Day #3: Mengejar Kereta Galau

Semua tentang transportasi di Jakarta itu tidak bisa diprediksi. Selalu saja ada kejutan. Macet, jalan ditutup, banjir (eh, itu di Semarang ding!), tapi yang jelas macet. Maka aku dan Aria berangkat pagi-pagi sekali di hari Minggu dari Bintaro demi mengejar sampai di Stasiun Bogor pukul 9. Kami naik angkot lalu naik KRL dari Stasiun Pondok Ranji dan sampai di Stasiun Tanah Abang sekitar pukul 7. Kami langsung membeli makanan untuk mengganjal perut. Hehehe..

Tadinya kami akan naik KRL jurusan Manggarai kemudian transit dan pindah ke KRL jurusan Bogor. Tapi setengah jam menanti rupanya kereta jurusan Manggarai yang kami tunggu tak juga hadir. Kemudian kami dikejutkan oleh pengumuman bahwa KRL di jalur 5 berakhir di stasiun Bogor. Aku memandang Aria bingung, dia balas memandangku dengan raut muka tercengang, seolah kesadaran baru saja memasuki pikirannya. Dia berlari ke loket dan membeli tiket untuk KRL yang baru saja datang kemudian kami berlari-lari ke jalur 5. Kurang satu anak tangga saja, kalau saja tadi kami tidak sibuk berpandang-pandangan dengan bingung, maka kami akan bisa naik KRL yang baru saja melaju. Aaah apes!

“ Kok ya nggak daritadi aja kita naek yang jurusan Bogor ya? Hehehe.. Ya udah, sekalian nungguin temenku Beb! Mereka lagi otw ke sini. Katanya nyampe 10 menit lagi.” Kataku kepada Aria. Aria menghabiskan kue sus dan sosis solonya sembari menunggu. Kami bercakap-cakap ringan membicarakan teman-teman SMAku yang nanti akan kami temui. Oya, hari ini kami akan pergi ke Bogor untuk menghadiri pernikahan teman SMAku. Rencananya, kami dan teman-teman SMAku yang lain akan berkumpul di Stasiun Bogor pukul 9 pagi dan berangkat ke tempat resepsi dengan mobil sewaan. Seorang temanku, Ardhi, juga berangkat dari Jakarta seperti aku dan Aria. Awalnya sih kami tidak janjian. Tapi ketika kubilang aku berangkat dari Tanah Abang, dia minta ditunggu karena 10 menit lagi dia akan tiba di stasiun.

Sepuluh menit lewatnya dari waktu yang dijanjikan dan dia belum datang, aku pun meneleponnya. Rupanya dia sudah sampai di stasiun dan berkata akan segera datang ke tempatku menunggu. Lima menit menunggu tapi dia tak juga muncul. Dari dulu Ardhi memang tidak bisa diandalkan soal arah. Di Semarang saja dia nyasar. Tak lama dia muncul. Aku langsung mengomel setelah memperkenalkannya pada Aria. Tampaknya dia datang kemari dengan kedua teman yang lain, Freddy dan Randhy.

“ Suruh mereka kesini!” pintaku. Ardhi mengirim pesan pada keduanya dan kemudian mereka bergabung bersama kami.

“ Yakin Deb keretanya di jalur ini? Soalnya tadi waktu di atas petugasnya bilang suruh nunggu di atas aja karena nggak pasti datangnya di jalur 3 atau 5.” Kata Ardhi. Lalu aku pun menceritakan mengapa aku dan Aria menunggu di jalur ini. Akhirnya mereka sepakat menunggu di jalur ini saja.

“ Jakarta Bogor berapa jam sih?” tanya Ardhi.

“ Satu jam kok! Sekarang masih setengah 8.” sahutku.

“ Oh ya pas nanti kita sampai sananya!” katanya.

Kami kembali mengobrol untuk membunuh waktu hingga akhirnya sebuah pengumuman terdengar.

“ Eh? Kereta Bogor jalur 3!” seru Freddy. Kami spontan lari menaiki tangga, berbelok ke kanan dan terburu-buru menuruni tangga. Kami sampai di jalur 3 tepat ketika kereta berangkat. Terlambat hanya satu detik. Sial!

“ Pak, KRL ke Bogor jam berapa lagi Pak?” Aria bertanya kepada petugas pencatat kereta.

“ Sembilan tiga puluh.”

“ Jalur berapa Pak?”

“ Wah saya sendiri juga tidak bisa memastikan. Soalnya daritadi di jadwal ditulis jalur 3 tapi malah masuk jalur 5, tapi yang ditulis jalur 5 masuknya jalur 3.”

“ Aiish.. yaudah nunggu di atas aja yuk!” aku dengan kesal menaiki tangga menuju bangku di ruang tunggu. Mereka berempat mengekor di belakangku.

Aku menghempaskan diri di bangku deretan terdepan. Aria duduk di sampingku dan meletakkan tas ransel hitamnya sembari meminta tissue kepadaku.

“ Tiga kali loh ketinggalan keretanya! Bisa-bisanya dibikin galau sama jalur KRL! Huh! Aku nggak kebayang Beb gimana kalau aku kemarin nekat ke Bintaronya naek bus!” kataku seraya memberikan sehelai tissue kepadanya.

“ Lha iya! Kamu emang sukanya macem-macem!” sahutnya.

“ Aku pikir kamu bakalan marahin aku loh!”

“ Iya tadinya! Aku mikir ‘Ni anak apaan sih malah mau pake bus?’ tapi yaudah aku iyain aja biar kamu ngerasain gimananya.”

“ Hehehe.. kalo kayak gini sih, naek kereta sendiri juga aku kayaknya nggak berani! Untung aku kemaren nyerah dan milih naek taksi. Hehehe..”

“ Dasar kamu ini!” Aria tertawa sambil menepuk kepalaku dengan gemas.

***

baca cerita lainnya:

Day #1: Membelah Jakarta Raya

Day #2: Jakarta Itu Keras

Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Day #3 (part 3): Terbit Senja

Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s