#archive bagaimanakah rasanya kehilangan?

bagaimanakah rasanya kehilangan?

pertanyaan itu menggema di kepalaku sekian lama, setiap kali aku mendengar ada berita seseorang telah meninggal. aku pikir itu sebuah hal yang wajar sehingga pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah, dan aku juga merasa tak perlu, kugubris. aku sendiri pernah merasa kehilangan, kehilangan bolpoin, kehilangan handphone, kehilangan buku, bahkan kehilangan pacar. tapi rasanya ada definisi sendiri ketika kata kehilangan itu dihadapkan dengan kematian. iya kan? nah, untuk persoalan yang satu ini aku belum pernah mengalaminya. kedua orangtuaku, kakakku yang walau menyebalkan tapi sangat kusayangi, masih lengkap bersamaku.

siang ini, aku terpaksa (atau lebih tepatnya dipaksa) memikirkannya karena kematian itu begitu dekat denganku. bukan aku sedang terancam bahaya atau semacamnya, tapi ada yang meninggal, orangtua Karen, sahabatku. aku tidak tahu Tuhan sedang memainkan drama apa untuk Karen. kedua orangtua Karen dipanggilNya sekaligus. aku benar-benar memaklumi bahwa keputusanNya itu mutlak! kita dipaksa menyerah tanpa bisa mengajukan pembelaan. yang membuatku sangat terganggu justru Karen. bukan, bukan Karen juga! tapi pertanyaan “bagaimana rasanya kehilangan?”

tadi aku benar-benar membayangkan akan melihat Karen tertunduk lesu di depan jenazah kedua orangtuanya saat aku melayat. atau mungkin justru aku akan menemukan Karen berada di dalam kamarnya, terpingsan-pingsan. tapi tidak! lihatlah, aku disambutnya dengan senyuman yang maha tulus. seakan dia menyambutku seperti kunjunganku yang lain, biasa saja. seakan kedua orangtuanya tidak..

” Hay Nan! makasih ya udah datang!” Karen mengecup kedua pipiku lalu memelukku. aku hanya mampu terdiam. bingung harus bersikap bagaimana.

” Sabar ya Ren!” akhirnya hanya ini yang terucap. dia mengangguk dan menyunggingkan senyum. aku memalingkan muka untuk mencegahku menangis melihatnya.

” Lo mau ketemu ayah dan bunda buat terakhir kalinya?” aku mengangguk. Karen menggandengku masuk ke dalam rumahnya, menyelip-nyelip di antara tamu dan panitia pemakaman yang sedang sibuk bersiap-siap memberangkatkan jenazah.

di sanalah, kedua peti mati itu diletakkan, di tengah ruangan, yang jika tidak dalam situasi seperti ini adalah ruang keluarga mereka, tempat Om Rahmat, Tante Gina, dan Karen bercengkrama. bahkan aku masih bersenda gurau bersama mereka di ruangan itu, kemarin. aku menengok ke dalam kedua peti mati mereka. tertegun melihat kedamaian yang terpancar di wajah keduanya. mereka meninggalkan senyuman yang menentramkan untuk dikenang.

” Seneng, ngeliat mereka bahagia.” kata-kata Karen mengagetkanku. aku menoleh ke arahnya dan masih saja heran, tak ada sedikitpun rasa sedih ataupun kecewa, meskipun aku tau senyuman tulusnya itu terasa sangat getir. aku mengangguk dan mulai berdoa untuk mereka.

***bersambung***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s