Day #3 (part 3): terbit senja

Senja sore itu adalah waktu yang paling indah. Bagaimana tidak? Langit begitu cerah, udara ramah, dan.. Aria. Seharusnya sore seperti ini dihabiskan dengan duduk di sebuah kafe, berbincang ringan dengannya tentang ini dan itu. Tapi fakta mengiris pedih angan-angan. Sore yang indah itu aku harus berlari-lari, berkeringat, susah payah dengan wedgesku.

***

Kami (aku, Aria, Ardhi, Freddy, dan Randhy) sampai di Stasiun Bogor pukul 2, tepat sedetik setelah KRL  jurusan Tanah Abang berangkat. Lagi-lagi kami dipermainkan waktu dan jadwal KRL. Hanya bisa menghela napas, akhirnya kami duduk di bangku pinggir jalur 3. Berharap kali ini jalur KRL tidak galau lagi.

Penantian kami tak sia-sia, tiga puluh menit kemudian KRL jurusan Tanah Abang datang dengan gagahnya, tepat di jalur dimana kami sedang menunggu. Tangan Aria menggapai-gapai mencari tanganku, digandengnya aku dengan sigap.
Waktu seakan melambat. Tanganku sempurna menyatu dengan genggamannya. Mengalirkan denyut kecil menyenangkan di hatiku, membuat kupu-kupu di dalam perutku beterbangan.  Sedetik, dua detik,,,

lalu desakan penumpang di kiri dan kananku membuyarkan momen romantis itu. Aku bisa apa? Huh!

KRL tidak begitu ramai, tapi cukup membuat Aria merelakan tempat duduknya untuk seorang ibu yang menggendong bayinya yang lucu. Baru setengah perjalanan kemudian Aria kembali duduk di sampingku. Wajahnya yang terkantuk-kantuk sangat menggemaskan. Betapa itu membuatku merasa bersalah karena membuat dia kelelahan hanya demi mengantarkan aku kesana kemari. Terimakasih ya Ar!

***

Kami selamat sampai di Stasiun Tanah Abang dan langsung berburu KRL ke Pondok Ranji setelah berpamitan dengan Ardhi, Freddy, serta Randhy. KRL menuju pondok Ranji tidak terlalu ramai dan kami bisa sedikit bercakap-cakap. Sampai di Stasiun Pondok Ranji, ketegangan kembali dimulai. Berulangkali aku melirik jarum-jarum jam di tanganku, berharap dia melambat atau malah memundurkan waktu, agar terkejar kereta yang akan membawaku kembali ke Jogja pukul 20.30 nanti.

Adegan itu terjadi lagi. Aria menggandeng tanganku lagi. Momen ini tidak begitu romantis sih! Karena dia sedang memfokuskan seluruh tubuh dan pikirannya pada jadwal berangkat kereta yang akan membawaku ke Jogja. Aku? Aku sedang berfokus pada genggaman tangannya, pada detak jantungku, dan deru napasku. Bukan! Bukan romantisme! Hanya saja langkahnya yang lebar dan cepat membuatku berlari-lari kecil mengikutinya. Rasanya ingin sekali aku melepaskan wedgesku dan bertelanjang kaki. Kalau aku sedang tidak bersamanya, pasti akan kulakukan. Belum lagi kakiku sudah lunglai. Pasrah. Pasrah pada bimbingan tangannya saja.

“ Beb, kok kamu lari-lari sih?” dia akhirnya ‘menyadari’ keberadaanku. Dengan sebal kutatap dirinya dan berujar dalam hati, Menurut Lo?

“ Kamu baru nyadar?” akhirnya aku berhasil bicara diantara desah napasku yang berat. Dia tertawa, membuatku tertawa juga. Seketika lelah itu sirna.

“ Tau gak sih Beb? Aneh tau kita nih! Gandengan tangan, lari-larian!” kataku, masih terseret-seret oleh langkahnya. Aria tertawa geli.

Seandainya saja, seandainya saja kami tidak dalam kondisi seperti pelarian, seandainya saja kami hanya berjalan saja, bersisian, bergandengan tangan. Senja ini indah, sayang untuk dilewatkan begitu saja. Seandainya saja.. tapi senja mengharuskan kami berlari. Senja ini kami lewati dengan tidak senonoh. Maafkan kami senja!

Kami sampai di perempatan jalan. Aku lega akhirnya dia mengajakku memasuki sebuah angkot. Aku langsung saja meluruskan kakiku. Dia memandangiku dengan iba sambil tersenyum. Ah sudahlah! Bukan istirahat yang kuperlukan. Senyumnya saja sudah bisa meringankan kelelahanku.

Di balut senja yang mulai terbit, aku mulai menginginkan menghabiskan lebih banyak senja bersamanya. Ah, terlalu muluk kenginginanku! Tapi berharap boleh saja kan?

***

baca cerita lainnya:

Day #1: Membelah Jakarta Raya

Day #2: Jakarta Itu Keras

Day #3 (part 1): Mengejar Kereta Galau

Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s