tiga hari part 1#: meniskus

Senja turun perlahan di langit barat Jogja. Senja yang tak dapat kunikmati dari bangkuku, di balik jendela kaca restoran cepat saji ini, karena pandanganku praktis terhalang oleh deretan toko di sepanjang jalanan Malioboro. Pun karena langit mendung, senja kali ini kupastikan hanya berwarna kelabu. Suram.

Aku memandangi jalan Malioboro yang ramai lalu lalang. Orang-orang mulai berlari-lari kecil saat mencoba menyeberang jalan karena rintik hujan mulai turun menjadi gerimis.

Setengah jam kemudian kulalui hanya dengan duduk di bangkuku, mengaduk-aduk creamsoup yang sudah dingin sambil tetap terpaku pada jalanan Malioboro. Pikiranku kosong melompong. Aku tak dapat mengingat apapun. Inikah yang dinamakan melamun? Aku bahkan tak sadar bahwa sepulang dari kampus tadi aku melarikan mobilku menuju kawasan malioboro. Tiba-tiba saja aku sudah duduk di sini, menyuap creamsoup hangat.

Gerimis sudah reda. Aku memutuskan untuk keluar dari restoran ini dan berjalan-jalan. Tadinya kupikir ini adalah ide yang baik untuk meredakan badai-yang-tak-kumengerti yang sedang melanda pikiranku. Namun ternyata salah. Sepanjang area pejalan kaki sisi kiri jalan Malioboro justru menghujaniku dengan kenangan tentang dia. Tentang kami. Tentang pertemuan pertama.

Aku melihat diriku dan dia sedang berjalan di depanku. Tertawa-tawa sambil menikmati soft ice cream. Diriku sibuk menunjuk-nunjuk ke sana kemari dan dia mengomentari. Kami tertawa lagi.

Aku tersenyum kecut melihatnya.

Lalu rombongan pengamen yang sedang beraksi di seberang jalan membuat langkahku terhenti. Aku mendengarnya berkata, seolah benar-benar dia sendiri yang bicara dan bukannya hanya kenangan dalam kepalaku, ” Sampai di pengamen itu kita balik arah ya!” dan aku melihat diriku mengangguk. Aku mengikuti diriku dan dia yang berbelok ke kanan, menyebrang untuk mencapai area pejalan kaki di sisi kanan jalan Malioboro.

Gerimis turun lagi, dan kedua bayangan kenangan itu menghilang. Hanya tinggal aku yang berdiri di tengah keramaian Malioboro. Tuli. Segala macam suara nyata yang ada menjadi tidak bervolume, sedangkan suara-suara dalam pikiranku justru semakin meninggi. Suara yang entah apa karena bercampur baur dengan kelebatan bayangan. Tarik menarik, kenangan-kenangan, kenangan-kesadaran, kesadaran-kesadaran, menciptakan cekungan dalam kepalaku. Meniskus.

Aku duduk di salah satu sudut jalanan malioboro. Tidak mengacuhkan gerimis yang semakin membasahi rambutku. Aku justru sedikit berharap gerimis akan menghanyutkan semua kenangan yang masih berotasi di dalam kepalaku. Namun gerimis tak pernah dapat dimengerti, kadang membawa sepercik kebahagian, kadang malah membanjirimu dengan kenangan.

Sore ini, di tepi jalan Malioboro, gerimis menggenangiku dengan kenangan. Aku dan dia. Terputar kembali seperti film dokumenter. Air mataku pun tak tertahankan.

 

Aku hanya ingin pulang, di bawah rintikan hujan. Berharap sendu kan sirna perlahan. Aku tak butuh pelukan. Hanya sendiri, dan pulang.

—————————————————————————————————————————————————-

picture taken from: http://www.tripadvisorindonesia.com/2011/07/shop-till-you-drop-in-malioboro.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s