Day #1: Membelah Jakarta Raya

Naek taksi, turun di Sektor 3 A deket STAN. Aku jemput di depan gerbang STAN ya Beb!

Aku baca lagi pesan singkat dari Aria, menimbang-nimbang, lalu membuka pesan yang lain.

Naek bus 44, turun Pondok aren, trus naek angkot jurusan jurangmangu.

Pesan dari Rian ini berusaha ku hapalkan. Tapi aku masih belum puas, aku membuka satu pesan singkat lagi.

Naek bus kota AC 41 jurusan ciledug, turun di pertigaan setelah pasar Cipulir, terus naek angkot kalo nggak 05 – 06, jurusan ceger.

Oke, agak rumit. Aku berharap pada pesan terakhir yang kuterima dari Dito baru saja.

Kalau dari Senen aku lupa nomornya, pokoknya cari yang ke arah Blok M. Kopaja atau metro mini bebas. Dari blok M, kamu cari Kopaja 613, itu turun depan STAN persis.

AHA! Ini lumayan simpel. Meskipun dalam otakku masih penuh pertimbangan, was-was, hitung-hitungan, tapi aku memutuskan saran Ditolah yang kupakai. Aku segera mengirim pesan kepada Aria bahwa aku akan ke Bintaro menggunakan angkutan umum saja. Dia segera membalas pesanku, kupikir akan marah-marah dan menentangku, tapi ternyata hanya bilang,

Iyaa.. hati-hati ya!

Lega, kulirik jam tanganku, lalu aku kembali menikmati pemandangan di luar jendela kereta. Setengah jam lagi sampai di Senen, dan beberapa saat lagi akan berjumpa denganmu Ar!

***

Jam di tanganku menunjukkan pukul 6.30, aku mengikuti arus penumpang yang berbondong-bondong menuju pintu keluar di Stasiun Pasar Senen sembari menyapu seluruh sudut lorong dengan pandanganku, mencari-cari kamar mandi. Sedikit menyesal mengapa tadi tidak cuci muka dulu di toilet kereta. Aku kan tidak mungkin menemui Aria dengan muka kucel dan bau mulut selepas bangun tidur seperti ini. Saat hampir mencapai pintu keluar, akhirnya aku menemukannya terselip di sebelah mushola. Untung tidak ada antrian. Aku langsung masuk ke bilik kamar mandi yang kosong dan segera mencuci muka serta menggosok gigi. Kuberikan selembar uang seribuan kepada petugas toilet, lalu aku keluar dari area stasiun dengan lebih percaya diri.

Selamat pagi Jakarta!

Seolah menjawabku dengan Selamat datang Deby!, aku langsung dihadapkan pada jalan keluar yang bercabang dua di pelataran stasiun. Salah jalan saja aku pasti akan kesulitan mencari angkutan. Belum lagi riuhnya para pengemudi ojek dan taksi yang memperebutkan aku.
Mampus!

Gambling, akhirnya aku memilih jalan keluar sebelah kiri. Jalan ini tembus langsung ke jalan raya. Aku bersyukur melihat seorang petugas polisi. Kalau ada seseorang yang paling tepat untuk kamu tanyai, yang takkan menipumu saat kamu bertanya jalan, adalah seorang polisi. Maka dengan sopan aku menyapanya.
“ Pak maaf, kalau mau ke Blok M bisa nyetop angkot dari sini kan ya?” dan seketika itu prinsip bertanya-pada-polisi gugur sudah. Polisi yang satu ini tampaknya sama bingungnya denganku. Saat sedang bingung-bingungnya, sebuah taksi warna putih datang dengan gagahnya.
“ Ya sudah Pak saya naik taksi saja. Makasih pak!” kuberikan cengiran ekstra ramah buat si bapak polisi yang masih terbengong-bengong. Aku segera memasuki taksi, duduk di samping pengemudi seperti kebiasaanku.
“ Bintaro ya Pak! Sektor 3 A.”
“ Lewat mana mbak?”
“ Nggg.. yang paling dekat aja lah!”
Taksinya pun melesat membelah jalanan Jakarta Raya.


“ Dari mana mbak?”
“ Jogja Pak!”
“ Ooh.. wong Jogja! Kuliah di sana?”
“ Iya!”
“ Di mana?”
“ UGM.”
“ Jurusan?”
“ Kedokteran Gigi.”
“ Waaah mantap! Sip tenan! Calon dokter nih!”
“ Amiiin.. hehehe.. bapak udah lama naksi?” akhirnya aku melontarkan pertanyaan standar nomer 1 yang biasa kutanyakan kepada supir-supir taksi yang kutumpangi.
“ Baru kok saya. Baru 5 bulan.”
“ Ooh.. aslinya mana?” pertanyaan standar nomer 2.
“ Cibubur.”
“ Ooh Cibubur.”
“ Tau?”
“ Tau kok!”
“ Mana coba?”
“ Yaaa.. tau kan gak harus tau letaknya kan? Hehehe…”
Percakapan pun mengalir. Supir taksi yang umurnya mungkin sekitaran late 20 atau mungkin early 30 ini ternyata gokil abis. Dia tak pernah habis mengajukan tema perbincangan. Membuat perjalanan membelah Jakarta jadi tidak begitu membosankan. Dia banyak membicarakan soal kehidupan sosial. Dia juga menanggapi pertanyaanku dengan baik.
“ Asik ya Jakarta pagi hari tuh!” celetukku.
“ Iya asik. Tapi kalau udah siang, padet.. errgh..”
“ Aku sebenernya pengen loh tinggal di Jakarta.”
“ Yasudah pindah ke sini aja.”
“ Ndak deh, aku mah tergantung suami saja. Dia mau kemana akunya ngikut.” Si supir taksi lantas menengokku.
“ Loh, udah berkeluarga?”
“ Ah belooom!!! Tapi nanti kalo dah nikah akunya ikutan suami Pak! Hehehe..”
“ Oh bagus-bagus.”
Obrolan kembali tak berarah. Dia tipe orang yang supel dan mudah dekat dengan orang sepertinya. Si supir taksi bahkan mulai berani melempar ‘kode’ kepadaku. Aku jadi curiga dia sengaja salah jalan untuk menghabiskan waktu lebih lama denganku. Mendekati daerah Bintaro pun dia malah mengajak sarapan terlebih dahulu. Aku menolak dengan alasan sudah ditunggu teman dan memang Aria beberapa kali meneleponku.
Akhirnya kami tiba di depan gerbang STAN. Melihat Aria yang sudah berdiri di pojok gerbang, pak supir itu lantas menyeletuk dengan nada kesal,
“ Ah pantesan, pacarnya ganteng begitu!”
Aku tertawa dan memberikan uangku.
“ Teman kok Pak! Hanya teman! Hahaha..”
Aria membantuku mengangkat tas yang kuletakkan di jok belakang. Aku menutup pintu taksi setelah mengucapkan terima kasih kepada si supir gokil. Well, Halo Bintaro!

***

baca cerita lainnya:

Day #2: Jakarta Itu Keras

Day #3 (part 1): Mengejar Kereta Galau

Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Day #3 (part 3): Terbit Senja

Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s