Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Aku dan Aria sampai di Stasiun Pondok Ranji tepat ketika KRL menuju Stasiun Tanah Abang berangkat. Kali ini aku tak mencoba mengutuk, justru sedikit bersyukur karena aku masih memiliki waktu beberapa saat sebelum KRL berikutnya datang dan membawaku pergi.

Aku mengikuti Aria yang dengan sigap melompati rel kereta dan berjalan menuju sebuah bangku. Kami duduk berdua dan..

Haru biru..

Tapi mungkin itu hanya dari sisiku. Entah apa yang dirasakan oleh Aria. Hati dan pikirannya terlalu rumit untuk kuterjemahkan.

“ Aku suka senja!” celetukku.

“ Aku malah nggak suka senja. Senja itu bikin perasaan jadi galau. Aku lebih suka fajar karena dia menandakan tumbuhnya harapan setiap hari.” Kata Aria.

“ Aku suka senja karena perpaduan warnanya yang indah!” kataku tak mau kalah

“ Aku suka fajar karena dia peralihan dari gelap ke terang. Kalau senja kan justru sebaliknya.”

“ Senja itu perenungan. Pelepasan lelah.”

“ Fajar itu munculnya semangat baru. Harapan-harapan baru.”

“ Senja itu..” aku kehabisan kata-kata. Kami tertawa berdua.

Tawa kami terhenti. Sebuah pengumuman mengabarkan bahwa KRL jurusan Stasiun Tanah Abang akan segera tiba. Aku memastikan sudah membawa semua tasku. Kami berdua berdiri berdampingan hingga KRL berhenti di hadapanku.

“ Beb, makasih buat semuanya ya! Maaf sudah sangat merepotkanmu. Salam buat temen-temen!”

“ Ngga papa. Aku seneng kok! Jangan kapok Ya!”

Aku melangkah memasuki KRL dan duduk di bangku dekat pintu, berhadapan langsung dengan Aria yang masih tetap berdiri di tempat aku meninggalkannya. Kami hanya mampu berkata-kata dengan mata. Saling melempar senyum malu (kalau aku sih senyum malu, dia entah apa).

Aku terus memperhatikan Aria. Menyalin setiap inchi dari dirinya ke dalam ingatanku sebagai bekal menyulam rindu hingga waktu mempertemukan kami lagi yang entah kapan. Saat pintu KRL perlahan menutup, menghalangi pandanganku sedikit demi sedikit, dan akhirnya terputus sempurna. Sosoknya menghilang di balik pintu, sosok yang ingin kupeluk dan membisikinya sampai jumpa lagi Ar!

Bahkan, kalau saja aku bisa, aku ingin mengucapkan sebaris kalimat yang tertahan di lidahku. Sebaris kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata. Tapi kurasa itu mungkin tak perlu. Untuk saat ini.

Seakan ada luka yang tiba-tiba menganga. Ada pedih yang tiba-tiba terasa. Rasa tak rela, inginnya aku membuka pintu KRL dan menghambur ke pelukannya.

KRL bergoyang pelan, lalu meluncur di atas rel-rel besi. Meninggalkan Stasiun Pondok Ranji. Meninggalkan Aria yang masih tetap berdiri di tempatnya. Meninggalkan separuh hatiku yang telah di genggamnya.

Senja adalah ketika kau menggenggam tanganku dan kita berlari diburu waktu.
Senja adalah ketika kita gelisah, menimbang segala macam kemungkinan, mencoba berdamai dengan detik-detik yang melaju.
Senja adalah ketika pikiranmu berlari lebih cepat dari kaki-kaki kita, mencoba menyelamatkanku dari waktu yang semakin merajuk.
Senja adalah ketika kita duduk di bangku stasiun tua, mengupas cerita di dalam jeda yang tersisa.
Senja adalah ketika aku melihatmu di ambang pintu keretaku yang perlahan menutup.
Senja adalah ketika aku meninggalkanmu di kotamu dan memulai lagi menyulam rindu, menyisakan kenangan yang terserak di sepanjang jalur lintasan kereta.

***

baca cerita lainnya:

Day #1: Membelah Jakarta Raya

Day #2: Jakarta Itu Keras

Day #3 (part 1): Mengejar Kereta Galau

Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Day #3 (part 3): Terbit Senja

Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s