aku cemburu

Aku melajukan motorku lebih kencang lagi. Sesekali kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Eerrrghh.. Sudah pukul 15.30, setengah jam lagi TPA akan dimulai. Ya Allah, jika memang Kau ijinkan aku untuk berbagi kisah ini pada mereka maka kumohon permudahkanlah! Aku terus merapalkan permohonan ini sepanjang perjalanan sambil berharap salah satu temanku di tempat KKN berinisiatif untuk memulai pengajian TPA terlebih dahulu. Bodoh! Henfon mati pula! bagaimana aku bisa menghubungi mereka! Sepanjang jalan aku terus beristighfar, tapi juga mengutuki segala urusan yang tadi membelitku hingga aku terlambat pulang ke desa tempatku KKN.

Memasuki Jalan Parangtritis aku semakin ngebut gila-gilaan. Menyelusup lincah di antara kendaraan yang berduyun-duyun ke selatan dari arah kota Yogyakarta. Kulirik lagi jam tanganku, 10 menit lagi! Masya Allah! Please permudahkanlah! Kubelokkan motorku di gang bertuliskan Dusun Karangasem, aku mulai berhati-hati karena jalanannya berbatu-batu. Sampai di belokan terakhir aku melihat rumah pondokan KKNku sudah sepi. Ah mereka pasti sudah berangkat ke masjid! Segera kuparkirkan motor, mandi kilat lalu berlari ke masjid.

Suasana masjid sudah ramai. Dias yang meng-handle TPA untuk sementara. Dia tersenyum lega saat melihatku muncul dari halaman samping masjid.

” Assalamualaikum! Maaf ya terlambat!” kataku sembari mengatur napas. Kepala-kepala kecil itu menoleh dan serempak menjawab salamku. Mereka lantas ribut menanyakan alasan keterlambatanku.

” Udah! Udah! Ceritanya itunya lain kali aja ya? Sekarang Kak Belind mau cerita dulu tentang Nabi yang dimakan ikan paus! Mau denger ceritanya nggak?”

” Mauuu!!!” mereka buru-buru berdesakan mencari tempat duduk.

***

Siang itu terasa gerah sekali di dalam pondokan. Kipas angin yang ngotot berputar itu tak juga bisa meredakan panasnya udara. Aku berjingkat keluar kamar dan berhati-hati melompati sosok Ratna, Cici, dan Yunda yang tidur berjajar di depan pintu. Putri, Selvi, dan Nopik sedang asik masyuk menonton film korea di kamar depan, tidak mengacuhkan aku yang berjalan ke luar rumah. Di luar, udara segar menerpaku. Sepi! Anak-anak pasti sedang tidur atau bermain di masjid. Teman-teman cowok pasti sedang tidur di pondokan sebelah. Aku memutuskan untuk duduk bersantai di kursi depan rumah pondokan saat kulihat sesosok pria kecilku sedang duduk sendiri di depan rumahnya. Melihat gelagat aneh itu, kudekati dia. Dia kaget melihat kehadiranku. Tampaknya tadi dia sedang melamun.

” Lagi ngapain O’?” tanyaku. Pria kecilku itu Rio namanya, namun kami semua memanggilnya Oo’. Usianya sekitar 5 tahun.

” Nggak ngapa-ngapain Kak!”

” Temen-temenmu mana? Kok kamu nggak ikut main?”

” Nggak Kak! Aku lagi sedih Kak!”

” Loh sedih kenapa sayang?” aku duduk disebelahnya dan membelai kepalanya.

” Aku pengen puasa Kak tapi nggak boleh sama ibuku! Masa Samsul aja boleh puasa tapi aku enggak?” Aku tertegun mendengar pernyataan dan pertanyaannya. Air mataku merebak begitu saja. Terharu!

***

Aku duduk diam tanpa bisa melanjutkan bacaan tilawahku. Pikiranku nyaris melayang ke Oo’ dan perbincangan kami tadi siang yang aku akhiri dengan nasihat bahwa jika dia sudah lebih besar maka dia akan diperbolehkan puasa seperti Samsul, temannya yang sudah kelas 5 SD. Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi Al Qur’anku. Sementara otakku terus berteriak, Mana mungkin Oo bisa puasa? Dia harus minum obat tiap 2 jam sekali agar ginjalnya yang bocor itu tidak menimbulkan masalah! Aku semakin tersedu mengingat kenyataan itu. Ya! Si Oo’ memang punya penyakit ginjal bawaan yang mengharuskannya minum obat setiap 2 jam sekali. Dia juga tidak boleh terlalu lelah agar penyakitnya itu tidak kambuh. Ya Allah.. Mengapa? Mengapa Engkau bebankan penyakit kepada anak sekecil itu, yang belum tau apa-apa? Adilkah? Aku mengusap air mataku dengan ujung mukenaku. Dan pengertian itu, tentang puasa? Mengapa dia bisa menginginkan puasa sebegitu besarnya, sementara aku dulu justru mengendap-endap di dapur mencuri makanan saat seusianya! Adilkah? Aku semakin tergugu, kuletakkan Al Qur’anku dan aku menutup muka dengan kedua tanganku, berusaha meredam suara tangis. Cici yang usai bertilawah menepuk pundakku bersimpati.

” Kenapa Bel?” remasan tangannya di bahuku sedikit menenangkanku. Aku mengusap wajahku dan tersenyum padanya,

” Nggak papa Ci! Aku hanya sedang cemburu!”

***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s