dear heart, i just wanna keep you safe!

aku bersandar pada dinding kerinduan yang rindang sambil menatap sebongkah daging yang baru saja berhasil ku keluarkan dari dadaku. bongkahan daging, yang adalah hatiku, itu kugenggam dengan tangan kananku sementara tangan kiriku mengusap peluh lelah yang bercucuran dari dahiku. aku tertegun tak percaya saat kulihat dia justru seolah memandangku dengan senyuman angkuh, senyuman jahil anak-anak yang tak kapok setelah jatuh berkali-kali tapi masih tetap ingin berlarian padahal badannya sudah penuh luka. seperti itulah hatiku. dan itulah mengapa aku memaksa mengeluarkannya sore ini, untuk mengajaknya bicara, lebih tepatnya, untuk berbicara padanya, karena aku tau dia takkan pernah mau membalas kata-kataku dan aku tau dia takkan pernah mau mendengarkanku.

sekarang mataku basah, pandanganku kabur, dadaku tak lagi sesak karena isinya telah kukeluarkan. tapi tetap saja, aku ingin menangis. hanya karena aku melihat bongkahan hatiku yang lebam biru-biru.

” Bodoh!” makiku.

” Sudah berulang kali aku bilang agar berhati-hati. kenapa kamu liar sekali?” yang kumaki justru tersenyum penuh arti. dia mengerti, tapi enggan menimpali. Sialan!

” Bodoh! aku yang bodoh!” kutepuk jidatku dengan segenap nafsu.

” Seharusnya aku bisa mengendalikanmu. agar tak berlarian kesana kemari. menumbuhkan harapan di sana – sini. lalu jatuh lagi. jatuhnya pun di hati yang salah. maka tak ada yang menangkapmu. kamu jatuh sendiri! lebam lagi! hancur kembali. jadi aku yang lagi-lagi harus menyembuhkanmu! tapi lihatlah! kau tersenyum tanpa malu! tak pernah kapok!”

” bisakah? bisakah kamu sedikit berbelas kasihan padaku? aku lelah. lelah sekali mengimbangi tingkahmu yang luar biasa aktif! aku lelah melihatmu jatuh lalu berdiri dan berlari lagi, tersaruk-saruk macam patah kaki. aku benci! aku benci karena pada akhirnya aku yang menangis lagi. apa kamu tak pernah merasa lelah?” teriakku frustasi. dia hanya memutar mata (seandainya dia punya mata).

” aku yang selalu saja merekatkan kepingan-kepinganmu pada akhirnya. aku yang selalu melumuri luka-lukamu dengan air mata. aku yang selalu saja menangis. tapi kamu terus, selalu, lagi-lagi, tetap tak pernah kapok mengulanginya lagi. jatuh pada cinta lagi.” tubuhku merosot, terlalu letih untuk menopang diri.

” apa kamu bermaksud membunuhku perlahan?” kata-kataku ini entah terdengar atau tidak. karena bahkan aku tak lagi punya kekuatan untuk bertahan duduk. aku meringkuk, memeluk satu-satunya bantal ketabahan yang masih aku punya.

” tolong berhentilah sejenak! beristirahatlah! aku mohon!” aku bahkan hampir tak bisa mendengar rintihanku sendiri.

lalu kurasakan dia mengusap kepalaku dengan lembut dan memelukku. hangat. nyaman. lalu luka-lukanya melebur pada kulitku. membuatku nyeri di sekujur tubuhku. aku tak dapat berteriak. suaraku telah hilang tertelan kesendirian yang kini mulai merayapi tenggorokanku. aku tercekat. mataku buram sudah oleh air mata. aku hanya bisa terisak dan memeluk ketabahanku semakin erat. ketabahan yang makin lama makin mengecil lalu menghilang. dan tinggal aku di sini, sendiri dengan hatiku. kedinginan tertimbun rindu yang tak jelas asal mulanya.

aku terlalu kaku untuk membalas pelukan hatiku. aku terlalu marah padanya yang seringkali mengkhianatiku. aku terlalu sedih untuk bisa mengasihani tubuhnya yang dipenuhi bilur-bilur luka dan kepedihan. aku tenggelam dalam kelelahan dan kesedihan. aku kalah.

” Aku kalah!”

” kamu yang merajaiku. aku kalah dan aku bodoh. aku mengaku!”

” tapi tolonglah, istirahatlah barang sejenak. aku lelah.”

sampai di sini aku tak lagi mampu berkata-kata. mulutku kering oleh permohonan yang tak terucapkan. aku merasa inilah saatnya aku menyerah kepadanya. aku akan menuruti segala maunya. jika memang dia ingin mencumbui cinta lagi maka aku akan diam saja. kalaupun nanti dia akan patah lagi maka aku akan diam saja.

dia menggeleng. aku melihatnya menggeleng. aku mengusap kedua mataku karena takut mataku yang terburam oleh air mata ini mengaburkan pengertianku. tapi hatiku jelas menggeleng. dia terlihat sayu dan kuyu. baru aku sadari betapa menyedihkan rupanya. penuh keriput karena luka-luka yang mengering.

hatiku melompat ke dalam pelukanku. tak kusangka aku mendengarnya berbisik,

” Aku milikmu sekarang, aku juga sudah lelah. aku akan menutup diri hingga hati yang benar-benar tepatlah yang bisa membukaku kembali. maafkan aku. aku milikmu sekarang.”

lalu aku mendengar dengkur halus, dia telah tertidur. perdamaian telah tercapai di antara kami.

aku memeluknya erat-erat dan memasukkannya dalam sebuah kotak lalu menguncinya. aku menitipkannya kepada Tuhan dan memohon kepadaNya agar memberikan kotak ini pada seseorang yang bisa kupercaya, yang takkan pernah membuatnya merana. dan ketika telah diberikan, maka hatiku hanya akan menjadi orang itu, selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s