day #2: Jakarta Itu Keras

Aria meninggalkanku di kamarnya dan berkata akan menunggu di ruang makan di lantai bawah untuk memberiku keleluasaan mandi. Cukup 30 menit bagiku membersihkan diri, aku pun merasa segar kembali setelah hampir 12 jam tertekuk-tekuk di dalam kereta. Aku turun ke ruang makan untuk bergabung dengan Aria dan Bang Ruddy. Sarapan telah menanti.

“ Nila udah selesai beresin kamarnya Beb. Habis ini kuantar kamu ke sana buat naruh barang-barangmu ya!” kata Aria.

“ Iya. Eh ya, aku sebenernya pengen jengukin Mamanya Dewi di Jakarta Medical Center.” Sahutku.

“ Mamanya Dewi sakit? Sakit apa Deb?” tanya Bang Ruddy.

“ Tipes katanya Bang!”

“ Oh yaudah, habis ini berarti kita langsung ke sana aja. Di deket Kemang kan ya? Ke sananya gimana Rud?” tanya Aria. Percakapan berikutnya kabur bagiku. Membicarakan rute angkutan di Jakarta bukanlah topik favoritku. Aku tak pernah bisa membayangkan di mana, naik apa, semua asing. Ya iyalah!

***

Pukul 11, seusai aku memindahkan barang-barangku di kos Nila, teman Aria yang bersedia menampungku selama aku di Bintaro, dan beramah tamah dengannya, aku dan Aria berangkat menuju Jakarta Medical Center. Kami naik angkot dan terjebak macet di Tanah Kusir. Aria mulai menggerutu karena kepanasan. Tapi kemudian dari sanalah obrolan kami berkembang. Kami bicara soal udara panas, bicara soal mimpi, bicara soal pendidikan, bicara soal olahraga, lalu bicara soal udara panas lagi.

Pembicaraan kami terpotong saat seorang anak berusia sekitar 5 tahun menaiki bus diikuti oleh ibunya. Mereka mengamen. Hatiku trenyuh tapi enggan menatap mereka. Aku diam saja dan memandang keluar jendela bus. Aria memberikan beberapa uang koin pada mereka. Aku memandangi kedua sosok itu turun dan bergumam,

“ Anak itu, bakalan di sekolahin nggak ya?”

“ Apa Beb?” tanya Aria, rupanya dia mendengar. Aku mengulang kata-kataku. Dia tersenyum kecut.

“ Yah, buat orang-orang seperti mereka, jangankan sekolah, buat makan aja susah!” celetuk Aria. Itu komentar paling klise yang paling aku benci. Kalimat yang menunjukkan bahwa betapa putus asanya seorang yang miskin papa itu. Tapi memang begitulah keadaannya.

“ Aku benar-benar nggak habis ngerti loh Beb! Kalau aku liat deretan mobil yang parkir di GI atau di mall-mall lain gitu, kadang aku jadi nggak percaya bahwa Indonesia itu negara miskin. Banyak jaguar berbaris di sana.”

“ Di Jakarta emang banyak kesenjangan ya. Antara yang miskin dan yang kaya. Dan di negara kita ini, orang-orang hidup dengan apa yang ada di depan mata mereka. Si miskin ya hidup dengan memandang kemiskinannya, si kaya ya hanya memandang kekayaannya. Maka apa yang mereka cari ya masing-masing berputar di sekitar itu aja. Akibatnya, yang miskin tambah miskin, yang kaya tambah kaya.” komentarku.

Oke, sampai di sini aku merasa topik pembicaraan kami semakin serius (dan absurd, mengingat kami membicarakannya di dalam bus kota).  Aku mendengarkan dengan seksama saat dia mulai menceritakan mimpi-mimpinya, harapan-harapannya, target-targetnya. Aku merasa jauh lebih mengenal Aria. Aku pun juga menceritakan impianku kepadanya. Hingga tak terasa kami sampai di kawasan Blok M.

“ Jakarta itu keras Beb!” katanya menambahkan sebelum kami turun dari bus dan mencari bus Transjakarta. Aku mengamininnya dengan anggukan.

Hidup itu tidak terlalu keras kok. Kita hanya perlu mengikuti ritmenya. Ritme, bukan arus! Turut tapi jangan terbawa, kita tetap harus punya ketukan kita sendiri.

***

baca cerita lainnya:

Day #1: Membelah Jakarta Raya

Day #3 (part 1): Mengejar Kereta Galau

Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Day #3 (part 3): Terbit Senja

Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s