Aku kehabisan cara

Aku kehabisan cara untuk meredam rindu yang bergemuruh. Satu minggu tak mendapatimu di timelineku dan itu membuatku cukup geram. Aku menahan rindu karena aku tau, kamu sedang tak bisa diganggu.

Jadi kau tau betapa girangnya aku mendapatkan pesanmu kemarin. Hanya sekian menit kita berbincang tapi itu cukup mengalirkan rinduku keluar dari pori-pori tubuhku, menguap ke udara dan menyublim menjadi awan-awan di angkasa. Aku sedikit lega.

Jadi bayangkan saja betapa gembiranya aku saat kamu menyetujui usulanku untuk nite call. Pada akhirnya aku mendengarkan suaramu lagi. Aku senang, kamu terdengar sangat bersemangat,  sehat dan bahagia.

Lalu kita memperbincangkan banyak hal. Sebenarnya tak terlalu banyak, hanya kamu yang berulang-ulang bilang kagum kepadaku karena aku menulis begitu banyak kisah. Kamu yang berulang-ulang memuji imajinasiku. Taukah kamu aku senang mendengarkanmu? Bukan karena pujianmu untukku, tapi karena suaramu yang begitu bersemangat. Suaramu itulah yang sering kurindukan.

Mungkin kamu tak menyadari, atau kamu menyadari, ya kamu menyadarinya bahwa banyak pesan yang tersembunyi di balik tulisan-tulisanku. Pesan cinta untukmu. Karena kisah-kisah itu memang kubuat untukmu. Karena aku kehabisan cara.

***

Aku kehabisan cara untuk mengerti. Tak perlu banyak bukti, tak perlu mengada-ada, dan aku tidak sedang mencoba mencocokkan kita berdua. Tapi memang banyak kesamaan yang aku cermati dari aku dan kamu. Entah mengapa. Apakah kamu juga menemukannya? Karena mungkin kita memang sering memandang suatu hal dari sudut yang sama.
Kamu seperti alunan musik bagiku, membuatku bersenandung mengikuti iramamu. Entahlah, tapi aku merasa begitu lebur bersamamu. Salahkah lalu bila aku ingin selalu bernyanyi bersamamu? Karena kamu begitu mempesonakanku.
Kamu seperti sebuah buku yang kusukai, mengantarkanku kepada hamparan imajinasi tentang aku dan kamu. Sebuah buku yang selalu ingin kubaca dan tak pernah akan habis kubaca. Salahkah lalu bila aku ingin selalu membacamu? Karena kamu begitu mempesonakanku.

Kamu adalah semilir angin yang sejuk. Kamu adalah secangkir coklat panas yang lezat. Kamu adalah aroma tanah basah seusai hujan. Kamu adalah keindahan. Salahkah lalu bila aku ingin selalu memilikimu? Karena kamu begitu mempesonakanku.

Dan kamu adalah yang ingin kusandingkan dengan aku. Menciptakan sebuah ‘kita’ yang berisi ‘kamu dan aku’. Kamu adalah serangkaian cerita yang selalu ingin kutulis. Kamu adalah kisah yang ingin kuceritakan kepada semua orang. Kamu adalah dongeng sebelum tidur. Kamu dan semua tentangmu adalah hikayat yang sangat hebat.
Tapi ketika menulis tentang kita, aku tak pernah berani untuk menuliskan bagian akhirnya. Biar, jadikanlah ‘kita’ sebagai kisah yang belum berujung. Mungkin nanti akhirnya Tuhan berbaik hati melabuhkan kita pada sebuah kisah yang membahagiakan bagi masing-masing. Entah di sana ada ‘kita’ ataukah masih tetap ‘aku’ dan ‘kamu’.

***

Aku kehabisan cara untuk menghitung. Baru sepuluh kali kita bertemu, tapi rasanya sudah ratusan kali. Kamu juga merasakannya kan? Entah kau maknai apa kedekatan kita itu. Mungkin hanya selingan di sela-sela waktumu yang berharga. Dan juga memang hanya selingan di sela-sela waktuku yang berharga. Tapi selingan itu mengakrabi benakku dan menghujani hatiku dengan rindu-rindu yang memburu.

Telepon malam itu membuatku menyadari banyak hal, bukan selingan itu yang kita butuhkan untuk saling berdekatan. Hanya seberapa banyak waktu yang tersita untuk kamu atau aku memikirkan kita. Dan aku kehabisan cara menemukan kata untuk mendeskripsikannya.

Kita itu apa?

***

Aku tau pada akhirnya aku akan mengakui bahwa aku menyayangimu. Aku tau bahwa aku masih menunggumu. Atau menunggu entah apa. Aku masih tetap berada di titik yang sama dan enggan melangkah. Titik yang membuatku gerah.
Seakan terlintas berjuta harap dalam cemasku. Aku tau pada akhirnya aku akan kehabisan cara untuk membuatmu mencintaiku.

Ataukah aku hanya perlu menunggu lebih lama?

***

gambar diambil dari:

http://tripcart.typepad.com/tripcart_the_blog/2007/05/bringo_kills_ho.html


https://belindch.files.wordpress.com/2012/02/waiting_for_summer_by_p0rg.jpg?w=300

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s