#archive pengorbanan itu untuk perubahan

” Ikhlas Nan. kalo kita ikhlas, hati kita juga bakalan sejuk.” jawab Karen sambil memotong-motong wortel ketika kutanyakan bagaimana rasanya kehilangan. tentu saja aku menanyakannya setelah beberapa hari berlalu sejak meninggalnya Om Rahmat dan Tante Gina.

” Tapi pasti berat banget ya Ren?”

” Nggak ada cobaan yang nggak berat Nan! tapi kalo kita yakin bahwa setiap musibah yang ditimpakan ke kita adalah batu pijakan buat kita naik ke tingkat yang lebih tinggi, lebih baik, kenapa enggak?”

” Harus segede itukah pengorbanannya Ren? Lo kehilangan kedua orangtua lo sekaligus. semua itu cuma biar kamu bisa berubah jadi orang yang lebih baik? Lo kurang baik apa sih Ren?” aku membasuh piring-piring bersabun yang sedang kucuci.

” Gue gak pernah merasa cukup baik Nan, dan memang semua orang juga bakalan meninggal kan?” Karen balik bertanya.

” Iya sih, tapi gue rasa Tuhan terlalu kejam sama Lo!”

” Sssh.. jangan pernah mempertanyakan kehendak Tuhan! Dia lebih tau di atas segalanya.”

” Iya Gue tau!” kami terdiam cukup lama, menekuni pekerjaan kami masing-masing. sejak kehilangan kedua orangtuanya, aku sering menyempatkan diri berkunjung ke rumah Karen untuk menemaninya. lagipula masakan Karen enak-enak. jadi istilahnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kan? hehehe..

” Kalopun itu disebut pengorbanan, ya, gue rasa pengorbanan itu memang diperluin.” kata Karen. tangannya sibuk mengaduk-aduk tumisan sayur.

” Sebesar itu pun?”

” Bahkan mungkin lebih besar lagi!” Karen mencicip masakannya dengan sendok kecil lalu menambahkan garam, atau gula, atau entah apalah, aku tak pernah bisa beres soal bumbu, bahkan untuk sekedar membedakan antara garam dan gula sekalipun. Karen mencicipi masakannya sekali lagi dan mematikan kompor. aku mengambil dua buah piring dari rak cucian dan menatanya di meja. kalau ini sih tak perlu diberitahu lagi, aku tau kalau Karen sudah mematikan kompornya maka itu tandanya kami akan segera makan. hehehe..

” Tell me, emangnya lo gak pengen berubah jadi orang yang lebih baik?” pertanyaan Karen yang tiba-tiba dan tak terduga itu membuat tanganku yang sedang menyendok nasi ke piring seketika berhenti di udara. mulutku otomatis menganga.

” Hey! malah bengong! hihihi..”

” Ah Lo juga sih!” aku menumpahkan nasi dan menyendok sayur.

” Jadi?”

” Jadi? ya.. jujur Ren, baru kali ini Gue kepikiran tentang itu! sebelumnya gue berpikir buat ngejalanin hidup sebaik-baiknya. gue rasa itu udah cukup karena gue gak suka neko-neko!”

” Yaelah! berubah jadi lebih baik itu bukan berarti neko-neko sayang! emang lo mau hidup lo ngalir gitu aja?”

” Loh? hidup kan memang seharusnya mengalir gitu aja kan? toh sudah ada yang mengatur semuanya!”

” nah itu dia yang seringkali disalahpahami sama orang-orang. memang hidup udah ada yang ngatur, tapi kita berhak buat memperjuangkan ha-hal lain supaya hidup kita gak flat-flat aja. bayi aja bertumbuh jadi gede, jadi dewasa kan? masa kita udah gede gini malah berhenti gitu aja. hidup tanpa perubahan itu ngebosenin Nan!”

” Iya juga sih!”

” Nah, biar jadi lebih baik itu harus melakukan perubahan, dan perubahan itu selalu membutuhkan pengorbanan.” aku mencerna pelan-pelan, baik makanan di mulutku, maupun kata-kata Karen barusan. keduanya kutelan perlahan. tapi entah mengapa sistem pencernaan otakku agak sedikit lebih lambat dari sistem pencernaanku yang sesungguhnya.

” Menurut gue, dengan..” Karen mengambil jeda dengan menarik napasnya dalam-dalam, ” Dengan meninggalnya kedua orangtua gue sekaligus, Tuhan sedang ngerencanain sesuatu yang lebih besar buat gue. sesuatu yang akan bikin gue jadi orang yang lebih baik.” Karen menyelesaikan kalimatnya dengan suara yang semakin mengecil. Ah! bodohnya aku! tentu saja dia sedih dengan meninggalnya kedua orangtuanya sekaligus.

” Maaf!” aku menunduk, kehilangan selera makan secara tiba-tiba.

” Kenapa?”

” Gue udah nanya hal-hal bodoh kayak gini. padahal gue tau pastinya kehilangan itu rasanya sangat menyakitkan. tapi gue nekat nanya. gue kemaren heran aja ngeliat lo sangat tenang waktu.. waktu itu.”

” Hahaha.. udahlah! Tuhan yang ngebantu gue bertahan Nan! lagipula gue kan udah pernah kehilangan sebelumnya.” matanya menerawang, aku tau pasti apa yang dia maksud dengan kehilangan itu.

” ah udahlah!!! ayo ah makan lagi!” Karen menyendokkan sayuran lagi ke piringku dengan semangat. aku hanya bisa nyengir. rasanya sangat tidak enak kalau tau bahwa kita adalah penyebab orang lain merasa sakit hati. aah.. bodohnya aku!!! nanti akan kutepuk jidatku berkali-kali, dengan raket nyamuk kalau perlu.

setelah selesai menikmati sisa makanan sambil berbincang ringan masalah lainnya, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara bel tamu. Karen mendorong kursinya dan pergi ke depan untuk membukakan pintu. aku membereskan piring-piring bekas makan kami dan mencucinya. setelah semua beres, aku berjingkat menuju ruang depan untuk melihat siapa yang datang. langkahku terhenti saat aku mendengar isak tangis. bukan Karen! tapi isak tangis seorang lelaki. diam-diam aku mengintip dan terkejut melihat siapa tamu tadi. di antara jutaan manusia yang bertebaran di bumi, sungguh aku tak pernah mengharapkan lelaki itulah yang akan berkunjung ke rumah Karen!

***

4 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s