KAMU TAK PERNAH TAU BETAPA GILANYA AKU MENUNGGUMU!

Kamu ingin tau detailnya? Baiklah! Mungkin dengan ini kamu akan percaya betapa besarnya rasa cintaku kepadamu.

Aku akan menceritakannya, di mulai dari tempat di mana aku sering secara terang-terangan mencari-carimu. Dunia maya. Setiap kali aku online, hanya area pojok bawah kanan yang meresahkanku karena di sanalah notifikasi daftar teman yang sedang online akan muncul. Bahkan aku sering merasa pusing karena mataku berkali-kali melirik ke arah tersebut. Tentu saja aku selalu kecewa. Kamu tidak sedang online. Aku menunggu. Tapi memang kamu belum pernah terlihat online.

Jika sedang berada jauh dari laptopku, maka tanganku akan sibuk menggenggam smartphone. Mengecek setiap lima atau sepuluh menit sekali. Berharap melihat tanda gagang telepon dalam lingkaran berwarna hijau atau gambar amplop tertutup di sebelah kiri atas, tanda pesan masuk. Tapi tak pernah ada pesan, tidak darimu. Aku menunggu. Tapi memang kamu belum pernah mengirimiku pesan.

Atau setiap sore sekitar pukul 5, aku akan dengan sengaja mencari tempat yang nyaman. Menanti langit barat berubah warna, melihat surya ditelan cakrawala. Menunggumu datang menemaniku, lalu kita duduk berdua di beranda sambil menikmati pisang goreng dan teh hangat buatanku. Tapi semua itu omong kosong. Aku terus saja melewati senja-senja itu sendirian saja. Menelan pahit kenyataan bahwa kamu belum pernah hadir sekalipun. Jadi kuabadikan senja-senja itu dengan kamera. Akan kutunjukkan betapa seringnya aku berharap menikmati senja bersamamu.

Tidak hanya itu, kamu mungkin ingin tau, berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk belajar memasak. Merusuhi mama atau papa dengan meminta mereka menuliskan resep masakan keluarga kami. Mempraktekkannya dan berharap dapat menghidangkannya khusus untukmu. Tapi kemudian aku terpaksa menghabiskan semua masakanku sendiri, yang kurasa tak kalah lezatnya dengan masakan restoran terkenal sekalipun. Aku menunggu, hingga semua masakanku menjadi basi. Tapi sejauh inipun, kamu belum pernah datang untuk mencicipi.

Dan seluruh kesabaranku tercurahkan untuk menunggumu. Pria yang tak tau dimana rimbanya. Pria yang hingga kini belum juga mau menampakkan diri. Pria yang masih saja gemar bersembunyi. Membuatku pegal menengok ke arah pintu, berharap itu kamu yang datang bertamu. Tapi ternyata bukan. Kamu masih saja entah ada dimana.

“Ku akan menanti, meski harus penantian panjang.” Begitu mungkin ya? Mungkin Tuhan masih belum mengijinkanku bertemu denganmu. Mungkin saat ini aku masih belum pantas untukmu, atau kamu belum pantas untukku. Mungkin kita masih harus banyak belajar agar mampu memaknai kebersamaan kita nanti.

Aku menunggumu. Sejak kutau bahwa memang hanya kaulah yang pantas untuk kutunggu. Perlu waktu lama bagiku menyadari hal ini. Aku telah terlalu sering jatuh cinta, tapi mencintai hanya akan terjadi satu kali, dan itu kepadamu, My future husband!

Kamu tak perlu mengkhawatirkan apapun tentang hati dan rasa cintaku. Aku menjaga hatiku sejak saat itu. Berhati-hati untuk tidak lagi mencintai orang yang salah. Terus memupuk rasa cintaku padamu, yang entah siapa dan dimana.

Aku menunggu untuk menyampaikan ini kepadamu, juga untuk merasakan ini, bahwa ketika kamu memintaku untuk menemanimu menua, ketika kau ucapkan janji pernikahan kita, maka saat itulah aku bersumpah setia mengabdi kepadamu sebagai perwujudan rasa cintaku kepada Tuhan.

Konyolnya, kamu mungkin adalah seseorang yang sudah sangat sering aku temui. Atau seseorang yang sering mementionku di twitter, mengajakku mengobrol di YM. Atau mungkin seseorang yang pernah kukenal di masa lalu. Atau bahkan mungkin seseorang yang belum pernah kutemui sekalipun. Entahlah! Tak pernah ada nick name “your future husband” di online list maupun di phonebookku, juga belum pernah kutemui seseorang dengan secarik kertas menempel di dahinya bertuliskan “your future husband”. Kurasa semua itu masalah hati. Semua penantian ini kurasa hanya karena hatimu dan hatiku belum saatnya bertemu.

Aku takkan berhenti berdoa, memohon kepadaNya agar segera dipertemukan denganmu. Aku sudah terlalu lama menanggung rindu. Aku hampir saja tak dapat menahan perasaanku. Kamu tak pernah tau betapa gilanya aku menunggumu!

Tapi nanti aku pasti akan tau kamulah orangnya. Nanti, jika saat itu telah tiba. Aku masih akan menunggu. Bisa saja esok atau lusa, setahun atau dua tahun lagi. Dan mungkin nanti kita akan tertawa saat menyadari bahwa sesungguhnya aku dan kamu telah sering berpapasan jalan.

 

P.S. tulisan ini diikutkan dalam proyek #menunggu . Coming soon!😀

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s