Dari Awal

Aku  memasukkankan semua benda yang mengingatkanku kepada Jendra ke dalam kardus bekas air mineral.  Semua foto, bunga pemberiannya yang kuawetkan, baju-baju pemberiannya, juga diaryku yang memuat semua kisah antara aku dengannya. Semua sudah berakhir. Barang-barang ini akan kubakar di pekarangan belakang rumah nanti sore. Biar hangus, biar jadi abu semua kenangan kami. Aku ingin melangkah maju.

***

Sudah bukan rahasia bahwa Jendra adalah tipikal playboy yang senang berselingkuh. Aku sudah paham dengan tabiatnya. Itulah mengapa aku tidak pernah mau menghiraukan dia. Tapi perjuangannya dalam mendapatkanku membuatku luluh. Dia tak juga gentar walaupun hampir 2 tahun aku bersikap dingin kepadanya. Kupikir dia telah berubah, dan memang dia telah berubah. Selama menjadi pacarku dia selalu setia kepadaku. Bahkan orang-orang di sekeliling kami pun memuji perubahan Jendra. Mereka bilang aku telah berhasil mengubah Jendra. Mereka bilang sepertinya memang akulah jodoh Jendra, yang dapat menaklukkan Tuan Cassanova ini. Ak senang, aku bahagia, aku pun semakin menyayangi Jendra.

Tapi tampaknya tabiat tak bisa diubah. Beberapa bulan terakhir menjadi malapetaka ketika Jendra mendapat tugas Kuliah Lapangan dan bertemu seorang gadis yang menarik hatinya. Jendra melakukannya lagi, dia berselingkuh dari aku. Aku mengetahuinya hanya kurang sehari dari hari jadian kami yang ke tiga tahun. Sakit.

***

Aku puas memandang api yang menjilat-jilat. Membungkus dua kotak kardus yang berisi barang kenangan busuk itu dengan warna merah jingga. Mengirimkan asap hitam pekat ke angkasa.
Saat aku tengah menyapu abunya, handphoneku berdering, sebuah panggilan dari Ian, kakak Jendra.

“ Halo?” sapaku. Hening di sebelah sana membuatku mengulang sapaan.

“ Ra, Jendra kecelakaan. Tolong kamu ke rumah sakit ya sekarang!”

***

Aku tercekat melihatnya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Secara fisik sempurna, bahkan saat ini dia sedang duduk dan disuapi oleh mamanya. Mamanya tersenyum kepadaku dan langsng menyambutku, membawaku duduk di kursi yang tadi didudukinya.

“ Jendra, ini Rara.” Kata mamanya. Aku bingung, mengapa aku diperkenalkan?

“ Halo Rara!” Jendra tersenyum senang sambil mengangsurkan tangannya kepadaku, minta untuk ku jabat. Saat itu juga airmataku meleleh.

“ Kok nangis Ra?”

“ Nggak papa kok!” aku tersenyum sambil mengusap airmataku.

“ Naah gitu dong senyum! Kan jadi cantik!” Jendra berkomentar begitu saja. Aku memandang mamanya yang mengangguk melihat pengertian tersirat di wajahku. Jendra amnesia.

Jadi semua mungkin harus dimulai dari awal.

“ Jendra, cepet sembuh ya!” aku tersenyum sambil mengelus lengannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s