Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Sunny.. Sunny.. apa kabarmu? kabarku baik-baik saja..

Pernahkah kamu punya seorang Sunny seperti BCL? Seseorang yang kamu kagumi diam-diam tanpa pernah berani mengungkapkannya? Seseorang yang akhirnya ternyata bukan buat kamu tapi dia pernah menjadi bagian terindah dalam hidupmu? Pernah membuat hidupmu berwarna-warni?

Ya, aku juga pernah.

Dan aku tak menyangka akan bertemu dia lagi. Sebenarnya menyangka sih! Karena sebelumnya si Bagus, salah satu teman SMAku, sempat menanyakan nomor handphonenya kepadaku. Berhubung aku tidak punya, maka kumintakan kepada teman yang lain.

Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan Sunny-ku. Terakhir kali kalau tidak salah waktu malam pergantian tahun baru 2007 ke 2008. Sejak saat itu pula aku juga berhenti mengagumi dia karena satu dan lain hal yang membuatku hilang rasa kepadanya.

Kalian ingin tau kisahnya? Aah.. rasanya seperti masuk ke mesin waktu dan kembali ke sekitar tahun 2003. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, saat itu pula hatiku menunjukkan ketertarikan kepadanya. Bahkan setelah 2 tahun lulus dari SMA aku masih saja mengaguminya. Dia pernah menjadi matahari penyemangat buatku. Karena dialah aku memacu diri untuk bisa berprestasi. Karena aku tak pernah mau kalah, aku ingin menunjukkan bahwa aku sebanding dengannya. Karena aku gak bisa dapetin dia, paling gak aku bisa setingkat sama dia. Silly ya? Hahahaha..
Dan di sanalah dia, duduk di antara teman-teman SMA-ku yang sedang menunggu rombonganku di KFC Stasiun Bogor. Tak banyak berubah dari 3 tahun yang lalu kecuali bertambah gempal dan montok. Ups.. aku menyalami satu per satu teman-temanku tak terkecuali dia, lalu sibuk mencari tempat duduk.

Oh tidak! Aku tidak salting! Aku juga tidak gugup, aku tidak grogi, aku juga tidak deg-degan. Aku hanya.. yah, sedari dulu memang aku tidak pernah bisa bergaul luwes dengan dia. Ada sekat penghalang  yang sangat tinggi yang dia bangun di antara kami, eh, di antara dia dengan orang-orang yang derajatnya (dia rasa) lebih rendah darinya. Kalau aku bilang sih, arogan.

Mungkin yang aku miliki dulu adalah perasaan memuja ya, kagum, tapi bukan untuk memiliki. Karena aku sadar diri siapa aku, dan aku tau dia mencintai seseorang. Maka aku tak merasa apa-apa ketika dia mengumumkan bahwa dia akan menikah pada bulan 6 nanti.

Aku sudah tidak mengaguminya, tapi ya, aku masih segan bergaul dengannya.

Aria berbisik kepadaku, “ Seenggaknya kamu dateng ke sini sama cowok Beb! Hehehe.. “

***

baca cerita lainnya:

Day #1: Membelah Jakarta Raya

Day #2: Jakarta Itu Keras

Day #3 (part 1): Mengejar Kereta Galau

Day #3 (part 3): Terbit Senja

Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s