aku dan mati lampu (atau claustrophobia?)

dari dulu aku nggak suka mati lampu. sepertinya sensor cahaya di tubuhku ini pun sangat sensitif pada kejadian ini. sekalinya terjadi mati lampu, maka di dalam tubuhku seperti ada yang memompakan sesuatu dan membuat aku tidak tenang. entah apa. bahkan jika mati lampu terjadi pada saat aku tertidur pun pasti aku akan langsung bangun.

rumahku ini termasuk daerah yang sering mati lampu. siang ataupun malam. kalau siang sih bisa diatasi dengan pergi ngelayap ke luar ya. tapi kalau malam? huuh! cuma bisa kedap kedip basi di rumah. kebiasaanku kalau mati lampu pasti akan secara refleks memanggil papa, ” Paaaah mati lampuuuu!!!” bahkan jika mati lampunya malam hari saat kami semua sudah tidur. maka papa akan tergopoh-gopoh bangun menyalakan lampu teplok maupun emergency lamp yang kadang lupa dinyalakan, lalu kembali tidur. kalau imajinasiku bergerak liar maka aku masih akan memaksa tidur dengan mama papa di kamar depan. Ya, itu masih aku lakukan sampai sekarang.

ketidaksukaanku pada mati lampu ini sedikit tertolong saat aku kos. alhamdulillah kosku ini jarang sekali mati lampu. dalam 4 tahun terakhir bisa di hitung dengan jari. tapi aku tetep waspada. sedia emergency lamp. hehehe..

apa ya yang bikin aku nggak suka mati lampu? ya selain adanya pompaan “hormon” (mungkin?) itu yang bikin tubuhku seketika memanas dan merasa tidak nyaman, aku juga jadi berimajinasi dalam kegelapan. oh bukan! bukan imajinasi tentang setan dan keluarganya. tapi tentang kematian. takut. ya takut karena dalam kegelapan itu aku hanya sendiri. aku lantas membayangkan alam kubur, di mana aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku sendirian. aku membayangkan kegelapan itu seperti di dalam alam kubur. di dalam petak sempit, terkubur dalam tanah, semua gelap, sesak, hanya aku sendiri. kadang aku bisa sampai menangis loh kalau imajinasi ini datang!

eh, tapi mungkin ini semua ada hubungannya dengan claustrophobia (adalah sebuah penyakit ketakutan terhadap tempat-tempat sempit dan terjebak – wikipedia) ya? baru nyadar nih! ya, mungkin aku memang mengidap penyakit ini. aku memang selalu merasa tidak nyaman berada di tempat yang sempit. sesak napas, ketakutan! aku nggak tau sejak kapan aku mengidap penyakit ini. aku baru tau istilah penyakit ini setelah membaca novel Dan Brown karena ternyata Robert Langdon punya penyakit yang sama. hehehe..

aku mungkin tergolong agak parah (atau hiperbolis?). ketakutanku seperti ini:

  1. aku takut naik lift yang sempit, sedihnya lift di RSGM sempit. aku akan oke kalau naik lift dengan beberapa orang, tapi kalau lift penuh, awwwh.. aku akan langsung panik. aku langsung membayangkan lift ini akan macet, lalu kami akan kehabisan oksigen dan mati perlahan karena megap-megap di dalamnya. biasanya hal ini aku atasi dengan membayangkan ruang praktikum di lantai 5 yg luas atau membayangkan padang rumput. tips ini aku dapatkan dari novel Dan Brown itu.
  2. aku takut masuk ke gua. yup! maka dari itu kalau teman-teman mengajak observasi ke gua aku paling ogah. membayangkannya saja udah bikin aku sesak napas. aku pernah main-main ke dalam gua, gua lawa di pemalang dan gua gong di jawa timur, hasilnya? begitu melangkah masuk ke gua pikiranku langsung di penuhi imajinasi yang buruk. apalagi guanya berada di bawah tanah. aku langsung berpikir ketakutan bagaimana jika gua ini runtuh dan aku tertimbuh di dalamnya? sesak napas! bahkan hawa sejuk di dalam gua tidak mampu menghentikan keringatku yang mengalir deras. kapok!
  3. aku tidak nyaman parkir di basement. sayangnya sebagian besar mall parkirannya di basement ya. atapnya yang rendah membuat imajinasi “bakalan runtuh” semakin menjadi. eewwwh.. makanya aku sih pasti akan langsung cepat-cepat menyelesaikan urusan perparkiran dan melesat ke dalam mall.
  4. hanya membayangkan saja bisa bikin aku sesak napas. benar. kalau dengar ada berita tanah longsor dan ada orang tertimbun di dalamnya, aku langsung sesak napas. bahkan nulis ini aja juga merasa sesak napas. hh..

parah nggak sih kalau begitu? hehehe..

makanya aku nggak pernah bisa tidur dengan kondisi lampu dimatikan. dijamin nggak akan bisa tidur deh. mungkin sebenernya bukan masalah lampunya kali ya? tapi claustrophobianya.

oya, ngomong2 aku baru tau beberapa bulan terakhir ini *sejak rajin twitteran* bahwa mati lampu dalam bahasa inggris itu blackout dan bukannya dead lamp. hihihihi.. *minta ditoyor*

nah, itu ceritaku tentang mati lampu, aku hirup napas dalam-dalam dulu ya, soalnya udah mulai sesak napas nih!!! hehehe..so,  apa ceritamu? hehehe… *kalimat standar buat nyelesein tulisan -.-” *

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s