Merindukan Hujan

ROMEO

Sore itu langit nampak pekat. Alam mulai menyiratkan tanda akan turunnya hujan. Burung-burung pun beterbangan mencari tempat untuk berteduh. Sementara kupacu sepeda motorku melaju di jalanan yang padat. Aku harus sampai di kos sebelum air jatuh ke bumi. Lima puluh meter sebelum aku sampai tujuan, rintik air telah mulai membasahiku. Sesampainya di kos, aku segera memarkir kuda besiku di garasi bawah.

Hujan. Begitulah sore itu menyambut kedatanganku. Tak mungkin akan sempat ada senja karena terlanjur terbungkus awan stratocomulusnimbus. Seperti ingin ambil bagian, petir dan angin pun riuh bersahut-sahutan.

Aku naik menuju kamarku di lantai dua dan langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur, mencoba untuk melepas penat. Aku teringat bahwa malam ini aku punya janji menjemput Mona lalu pergi ke toko buku. Kuraih ponselku dan menghubunginya untuk mengkonfirmasi,

“Halooo… hei Mon, di luar hujan nih, jadi kah kita ke toko buku nanti kalo masih hujan?”, tanyaku.

“Nunggu agak terang aja, trus kita pake jas hujan, aku pengen banget beli bukunya Tan Malaka nih, how?”, jawab Mona.

“Aku oke-oke aja sih. Kamu dandan yang cantik ya, hehe…”

“Errr… dandan biasa aja kali, kamu SMS dulu ya kalo mau kesini.”

“Sip. Ya udah deh gitu aja. Sampai nanti. Bye.”

“Bye.”

Mona. Dia temanku. Gadis yang sangat menarik. Rambutnya sepinggang, hidungnya mancung, dan berkulit putih bersih. Ia adalah orang yang gampang diajak serius dan bercanda pada saat yang bersamaan. Dia suka sekali membaca buku terutama buku tentang filsafat dan biografi. Aku kadang bingung, perempuan yang lain kebanyakan membaca novel percintaan, dia justru lebih suka membaca buku dengan tema yang agak serius. Itu yang kusuka darinya. Dia berbeda.

Hampir dua tahun ini aku berteman dengan Mona. Entah kenapa aku selalu ingin dekat dengannya. Apakah ini pertanda aku jatuh cinta dengannya? Mungkinkah rasaku terlalu berlebihan kepadanya? Atau ini hanya ekspresi nafsuku yang tak terbendung? Aku tak tahu.

Adzan maghrib berkumandang. Aku terkesiap dari lamunanku. Hujan di luar sudah tak selebat tadi sore. Aku segera mandi dan bersiap menjemput Mona.

***

MONA

Sekali lagi aku mematut-matut diri di depan kaca. Romeo sedang dalam perjalanan menjemputku. Mengingat hal itu, jantungku berdegup semakin kencang. Bayangan di cerminku tersenyum meringis.

Aku turun ke ruang televisi dan mendapati beberapa teman kosku sedang asik menonton sinetron. Aku pamit kepada mereka dan memilih untuk menunggu Romeo di teras kos.

Setengah jam berlalu, bahkan hujan pun mulai reda, tapi Romeo belum juga muncul. Aku sudah mencoba meneleponnya berkali-kali dan tidak diangkat. Beberapa pesan kukirimkan tapi tak ada jawaban. Aku mulai kesal. Setengah jam kemudian aku meninggalkan teras dan masuk kembali ke kamarku. Tak kuhiraukan teman-temanku yang bertanya mengapa aku tidak jadi pergi. Aku langsung pergi tidur untuk meredakan kekesalan.

Aku terbangun oleh ponselku yang bergetar. Satu panggilan masuk dari Lisa, adik Romeo. Aku segera mengangkatnya.

“ Halo Lisa? Ada apa dek?” Lisa tak segera menjawab. Aku justru mendengar isakan. Seketika sekujur tubuhku menegang.

“ Kakak dimana?”

“ Di kos dek. Ada apa? Kenapa nangis?”

“ Kakak nggak tau? Kak Romeo..” Lisa tidak meneruskan kalimatnya. Lalu seolah ada minyak panas yang di siramkan ke tubuhku, aku berharap apa yang kupikirkan tidak benar-benar terjadi.

***

NISAN

Mona memandangi sebuah nisan tertancap pada gundukan tanah yang masih baru. Nama yang tertera pada nisan itu jelas terbaca dan berhasil membuat pikirannya kosong melompong. Jika saja dia tidak ngotot minta diantar ke toko buku, keadaannya bisa jadi lain sama sekali.

Romeo telah pergi.

Hujan mengantarkannya pulang.

***

PANTAI

Mona melipat kertas yang telah usai ditulisi pesan menjadi sebuah kapal. Pesan yang ia tau takkan pernah tersampaikan. Tapi hanya dengan itu Mona merasa akan lebih mudah melepaskan. Maka dia membawa kapal kertas itu ke bibir pantai dan menghanyutkan kapalnya. Kapal itu bahkan tenggelam sebelum sempat berlayar.

Mona pulang.

Jejaknya langsung terhapus oleh hujan yang baru saja turun.

***

Kepadamu yang menyukai hujan,
Bahwa karena hujanlah kamu datang, dan hujan pula yang mengantarmu pulang.
Taukah kau telah dirindukan?
Hingga hujan kini terasa menyesakkan
Kepadamu yang menyukai hujan,
Kau tak pernah tau, akulah yang memiliki rindu.
-Mona-

———————————————————————————————————————————————–

hasil duet kece bersama Aditya Rizki Yudiantika di #20HariNulisDuet day 19 tema “Hujan”

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s