀

2 responses

  1. mau tau ke INDONESIA an sesungguhnya??? Naiklah kereta ekonomi…..didalamnya akan terlihat realitas sesungguhnya tentang suatu bangsa,bangsa indonesia..heheheheheheeeee

    Btw aq ud pernah lho bel dr jogja jkt naik progo berdiri total mpe 11 jam berdiri tnpa bs brgerak…maknyus tenan lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s