#archive tamu tak diinginkan

dari jutaan manusia yang ada di bumi ini, kenapa justru laki-laki itu yang bertamu ke rumah Karen?

seketika itu juga darahku memanas oleh amarah, jantungku berdegup kencang karena emosi. alhasil tanpa sadar aku menyenggol vas bunga di rak perabotan yang aku gunakan untuk mengintip. terbukalah tempat persembunyianku. baik Karen maupun laki-laki itu menengok ke arahku karena kaget.

” Maaf!” kataku akhirnya, memecah kebisuan yang tercipta akibat perbuatanku tadi.

” Nani?” sapa lelaki itu.

” Eh Nan? sini! udah lama gak ketemu Kak Karel kan?” sial! Karen seperti tanpa ada beban malah mengajakku bergabung. apakah dia lupa apa yang dilakukan Karel kepadanya? kepada keluarganya? kepada KU?

” Gue beresin pecahan vasnya dulu Ren.” aku buru-buru pergi ke belakang dan mengambil sapu. selesai membersihkan pecahan vas tadi, aku menyambar tasku dan berjalan tergesa menuju ruang tamu.

” Ren, Gue pulang dulu!” kataku tanpa menoleh sedikit pun kepada kedua kakak beradik yang tengah bernostalgia itu.

” Loh Nan?” Karen berdiri saking kagetnya.

” Nani tunggu!” Karel memanggilku. tapi sudah kepalang tanggung, aku muak bahkan untuk sekedar melihatnya. aku bersyukur dia tidak lagi mengejarku setelah aku mencapai pintu gerbang dan menutupnya dengan sedikit bantingan.
aku segera menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depanku.

” Jalan Meranti Pak!” aku baru bisa tenang ketika taksi meluncur di jalan raya, membawaku pulang ke rumah.

***

kepalaku berdenyut mengerikan. seperti inilah yang aku rasakan bila emosi menguasai hati dan pikiranku. setelah menenggak obat analgesik untuk meredakan sakitnya, aku merebahkan diri di kasurku yang nyaman. mencoba untuk tidur tapi justru bayangan Karel yang memenuhi pikiranku. sial! analgesik tak mempan mengusir dia pergi dari otakku rupanya!

Karel. ya Karel! dia kakak Karen. kakak sahabatku sendiri yang pernah menjadi kekasihku beberapa tahun lalu, mm, coba kuingat, tiga atau empat tahun yang lalu ya? sekitar itu lah! semua terasa indah saat itu. bayangkan saja, aku bersahabat dengan Karen, berpacaran dengan Karel, lalu Om Rahmat dan Tante Gina menganggapku seperti anak mereka sendiri. seperti keluarga besar kan? aku benar-benar bahagia saat itu. sampai kemudian terjadi hal mengerikan yang membuat semuanya hancur.

awalnya Karel diterima kuliah di luar kota. kami tenang-tenang saja karena toh seminggu sekali dia pulang dan kami tetap bisa bertemu. belum lagi midnight call yang hampir setiap hari, setidaknya bisa mengobati rasa rindu. semua benar-benar masih sempurna. tapi kemudian dia mulai bergaul dan sedikit menjaga jarak denganku. it’s ok! sebulan, dua bulan, akhirnya Karel memutuskanku tepat di hari ulangtahunku. memutuskanku begitu saja. patah hati itu kuanggap biasa, apalagi dengan Karen yang tetap menyemangatiku.

namun tampaknya badai itu tak hanya mampir kepadaku, tapi juga ke keluarga Karen. terakhir aku bertemu dia waktu aku menginap di rumah Karen, Om Rahmat marah besar dan mengusirnya pergi saat dia baru saja menginjakkan kaki di depan pintu setelah dijemput oleh Tante Gina dari kantor polisi. dia ditangkap karena berkelahi di sebuah diskotik dengan beberapa pemuda lainnya. hal itu tentu mengusik rasa disiplin Om Rahmat. apalagi baru ketahuan bahwa selama ini uang yang diberikan Om Rahmat kepada Karel telah dibelanjakan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

di usir dari rumah membuatnya kehilangan satu-satunya pemasukan keuangan. Karel lalu mencoba mendekatiku lagi, ujung-ujungnya dia meminjam uang kepadaku. aku yang memang masih mencintainya, dengan ikhlas memberikan uang kepadanya. bahkan aku yang ketika itu sudah mulai kuliah dan menjadi penulis lepas di sebuah majalah, merelakan seluruh gajiku untuk membiayai hidupnya, tanpa sepengetahuan orangtuaku.

dan sungguh tak ada lelaki yang lebih brengsek lagi daripada Karel. suatu malam Tante Gina dengan cemas meneleponku, memintaku untuk segera datang ke rumahnya. tanpa berpikir panjang aku langsung menuju ke sana meskipun saat itu aku juga tengah dikejar deadline. bagiku, urusan keluarga ini lebih penting nomor dua setelah urusan keluargaku daripada tetek bengek deadline itu, meskipun keesokan harinya aku mendapat surat peringatan dari majalah tempatku bekerja, tapi ini rupanya layak untuk membayar semuanya! karena apa yang kudapati di rumah mereka, benar-benar mengerikan.

Tante Gina memelukku sejenak dan berkata dia harus ke kantor polisi untuk menyusul Om Rahmat. beliau memberitahuku bahwa Karen berada di kamarnya dan memintaku untuk menjaganya. aku tak bisa memikirkan hal apapun lagi saat itu. hal buruk apa yang terjadi di keluarga ini?

Karen terlihat sangat berantakan dengan memar di beberapa bagian wajahnya. dia langsung menghambur ke pelukanku ketika aku masuk ke dalam kamarnya.

” Kak Karel Nan!” Karen mencoba bicara di sela-sela sedu sedannya.

” Kak Karel mau ngejual gue!” aku melepas pelukanku karena tiba-tiba aku kehilangan kekuatan untuk tetap berdiri. aku terduduk begitu saja dan Karen turut menghempaskan diri di hadapanku, terisak sambil menutupi wajahnya. aku lemas. hilang tenaga. seketika itu semuanya menjadi jelas bagiku dan aku tiba-tiba merasa jijik. jijik pada manusia berhati setan bernama Karel. bisa-bisanya dia.. dan jika bukan Karen, maka aku!

ya, beberapa hari yang lalu Karel membujukku untuk ikut dia pergi ke kotanya, kota tempat dia “kuliah”. beruntung tumpukan tugas membuatku membatalkan kepergianku itu. karena kalau tidak, aku yakin, pasti aku yang…

kupeluk lagi Karen yang masih tergugu. sejak saat itu tak pernah lagi kudengar nama Karel disebut-sebut keluarga ini. semua barang-barang Karel dibuang. bagi mereka, dan aku, Karel sudah tiada.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s