#archive – infected!

” Silakan duduk! Dengan siapa ya?” Karen tersenyum. Gadis itu menggeret kursi di depannya dan duduk dengan takzim.

” Siska Dok!”

” Mbak Siska ya..” Karen mengecek rekam medis gadis itu. ” Jadi ada keluhan apa nih?”

” Ini dok, gigi saya berlubang. Bisa dicabut kan dok? Soalnya jadi sering bau mulut gitu dok kayaknya.” Gadis itu berkata malu-malu sambil memegangi pipi sebelah kirinya.

” Oooh.. sudah berapa lama kira-kira berlubangnya?”

” Lumayan lama dok! Kayaknya sih setahun ada deh!”

” Gigi yang itu pernah terasa sakit?” Karen beranjak dari kursinya dan memberi tanda kepada gadis itu agar duduk di kursi gigi. Dia sendiri duduk di kursi operatornya. Perawat pendampingnya segera memakaikan masker dan menyerahkan sarung tangan kepada Karen setelah menyiapkan seperangkat alat diagnostik di meja kerja.

” Nggak pernah Dok! tapi saya takut nanti daripada sakit.”

” Iya ya! Nyiksa pasti sakitnya ya? Pernah ke dokter gigi sebelumnya?”

” Belum pernah Dok!”

Karen menyalakan lampu periksa dan mengambil kaca mulut. ” Coba saya periksa ya? bisa dibuka mulutnya?” Karen memasukan kaca mulut dan mulai memeriksa gigi yang dikeluhkan gadis itu. mengernyit melihat apa yang tersisa dari gigi pasien itu.

” Ngg.. iya, ini giginya sudah mati mbak! berlubang sebesar ini belum pernah terasa sakit?”

” Kayaknya sih nggak pernah Dok!”

” Dicabut saja gimana?”

” Iya nggak papa Dok!”

Karen meminta perawatnya untuk menyiapkan alat-alat untuk mencabut gigi. Sementara dia sendiri mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan serangkaian tes kepada Siska untuk memastikan bahwa dia bisa dicabut giginya. Karen juga meminta Siska untuk menandatangani surat pernyataan bahwa dia bersedia dicabut giginya.

Setelah semua siap, Karen, didampingi perawatnya, memulai prosedur pencabutan gigi. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencabut gigi Siska. Kira-kira dua puluh menit kemudian Siska keluar dari ruangan pemeriksaan dengan membawa selembar resep dari Karen.

” Ouch..” Karen mengaduh saat membasuh tangannya dengan sabun.

” Kenapa Ka?”

” Kayaknya kena sonde tadi. Perih nih!” Karen mengeringkan jari telunjuknya yang terasa sakit kemudian mengoleskan iodium pada lukanya.

” Tadi pasien terakhir kan Tik?” Karen membantu Tika, perawatnya, memasukkan peralatan ke dalam autoclave untuk disterilisasi.

” Iya Ka!”

Karen merebahkan badan ke kursi setelah menyelesaikan pekerjaannya dan melambai kepada Tika yang berpamitan pulang. Dia memandangi jarinya yang tertusuk sonde tadi. sudah tidak terasa nyeri karena lukanya tidak seberapa. Ya lukanya tidak seberapa. Hanya saja dia belum tau, luka kecil ini akan mengubah keseluruhan hidup dan cita-citanya.

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s