#fanfiction – little red riding hood (the wolf is falling in love)

Semua ini akan berjalan sangat mudah seandainya saja dia tidak.. mm.. begitu mempesona. Mata bulatnya yang berwarna coklat dan cemerlang telah menyihirku begitu rupa. Membuatku selalu ingin menatapnya, lagi dan lagi. Belum lagi lesung pipinya yang selalu tampak saat dia tersenyum.

Salah! Semua ini salah! Dia seharusnya jadi santapan penutup yang lezat setelah aku memakan neneknya nanti. Tapi bagaimana mungkin aku tega memakannya sedangkan suara merdunya selalu membuat kupu-kupu beterbangan dalam perutku setiap kali dia bernyanyi?

Apa yang sedang kurasakan ini? Mengapa aku begitu senang berdekatan dengannya? Bukankah seharusnya aku jadi predator kejam yang bersiap untuk makan istimewa? Mengapa aku melumpuh begini?

“Nek? Nenek dimana?” ah itu dia si suara merdu sedang memanggilku.

“ Ya sayang..” ups, aku lupa mengecilkan suaraku. “ Ehem.. Ya sayang, nenek di dapur, sedang memasakkan sup ayam untukmu!” gadis itu muncul dari ruang makan, mengenakan jubah merah kesayangannya.

“ Ah, nenek seharusnya tak usah repot-repot begini! Nenek kan sedang sakit! Duduklah Nek! Biar aku yang melanjutkannya!” dia mengambil alih masakanku. Aku menurut saja karena lagi-lagi tak tahan melihat matanya yang coklat berkilau.

Aku memejamkan mata menikmati suaranya saat dia mulai bersenandung.

“ Ini nek, sup untuk nenek. Mau kuambilkan kue bagel?”

“ Ah tak perlu. Ini saja cukup!” gadis itu tersenyum. Perutku seperti tersapu gelombang karenanya. Dia mengambil supnya sendiri dan duduk di hadapanku.

“ Sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama di sini nek! Tapi aku tak bisa berlama-lama. Ibu pasti sangat kerepotan mengurus rumah.” Katanya. Aku tersedak mendengarnya.

“ Uhuk.. uhuk..”

“ Ah, hati-hati Nek! Supnya masih panas!” dia bergegas mengambilkan secangkir air untukku.

“ Terima kasih sayang!” aku meneguk air itu yang terasa lebih segar daripada biasanya.

“ Kau tau nek? Nenek punya mata yang sangat besar dan indah!” aku meliriknya sesaat, dia sedang memperhatikanku.

“ Aku sangat iri melihatnya, mengapa mata itu tidak diturunkan kepadaku ya Nek?”

“ Ah sayang, matamu sendiri sangat indah. Dengan memandang matamu, hatiku terasa sangat sejuk sayang!”

“ Nenek bisa saja!” dia tersenyum malu-malu.

“ Mm.. nenek tau? Mm.. ada seseorang, seorang pemuda. Umurnya lebih tua setahun dariku. Dia, dia sangat tampan. Dan dia sering memuji mataku.”  Baiklah, sekarang apa? Kenapa hatiku memanas mendengar dia bercerita begitu? Lalu mengapa wajahnya memerah seperti itu?

“ Apakah, apakah Nenek pikir, mm.. pemuda itu mencintaiku?”

“ Mencintaimu? Oh, uhuk.. uhuk.. mencintaimu?” aku tersentak. Apa itu mencintai?

“ Oh tidak! Pasti aku hanya berkhayal, iya kan nek? Pasti nenek pikir begitu kan? Ah, aku malu sekali!” dia menutup mukanya.

“ Mengapa harus malu?”

“ Ah Nenek! Apakah, jangan-jangan, aku kah yang sudah jatuh cinta padanya?”

“ Memangnya apa yang kau rasakan?”

“ Entahlah Nek! Aneh sekali rasanya. Aku senang jika dia berada di dekatku. Aku senang saat dia menatap mataku, seolah ada kupu-kupu beterbangan dalam perutku.” Wajahnya berbinar saat menceritakan itu semua kepadaku. Tapi entah mengapa hatiku justru semakin memanas. Bahkan terasa sedikit sakit. Walau begitu, aku kini memahami sesuatu,

“ Jadi itu yang kau sebut jatuh cinta?”

“ Ewww.. iya, apakah menurut Nenek aku berlebihan jika menyebutnya jatuh cinta? Ataukah itu hanya sekedar rasa kagum?”

“ Entahlah sayang! Entahlah!” aku sudah tak memperhatikan dia lagi. Pikiranku dipenuhi ide baru tentang apa yang kurasakan. Jadi aku jatuh cinta? Kepadanya? Mangsaku?

“ Ooh, tapi pastinya nenek pernah jatuh cinta kan? Karena kalau tidak, aku tak mungkin bisa terlahir di dunia!”

“ Em, iya benar! Aku pernah jatuh cinta!” kini aku merasa wajahku memanas. Semoga dia tidak menyadarinya! Aku harus segera mengalihkan perhatiannya.

“ Ah sayang, maukah kau menurunkan pakaian yang kujemur sementara aku akan membuatkan coklat panas untukmu?”

“ Coklat panas? Asiik!!! Baiklah nek, tapi kubereskan dulu mangkuk supnya!”

“ Ah tinggalkan saja! Biar nenek yang bereskan!” aku mendorongnya keluar dari dapur. Aku perlu menenangkan pikiran dan memikirkan ide baru ini.

Jadi inilah yang namanya cinta? Jadi aku jatuh cinta padanya? Jadi itukah sebabnya hingga aku tak sanggup memakannya? Itukah yang menjadi alasan gelombang besar yang kurasakan di dalam perutku setiap kali melihat dia tersenyum? Itukah mengapa aku sangat merasa tenang melihat matanya yang coklat dan suaranya yang merdu?

Jadi aku jatuh cinta?

Rasanya aku ingin melolong.

 

 

next story:

saving the girl

the confession

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s