think about marriage

jadi kemarin adalah hari mengobrol yang bertemakan tentang Pernikahan. dimulai dari bangun tidur dan teringat mimpi bahwa saya menikah dengan seseorang..hihihi.. kemudian sesiangan mom-daughter time, berjalan-jalan dengan mama dan membicarakan (lebih banyak mendengarkan) tentang pernikahan, calon suami, rumah tangga, dll. belum cukup, sorenya seorang kawan, heyhakim, menunjukkan hastag #AiMa yang merupakan kultwit tentang pernikahan. nah, malamnya, tema besar ini diangkat dalam obrolan ngalor ngidul bersama para lajang ini: heyhakim, meidiawancs, fatiih__, ines_aryono, dan taufikfk di emperan McD Pandanaran.

dirong-rong hal yang sama seharian, mau tak mau saya kembali memikirkan hal tersebut. pernikahan. maka pertanyaan terbesar saya yang pertama adalah:

dengan siapa?

ini pertanyaan yang jawabannya perlu dipikirkan dan ditimbang masak-masak. mungkin inilah salah satu alasan juga saya tak mau lagi berpacaran. saya tak ingin bermain-main dalam memilih calon pemimpin keluarga saya nantinya. tidak asal milih seperti saat pemilu (eh, ketauan). bukan berarti saya menganggap bahwa pacaran itu main-main ya. tapi saya sudah jenuh saja dengan kegiatan semacam itu, yang (menurut saya) buang-buang waktu. saat ini sudah saatnya serius bung! karena suami, bagi saya, adalah “penentu” akan lebih lama di neraka kah saya, atau bisa cepat-cepat ke surga. tentu saja saya mendambakan seorang suami yang akan mengantarkan saya dan keluarga saya ke surga. #eaa maka kriteria pertama dan utama adalah masalah akidah. seperti kriteria yang dinasehatkan oleh Hasan bin Ali ra -cucu Rasulullah SAW-

Nikahkanlah putrimu dengan laki-laki yang bertakwa (takut kepada Allah), jika ia mencintai (putrimu) maka ia akan memuliakannya, dan jika sekalipun ia membenci (tidak suka) putrimu, ia tidak akan menyakitinya.”
masalah yang lain-lain, harta, kemapanan, dll, saya serahkan sepenuhnya kepada Allah semoga Dia membukakan hati saya untuk ridho menerima jodoh saya itu apa adanya. #eaa #ehem #uhuk
resepsi
sudah jauh-jauh hari, bahkan sebelum terpikirkan masalah pernikahan ini, saya menginginkan resepsi yang jauh dari adat jawa. awalnya sih alasan saya karena tidak ingin ribet. jongkok-jongkok, membersihkan kaki suami dari pecahan telur, suap-suapan, belum pra resepsi ada midodareni, dll. ewwh.. ritual itu sungguh membuat saya jengah dan bosan. hihihi.. bukannya tidak mau menguri-uri budaya jawa ya. namun semakin kemari, setelah saya banyak membaca masalah pernikahan dalam Islam, maka saya mengerti hal-hal tersebut adalah adat. boleh-boleh saja ditinggalkan, toh tidak tertuang dalam alquran maupun dianjurkan dalam hadist.
inti dari resepsi pernikahan kan hanya untuk mengabarkan pada khalayak bahwa seseorang ini, atau itu, sudah menikah dengan si ini, atau si itu. tidak bijaksana resepsi pernikahan dibesar-besarkan dengan biaya puluhan juta rupiah, apalagi dimaksudkan untuk “pamer kekayaan”. naudzubillah. maka saya sudah berdiskusi dengan orangtua saya, saya hanya ingin pesta sederhana sebagai wujud rasa syukur dan bermaksud untuk mengumumkan pernikahan. resepsi dengan nuansa islami, kostum dan dekorasi serba putih, jamuan lezat, hiburan nasyid/rebana dan bukannya solo organ, dangdutan ataupun campur sarinan. sederhana tapi manis dan tentunya mengesankan. #daydreaming
hidup pasca pernikahan

naaah ini dia yang menjadi masalah paling membuat galau. dengan menikah tentunya kita akan bertanggung jawab penuh terhadap hidup kita dan pasangan kita. apalagi saya sebagai seorang perempuan. dulu mama seringkali memprotes kalau saya membeli ini itu yang tidak bermanfaat, karena menurut mama, perempuan adalah “kunci” dari kesuksesan perekonomian rumah tangga. mama bilang, ” wanita itu harus bisa mengatur uang. jangan sampai gajimu dan gaji suami habis di minggu2 pertama, lalu selanjutnya kamu mau makan apa? ngutang?”. berdasarkan jejalan ide itu, dan karena kehidupan kos saya, maka alhamdulillah saya secara otomatis belajar mengelola uang. tapi, tapi, tapi, sungguh mengerikan juga ya. >.<

selain masalah keuangan, masalah lainnya adalah anak. ini adalah hal yang membuat saya senang sekali mengamati orang-orang di sekitar saya. bagaimana mereka bertindak, sukakah saya terhadap sikap mereka, bagaimana cara mereka berpikir, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu menuju satu pertanyaan besar: bagaimana cara orangtua mereka mendidik anak-anaknya. saya banyak merenung, ketika saya tidak menyukai tindakan seseorang maka saya akan membandingkan dengan diri saya, dan kalau saya tidak seperti mereka maka saya akan merujuk pada pendidikan yang diberikan orangtua saya. misalnya saja, saya mempunyai teman kos yang suka mandi lamaaaa sekali. beda dengan saya, mandi hanya secukupnya saja yang penting bersih, karena saya selalu teringat pesan orangtua saya: “kalau di tempat umum, mandi tuh jangan lama-lama. seperlunya saja. gantian dengan yang lain.” begitu pula ketika ada seorang kawan yang melakukan tindakan brilian maka saya akan langsung berpikir, bagaimana orangtuanya mendidik dia sehingga dia bisa menjadi pribadi yang mengesankan.

masalah anak ini benar-benar membuat saya khawatir karena anak buat saya adalah tanah liat yang diberikan oleh Allah untuk dibentuk. salah membentuk maka berdosalah orangtua. apalagi saya adalah anak tunggal, saya tidak pernah secara langsung melihat “pertumbuhan” orang lain di tangan orangtua manapun. beda dengan teman-teman yang memiliki saudara, paling tidak teman-teman melihat bagaimana orangtua mereka membesarkan adik-adik mereka, bagaimana orangtua membagi perhatian dan kasih sayang kepada masing-masing anaknya. saya sempat bertanya kepada mama darimana mama belajar ini itu tentang membesarkan saya? apakah dengan melihat nenek membesarkan adik-adiknya? namun mama berkata bahwa hal itu adalah naluri yang akan muncul dengan sendirinya. hh..

WOW..curhat bombay saya banyak juga ya..hihihi..lumayan untuk refleksi diri dan berbagi ide dengan pembaca. banyak nasihat mengatakan jangan mencemaskan apa yang belum terjadi. jadi sebaiknya saya tak perlu mencemaskan hal-hal tersebut kan ya? dipikirkan dan direncanakan akan lebih baik daripada dicemaskan. saya yakin itu pula gunanya ada seorang suami nantinya, yaitu untuk bertukar ide (mengurangi kecemasan-kecemasan yang tidak perlu). tapi seru juga ya membayangkan menikah itu seperti akan membangun sebuah “negara” sendiri. negara kecil yang merdeka. hihihi..

nah untuk kemudian, pertanyaan kedua terbesar saya adalah: kapan???

hihihi.. itu menunggu jodoh saya menjemput saja deh. udah ah..sebaiknya saya mulai belajar PPJP untuk responsi besok senin. ciao..😀

5 responses

  1. tenang,teman..
    semua akan indah pada waktunya🙂
    insyaAllah lelaki yg baik utk wanita yg baik😀
    aaah,penasaran dgn obrolan kalian kmarin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s