#AwanAngin – Pagi Selalu Indah

Aku melangkah dengan hati-hati menuju perbukitan yang sangat kukenali. Matahari bahkan belum bangun, tapi aku begitu kenalnya dengan jalan setapak berbatu ini hingga bisa berjalan dengan leluasa tanpa perlu cahaya untuk menerangi. Sepanjang perjalanan ke tempat yang sedang kutuju, aku kembali memikirkan keputusan ini, yang baru kubuat setengah jam lalu.

Aku tak pernah menyangka bahwa ide untuk mengunjungi tempat ini lagi akan muncul di kepalaku. Tidak, sebenarnya ide itu terlalu sering muncul. Hanya saja aku tak pernah mempertimbangkannya untuk benar-benar melakukannya karena aku buru-buru menyibukkan diri sehingga ide itu terlupakan begitu saja. Tapi bulan ini adalah bulan istimewa. Aku bergelut dengan pikiran dan hatiku selama lebih dari seminggu sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kemari dengan membawa benda-benda yang sekarang kujinjing di tangan kananku. Aku kembali lagi ke lapangan tempatku dan.. aaah.. hatiku pikiranku, menolak meneruskan kalimat tersebut.

Aku menyelip-nyelip di antara sesemakan yang tumbuh makin liar. Kentara sekali jalan setapak ini tak pernah lagi dilalui. Mungkin sejak 8 bulan yang lalu. Sejak aku memutuskan untuk tak akan lagi mengunjungi tempat ini. Jalanan yang kulalui mulai mendaki. Membuat tubuhku bekerja lebih cepat dan menghasilkan panas, mengurangi rasa dingin dari udara pagi ini. Kakiku yang tertutup celana panjang terlindung dari duri dan ranting tajam semak-semak. Tapi tanganku tak luput dari goresan. Perih yang menggigit kutahan saja seperti biasa. Aku terus mendaki hingga jalan setapak meluas dan berakhir di puncak bukit yang mendatar. Dari sudut ini aku dapat melihat batu besar berwarna kehijauan karena lumut. Aku duduk di atasnya dan memandang langit tanpa berani memandang apa yang ada di bawah bukit hingga leherku terasa pegal karena terus mendongak. Akhirnya aku menarik napas panjang, menutup mata, dan menguatkan hati. Kubuka mata perlahan-lahan. Sesak tiba-tiba mencengkeram jantungku melihat pemandangan di hadapanku.

Kedua pohon itu masih berdiri dengan kokoh di tepi lapangan di bawah bukit. Berdampingan namun berjauhan. Seakan menjaga jarak namun saling mengisi kekosongan masing-masing. Trembesi itu masih rimbun, seolah menatapku penuh kerinduan. Akasia itu masih rimbun, seolah menatapku penuh kerinduan. Dia juga menanyakan dimana tuannya berada. Aku menggelengkan kepala. Gelengan kepalaku itu untuk menjawab pertanyaan akasia, dan untuk meluruskan pikiranku, membuang segala imajinasiku. Percuma 8 bulan kuhabiskan dengan menyibukkan diri jika akhirnya aku tenggelam lagi dalam kepedihan itu. Keputusanku untuk mengunjungi tempat ini lagi pun bukan untuk kembali ke masa lalu. Aku hanya ingin membuat kenangan baru di atas kenangan lama yang menyakitkan. Seperti menimpa kanvas penuh lukisan dengan cat warna putih dan bersiap melukisinya lagi. Memulai lukisan yang baru. Dari awal.

Aku mengeluarkan benda-benda yang kubawa dari dalam kantung plastik. Duapuluhtiga balon, benang, dan duapuluhtiga kertas kecil yang telah kutulisi dengan duapuluhtiga harapan. Kumasukkan kertas-kertas itu ke dalam balon, masing-masing satu, kemudian meniup balon-balon tersebut dan mengikatnya dengan benang. Aku selesai mengerjakannya ketika mentari mulai menggeliat di ufuk timur. Keduapuluhtiga balon itu kuikatkan pada sebuah batu, lalu aku duduk takzim memandang langit timur yang berubah warna.

Udara perlahan menghangat sejalan dengan sinar mentari yang mulai merayapi kakiku. Aku menarik napas dalam-dalam dan melemparkan senyuman kepadanya yang baru saja bangun. Aku selalu senang tersenyum pada matahari yang baru terbit karena seolah dia akan membalas senyumku dengan jutaan ton semangat dan energi. Kulepaskan ikatan balon-balonku dari batu. Aku melangkah hingga ke tepi bukit. Memandang kembali kedua pohon itu, trembesi dan akasia, membayangkan mereka sedang mendongakkan kepala, menatapku sambil tersenyum. Aku mengangguk kepada mereka berdua, lalu melepaskan keduapuluhtiga balon yang berisi harapan-harapanku. Aku memandangi mereka yang terbang tertiup angin. Beberapa sempat berbenturan. Tapi mereka terus terbang tinggi. Menghiasi langit pagi dengan bintik-bintik berwarna-warni.

Satu tahun lagi berlalu,  Angin! Dan kali ini aku menerbangkannya sendiri. Tanpamu, pun Tuan Pelangi. Aku tersenyum senang. Hatiku buncah akan kegembiraan dan rasa haru. Aku anggap aku pun telah melepaskan segala rasa sakit yang pernah kualami. Pagi memang selalu indah.

Selamat ulang tahun, Angin!

Dari seberang lapangan, tampaknya Angin memperhatikan semua yang dilakukan oleh Awan. Dia berbisik, Selamat ulang tahun Awan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s