Day #3 (part 5 – end): Jogja, Aku Pulang!

Aku resah memandangi rute KRL di atas pintu. Mengingat-ingat sudah berapa stasiun yang kulalui. Aku harus turun di Stasiun Tanah Abang, lalu naik bajaj ke Stasiun Pasar Senen. Itu adalah rute yang disarankan oleh Aria. Jujur, aku memiliki gangguan obsessive compulsive  yang agak parah dan saat ini gangguan itu kumat. Eits, bingung ya apa itu Gangguan obsessive compulsive?

Gangguan obsessive compulsive adalah gangguan yang ditandai dengan dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan. Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.

Bingung? Sama! Baiklah.. jadi obsessive compulsive yang kualami saat ini adalah berkali-kali melirik ke arah rute KRL di atas pintu, melihat jam tangan, dan merogoh kantungku untuk memastikan tiket kereta yang akan membawaku ke jogja masih ada (tapi kemudian teringat bahwa tiketku dibawa oleh Ima, calon teman seperjalananku). Hal ini kulakukan berulang-ulang hingga aku lelah. Sayang sekali aku tak bisa menghentikannya walaupun aku ingin. Obsessive compulsive itu gangguan jiwa!

Sudah, lupakanlah itu. Aku akhirnya berhasil turun di Stasiun Tanah Abang (setelah beberapa kali mengecek papan penunjuk arah dan bertanya pada petugas di stasiun). Aku langsung menuju ke luar stasiun. Beruntung, ketika sebuah bajaj datang seolah memang dijodohkan denganku.

“ Senen berapa Pak?” seharusnya sih sekitar 15 sampai 20 ribu. Aku mengingat-ingat kata Aria.

“ Dua puluh lima ribu Mbak!” oke, harus ditawar!

“ Lima belas deh Pak ya!”

“ Dua puluh!”

“ Yaudah Pak!” masa bodoh lah dengan tawar menawar! yang penting aku tidak terlambat sampai di stasiun. Aku masuk ke dalam bajaj biru yang maha luas. Akhirnya aku bisa agak sedikit bersantai dan meluruskan kaki.

“ Mau ke mana Mbak?”

“ Jogja Pak! Lagi ngejar kereta nih!”

“ O ya? Jam berapa? Setengah sembilan Pak! Jauh nggak sih Pak? Keburu kan?”

“ Iya keburu kok!” si supir bajaj menjawab santai. Tapi kemudian dia menaikkan kecepatan bajajnya. Aku terombang – ambing di dalam bajaj biru maha luas itu. Masyaallah!

Si supir bajaj ini tampaknya berusaha memberikan servis memuaskan buatku. Dia TIDAK ingin aku terlambat. Bajaj berisiknya menggagahi jalanan Jakarta yang lumayan padat. Menyelip-nyelip di antara mobil dan motor. Bahkan ada suatu masa di mana si bajaj ini diselipkan di antara dua buah bus umum yang sedang berjalan dan masing-masing saling mendekati. Allahuakbar!!!! Apakah aku sedang menaiki Bajaj Ksatria? Versi Indonesianya Bus Ksatria di kisah Harry Potter???

Tapi pak supir tadi memang top. Dia berhasil menyelesaikan misinya dengan keren! Aku sampai juga di Stasiun Pasar Senen dalam kondisi sehat wal afiat tanpa kurang satu apapun, dengan  jantung yang masih menyisakan degup kencang, dan batere henfon yang sekarat (yang terakhir memang tidak relevan sih!). Aku memberinya tambahan 2000 karena sudah mengantarkanku intime dari jadwal keretaku.

Aku langsung menuju ke pintu masuk penumpang, tapi tertahan karena aku tidak membawa tiket kereta sehingga hanya bisa menunggu di emperan stasiun. Aku berusaha menghubungi Ima. Dia adalah teman sekos, sefakultas, dan bakal calon teman sekeretaku. Aku panik setengah mati ketika ternyata Ima malah belum sampai di stasiun. Padahal tiket kereta pulang dibawa olehnya. Padahal aku tidak bisa masuk ke peron kala tidak mempunyai tiket kereta. Padahal aku kelaparan.

Jadilah aku, seperti anak hilang, memohon belas kasihan penjaga kios asongan untuk mengijinkanku mencolokkan charger henfon ke stop kontaknya. Tak lupa, aku membeli sebotol air mineral. Oke, dan sekotak susu. Mmm.. dan sebuah bolpoin juga. Aria mengingatkanku untuk makan, tapi selama Ima belum ditemukan aku takkan bisa menelan apapun. Roti yang dipajang di etalase kios itu hanya kupandang sebelah mata.

Aku merapatkan tas ke pelukanku, mencari tempat yang agak kosong, tanpa orang-orang merokok. Aku mendapatkannya di tikungan jalan menuju loket pembelian tiket. Aku duduk di sana, mengeluarkan buku tulisku dan menuliskan beberapa hal.

Seperempat jam berlalu. Mulai ada panggilan untuk calon penumpang kereta api jurusan Yogyakarta. Aku kembali panik. Ima belum juga sampai, dia masih dalam perjalanan menggunakan KRL. Aku hanya bisa menekan kepanikanku itu dengan menulis dan menulis lagi. Beberapa bait tercipta hingga akhirnya Ima meneleponku. Kami bertemu.

“ Ima, aku lapar!” adalah kata-kata yang pertama kali kuucapkan kepadanya ketika akhirnya aku bisa masuk ke dalam peron. Dia menemaniku makan malam sembari merecharge batere henfon kami di warung makan dalam stasiun. Kami heboh saling bertukar cerita tentang aktivitas kami di Jakarta.

Pukul 20.30 kereta kami datang. Aku dan Ima mengemasi barang-barang dan segera naik ke gerbong kereta.

Senang akhirnya bisa mengatakan ini: Jogja, aku pulang!

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

***

baca cerita lainnya:

Day #1: Membelah Jakarta Raya

Day #2: Jakarta Itu Keras

Day #3 (part 1): Mengejar Kereta Galau

Day #3 (part 2): Bertemu Sunny

Day #3 (part 3): Terbit Senja

Day #3 (part 4): Di Bangku Stasiun Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s