jadi koordinator itu rempong, kayaknya jadi presiden juga rempong ya?

swear..jadi koordinator itu sangat rempong. tapi herannya saya sering terpilih/dipilih/ketiban sampur jadi koordinator. nih ya, mulai dari kumpul2 SD, kumpul2 kelas di SMA, kumpul2 apalah lainnya lagi, saya bisa dibilang yang bergerak menghubungi anak-anak untuk berkumpul. herannya lagi, kalau saya tidak bergerak, bisa jadi kumpul temu ini temu itu hanya akan jadi omong kosong semata. akhir2 ini saya sudah mulai sedikit melepaskan diri sih. ternyata teman-teman pun ada yang mau (ikhlas maupun dengan paksaan saya..heheheh) menggantikan peran saya itu. tapi tapi tapi..temen-temen kalau ingin mengadakan kumpul-kumpul masih tetap menghubungi saya..bahkan ketika sudah jelas siapa EO-nya pun, saya masih tetap diseret-seret untuk ditanya ini itu..huhuhu..hiks..

bukan masalah siih..saya jadi senang karena bisa berkomunikasi dengan banyak orang, bisa tau kontak per orangan. yang rempong adalah karena saya dituntut tidak hanya sekedar menjadi humas, tapi juga EO. yang ngatur mau ketemuan dimana, jam berapa, trus kita mau kemana, naik apa. huhuhuhu..ini semacam pusing. belum lagi yang paling ngeselin ketika kita mengharapkan kepastian tapi dengan enak-enaknya para anggota yang diberi pemberitahuan itu tak juga memberikan konfirmasi. woooh… sakit ati macam itu udah seringkali saya alami. dan saya masih selalu sakit ati loh meskipun itu terulang lagi dan lagi.. heran.

saya jadi prihatin dengan keadaan bapak presiden kita yang akhir2 ini sering dicela rakyat (entah yang nyela itu pake mikir atau cuma asal nyemlong aja). saya sih nggak pernah ikut2an nyela ya. karena saya sering memposisikan diri sebagai orang lain sebelum saya nyela orang (wkwkwkwk..). saya berpikir bagaimana seorang presiden harus ahli ekonomi,ahli manajemen, ahli strategi perang, ahli kesehatan, ahli pendidikan, ahli pariwisata, dan ahli-ahli lainnya lagi. itu berat..saaaaangat berat. memang seorang presiden dituntut harus pandai dalam segala bidang. tapi yo dia kan manusia braay. bukan Tuhan! plis deh. nggak mungkin dia akan bisa sempurna menghandle semuanya. herannya orang2 kita kok ya kalau ada yang salah sedikit aja yang disalahin presiden. ada yg gak puas dikit yang disalahin presiden. semacam hidup pribadi beliau sendiri gak berat aja deh.

eits malah ngelantur kemana-mana. hhihi.. ini saya bukan lagi membela presiden loh. ini saya sedang mencoba melihat posisi beliau dari sudut pandang beliau. kalo saya disuruh jadi presiden ya jelas nggak sanggup. wong mata kuliah pancasila aja dapet C #eh (tapi udah di remed kok. udah jadi B..hehehe). ini sangat lucu ketika kemarin saya menyatakan ingin hidup di desa dan mama bilang, “wah brati doa mama gak terkabul dong! padahal mama kan selalu berdoa, Ya Allah jadikan anak saya seorang pemimpin yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.” hhihihi.. dia berharap saya jadi presiden kali yee?? ogah maaaa…šŸ˜›

back to topic. saat ini saya sedang cekut-cekut. sebenernya udah dari tadi siang sakit kepala. tapi sore ini sudah keterlaluan sakitnya, ditambah sulitnya menemukan jadwal yang pas buat foto buku angkatan. masalahnya, waktu yang tersisa hanya 3x. jadwal pertama, seorang temen nggak bisa ikut. jadwal kedua, temen lain yang gak bisa. terpaksa jadwal ketiga dimana akhirnya SAYA berkorban untuk menunda kepulangan. padahal saya bisa pulang tanggal 26, jadinya saya harus tunda pulang tanggal 29. ini kan semacam rempong yang menyebalkan. iya gak sih?

jadi memang begitu. jadi seorang pemimpin itu harus rela berkorban buat orang lain. menekan setekan-tekannya keegoisan pribadi. bukan hanya sekali ini saya mengorbankan kesenangan saya sendiri loh. dan bukannya saya mau mengungkit-ungkit. temen-temen saya juga banyak yang mengeluh saat mereka jadi koordinator kelompok tugas. ya karena memang Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, dengan berbagai macam ide dan pikiran. makanya sangat sulitnya jadi koordinator itu yaaa bagaimana caranya supaya pikiran dan kepentingan itu bisa selaras. begonya lagi ya, kadang kalo ada tugas nggak beres tuh yang disalahin koordinator. ya semacam sama lah dengan masalah tetek bengek presiden itu.

hikmahnya adalah, apa yaaa??wkwkwkwk.. hikmahnya buat saya sih ya belajar sabar dan mengalah. dan belajar buat nggak cepet-cepet mencela orang lain. karena kemampuan manusia terbatas braay. jadi ketika ada sesuatu yang salah mesti dilihat dari berbagai sudut pandang. kata ustadzah yoyoh, ketika melihat sesuatu jangan pakai mata lalat, karena yang diliat pasti cuma sampah. tapi lihatlah dengan mata lebah, karena dia melihat bunga untuk diambil sarinya dan menjadikannya madu yang bermanfaat.

ini curhatannya nyambung gak sih? entahlah. saya sedang sakit kepala juga soalnya. jadi semoga bisa nangkep maksudnya ya. intinya jika melakukan sesuatu lakukan dengan sungguh-sungguh. seperti halnya menjadi seorang pemimpin, lakukan dengan sungguh-sungguh. yang penting proses, bukan hasil.

ini habis mengkoordinir ini kalo besok udah pada jadi dokter gigi dan lupa sama gue awas yaaa… raaawwwr…

setelah saya baca ulang..sepertinya gak nyambung.. -,-“

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s