luruh

Aku tak mengerti apa yang salah. Setiap kali aku menyinggung tentang kemana hubungan kita akan bermuara, selalu saja kamu mempunya seribu anak sungai alasan untuk tak lagi membahasnya. Seperti siang ini misalnya, kita berjanji untuk makan siang bersama. Di sebuah café yang tak jauh dari kantorku.

“Hmm… jadi gimana?” tanyaku ditengah kunyahan rahangku meleburkan daging ayam goreng renyah.

“Apanya?” selalu begitu. Entah benar-benar tak tahu atau hanya berpura-pura saja.

“Hubungan kita.” Jawabku datar.

“Apanya yang gimana? Bukankah semua berjalan baik-baik saja?” jawabmu tak acuh dengan tatapan mataku yang mulai nyalang.

“Ya, antara baik-baik saja dan tak berasa itu berbeda tipis.”

“Sudahlah, habiskan makananmu. Aku duluan.” Katamu sambil beranjak meninggalkan aku dengan segudang pembicaraan yang belum selesai.

Aku benar-benar tak mengerti. Ini aku yang terlampau kekanak-kanakan, yang terlalu banyak menuntut atau kamu yang memang tak peduli?

“Aku pikir, hari ini aku akan berbicara dengan seorang yang dewasa lalu mampu menutupnya dengan sebuah penyelesaian. Ternyata salah!” aku nyaris berteriak.

Aku kaget ternyata aku bicara terlalu keras sehingga membuatmu menghentikan langkah dan berbalik menghadapku. Raut wajahmu sulit ditafsirkan. Kamu kembali duduk di hadapanku dan mengusap wajah dengan kedua tanganmu. Kamu selalu begitu bila sedang kebingungan.

“ Aku minta maaf! Kupikir selama ini semua memang baik-baik saja. Aku tak tau kamu begitu menginginkan sebuah penyelesaian. Aku tak mengerti! Apa yang harus diselesaikan?”

“ Kamu benar-benar tidak tau?” kau jawab pertanyaanku dengan gelengan kepala. Aku menghela napas panjang.

“ Sudah hampir 3 tahun kita saling mengenal. Selama ini hubungan kita tak pernah jelas! Kamu selalu saja mengakuiku sebagai kekasihmu kepada orang lain tapi kamu tidak pernah menyatakan perasaanmu kepadaku. Jadi sebenarnya kamu menganggap aku ini sebagai apamu? Aku butuh kejelasan!”

“ Jadi kamu butuh pengakuan?”

“ Aku butuh kejelasan. Dewasalah! Jangan bermain kucing-kucingan!”

“ Aku..”

“ Orangtuaku terus menanyakan. Orang-orang di seitarku terus menanyakan. Aku harus bicara apa? sementara di luar sana banyak orang yang menyatakan kesediaannya menikahiku tapi kutahan jawabanku karena aku menunggumu bicara. Kenyataannya apa? Selama ini kamu terus mengelak!”

“ Maaf, aku hanya bingung harus bicara apa.”

“ Kamu menganggapku sebagai apa?”

“ …”

“ Baiklah. Cukup! Aku menganggap itu sebagai jawaban. Kurasa kamu memang hanya senang memamerkanku sebagai kekasih. Kamu tidak benar-benar ingin memilikiku. Aku sudah lelah dengan keadaan yang seperti ini. Aku takkan menghubungimu lagi!” aku merapikan barang bawaanku dan beranjak pergi. Pada langkahku yang ke lima, kamu meraih tanganku dan beranjak menghalangi jalanku.

“ Jangan pergi! Kumohon! Kurasa aku baru saja tersadar, aku mencintaimu! Sangat!” kamu memelukku dengan erat. Aku meluruh dalam pelukanmu. Harus seperti inikah aku membuatmu menyadari perasaanmu?

*duet galau bersama @fawaizzah buat #20HariNulisDuet day12 tema ‘Dewasa’*

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s