melepaskanmu

Aku mengirimkan sebuah pesan singkat berisi permintaan untuk bertemu kepadanya. Dia, seperti biasa, menyetujuinya dengan senang hati. Aku segera membereskan meja kerjaku dan berangkat menemuinya.

Aku tiba di tempat perjanjian setengah jam sebelum waktunya. Aku memang sengaja datang lebih dulu, kupikir aku bisa melatih sedikit apa saja yang akan aku bicarakan kepadanya, lebih tepatnya, bagaimana aku menyampaikannya.

Dia datang empat puluh lima menit kemudian, terengah-engah namun tersenyum sumringah. Dadaku menyesak melihatnya. Bagaimana pula urusan ini akan mudah jika melihat senyumnya saja membuatku ingin menangis.

“ Maaf aku terlambat! Ada sedikit keributan di depan kantorku, membuatku sulit mendapatkan taksi untuk kemari. Sudah pesan sesuatu?” dia meraih daftar menu yang ada di depanku. Membuka-bukanya, lalu seperti merasa ada yang aneh, dia menatapku.

“ Ada apa?” tanyanya. Pertanyaan yang menohok. Aku menggeleng.

“ Pesan saja dulu!” kataku sambil tersenyum.

Kami memesan beberapa menu dan langsung menyantapnya ketika pesanan kami datang. Perbincangan ringan di sela makan siang kami ini membuatku sedikit rileks.

“ Well, jadi ada apa? kamu ada masalah?” tanyanya kembali. Tampaknya memang sudah saatnya kami membicarakan inti permasalahan. Aku menghela napas panjang sebelum mulai bicara.

“ Kamu tau aku masih mencintaimu?” tanyaku. Dia mengangguk.

“ Kamu tau persis aku menunggumu?” dia mengangguk lagi.

“ Tapi kamu juga tau kan aku tidak menutup hati untuk yang lain?”

“ Ya. Kita sepakat dengan hal itu. Jadi?” aku membiarkan pertanyaannya menggantung tak terjawab.

“ Apa kamu..” dia menebak-nebak.

“ Dua bulan ini, aku dekat dengan seseorang. Aku mengenalnya di sebuah seminar. Kami saling bertemu. Tak terasa..”

“ Kamu jatuh cinta?”

“ Ya, dan dia juga.”

“ Lalu?”

“ Semalam dia melamarku.” Aku menatap wajahnya. Ada bayangan terluka di matanya.

“ Aku belum menjawabnya. Aku ragu.” kataku pelan.

“ Kenapa.. ragu?” suaranya serak.

“ Kamu.”

“ Jangan jadikan aku penghalang kebahagiaanmu.” Sergahnya.

“ Apa kamu masih tetap pada pendirianmu?” tanyaku dengan nada memohon.

“ Kuliahku belum selesai, sulit mengatur jadwal kantor dengan jadwal kuliahku. Aku masih belum bisa sepadan denganmu.” Suaranya sudah mulai tegas.

“ Perasaanmu?” aku memandanginya. Dia menunduk sambil mengaduk-aduk sedotan dalam minumannya. Aku menyampaikan harapanku,

“ Aku takkan.. jika seandainya.. ternyata kamu..”

“ Sudahlah jangan pedulikan aku! Bertahun-tahun kamu menungguku dan aku masih saja belum bisa menerimamu. Sudah saatnya kamu mendapatkan kebahagiaanmu sendiri!” potongnya cepat. Aku menghela napas panjang. Dia keras kepala. Masih saja. Baiklah.

“ Baiklah. Aku akan menikah dengannya!” aku mengeraskan suaraku, menyembunyikan nyeri dalam hatiku. “ Aku akan melepaskanmu.” Sambungku.

Dia menatapku, tersenyum, terluka. Aku membalas senyumnya, terluka.

 Aku meninggalkan yang tak perlu-perlu. Aku meninggalkanmu di sini, mengambil hatiku kembali. Menyisakanmu sebagai kenangan. __ Belindch

3 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s