#fanfiction – little red riding hood (the confession)

“ Cepatlah!”

Mereka bergegas berjalan ke arah yang aku tunjukan. Aku benar-benar berharap mereka akan bisa lolos. Sementara itu, aku melahap semua makanan yang mereka simpan di dapur sehingga aku tampak kekenyangan bila kawananku kembali nanti.

Aku memasang telinga baik-baik, tapi semuanya sunyi. Kurasa sampai sejauh ini semua berjalan lancar. Aku sedang merebahkan tubuhku ketika kudengar teriakan itu. Jubah merah!

Aku melompat dan berlari sekuat tenaga! Sial! Apa yang terjadi? Aku mengendus udara dan mencium bau kawananku berada pada arah yang sama dengan gadis kerudung merah dan neneknya! Harusnya sudah kuduga!

Aku terus berlari dan menemukan kawananku sedang mengepung jubah merah serta neneknya.

“ Apa yang kalian lakukan di sini!” teriakku.

“ Wah wah wah.. lihat siapa yang datang? Serigala pengecut yang meloloskan buruannya?” serigala abu-abu itu angkat bicara.

“ Apa yang kalian lakukan di sini?” aku mengulangi pertanyaanku yang tak terjawab.

“ Kau tau? Seharusnya kami yang bertanya begitu! Apa yang kau lakukan sedari tadi? Mengapa buruan selezat mereka bisa lolos? Atau kau sengaja meloloskan mereka?” kini kami beradu hidung.

“ Kami sudah mengira kau akan bersikap pengecut! Karena kau memang serigala pengecut! Maka kami pura-pura berburu dan mengawasi keadaan. Tak kusangka, kau justru melepaskan buruanmu! Ayahmu pasti akan malu sekali padamu!” aku menggeram mendengarnya menyebut-nyebut ayahku.

“ Lepaskan mereka! Kita bisa cari mangsa yang lebih besar!”

“ Tapi persyaratannya adalah manusia! Maka kau akan bisa menduduki posisi alfa!”

“ Ya! Tapi mereka hanya gadis kecil dan wanita tua! Kurang menantang! Lepaskan saja mereka!”

“ Hohoho.. kau benar! Mereka memang kurang menantang. Baiklah, kita cari mangsa yang lebih besar. Seorang pria dewasa mungkin?”

“ Ya kau benar! Jadi biarkan mereka pergi.”

“ Aha, tapi kurasa mereka berdua pantas untuk makanan pembuka!” kawananku berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Secara refleks aku melompat ke depan mereka dan memasang posisi pertahanan. Mereka berhenti.

“ Hei hei! Apa yang terjadi di sini bung? Mengapa kau begitu ingin mereka selamat?”

“ Bukan urusanmu!” aku menggeram.

“ Baiklah kalau begitu! Semuanya, maju!”

Aku menggigit, mendorong, mengayunkan cakar besarku dan berusaha melukai mereka sebanyak mungkin. Aku bertarung sekuat tenaga melawan kawananku sendiri. Aku beruntung dianugerahi tubuh yang lebih besar dari mereka, karena aku keturunan seorang alfa.

Tapi tetap saja, seekor serigala takkan sanggup melawan 6 serigala sekaligus. Ada saat aku lengah, punggungku digigit oleh salah satu dari mereka. Sakitnya tak terperi. Aku terjatuh, yang lain memanfaatkan kejatuhanku dengan mengoyak kaki belakangku. Aku hanya bisa melolong kesakitan mereka mengeroyokku sekaligus. Aku masih berusaha menggapai tubuh-tubuh mereka dengan taringku yang tajam tapi sia-sia. Aku habis. Yang kudengar saat kesadaranku semakin menipis adalah teriakan si jubah merah, disusul geraman dan lolongan kemenangan kawananku. Lalu semua hening.

Aku terbangun, tubuhku terasa dingin. Rasa sakit di punggungku telah sebegitu menyakitkan hingga aku merasa telah memiliki luka itu sejak lama. Lalu aku merasa setetes air jatuh ke moncongku. Saat ku membuka mata, gadis berkerudung merah itu sedang memelukku. Dia menangis.

“ Bagaimana?”

“ Ssst.. diamlah, kau pasti sangat kesakitan!”

“ Bagaimana kau selamat!”

“ Para pemburu. Mereka menembaki kawananmu. Serigala abu-abu itu mati. Tapi yang lain berhasil lolos.”

“ Syukurlah kau selamat.”

“ Aku akan membawamu dan merawat lukamu!”

“ Jangan! Tolong jangan!”

“ Tapi kau terluka!”

“ Aku pantas mendapatkannya!”

“ Kau harus bertahan!”

“ Tidak, kurasa semua ini sudah akan berakhir!”

“ Jangan berkata begitu! Kau begitu ingin menyelamatkan aku dan nenekku. Aku juga ingin menyelamatkanmu! Bertahanlah!”

“ Aku tak pantas mendapatkan kebaikan semacam itu jubah merah yang cantik!” dia memelukku semakin erat. Sementara kesadaranku semakin menipis. Tapi aku cukup bahagia, kurasa aku akan mati, tapi aku akan mati di pelukan manusia yang kucintai.

“ Serigala, mengapa kau begitu ingin aku selamat?” dia berbisik di telingaku. Aku terdiam.

“ Beritahu aku! Kumohon.” Dia membelai perutku. Tubuhku gemetar. Dia memelukku lagi.

“ Aku..”

“ Ya?”

“ Kupu-kupu.”

“ Kupu-kupu?”

“ Kupu-kupu dalam perutku jika.. aku.. kupu-kupu itu beterbangan di perutku.. karena dirimu..” kalimat itu membuat tubuhku lemas. Napasku habis. Kukira.

Semua menjadi gelap dan dingin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s