Payung Ungu Amela

” Mak!” Amela berdiri takut-takut di belakang emak yang sedang menggoreng pisang untuk dijual.

” Hmm..” jawab emak tanpa menoleh sedikitpun karena sedang berkonsentrasi membalik pisang-pisangnya di dalam wajan.

“Amela ingin punya payung.” ujarnya lirih. Emak masih terus berkonsentrasi dengan wajannya. Ketika merasa tidak ditanggapi, Amela beringsut ke samping emak.

” Mak!” panggilnya sekali lagi. Emak menghela napas. Dipandanginya Amela dengan tatapan jengkel.

” Buat apa Amela ingin punya payung? Kan kemarin Uwak Bahar sudah memberimu jas hujan.” hati emak sedikit miris mengingat jas hujan yang dimaksudnya adalah sebuah lembaran plastik usang yang dimodifikasi sebegitu rupa sehingga menjadi jas hujan ala kadarnya.

” Tapi Mak.. teman-teman Amela..”

” Amela, Emak tidak punya uang untuk beli payung. Minggu depan obat untuk adikmu harus ditebus. Nanti kapan kalau emak sudah punya uang akan emak belikan.”

” Benar Mak?” mata Amela membesar kegirangan.

” Insyaallah.” emak kembali menekuni pisang gorengnya.

” Tapi kapan mak?” Amela memburu.

” Nanti kapan-kapan. Sudah kamu belajar sana!”

” Asiiik!!!” Amela berjingkat keluar dapur. Hatinya berbunga-bunga oleh janji emak. Emak memandangi punggung putri keduanya dan menggeleng sedih. Maafkan Emak Amela, bahkan untuk membelikanmu payung saja tidak bisa.

***

” Mak, Emak sudah punya uang?” Amela duduk di sebelah emak yang sedang menyobeki daun pisang.

” Belum Amela!” sahut emak. Amela terdiam mengerti. Dia duduk di sebelah emak dan membantunya menyobeki daun pisang.

***

” Mak, Emak sudah punya uang?” Amela menarik-narik baju emaknya yang sedang menjemur baju. Emaknya menggeleng. Amela tertunduk sedih dan masuk ke dalam rumah.

***

Amela tau emak takkan pernah punya uang untuk membelikannya payung. Maka gadis kecil itu memutar otak untuk mencari cara agar dia dapat membeli sebuah payung yang sangat diinginkannya. Payung berwarna ungu dengan ujung tangkainya yang berbentuk bunga. Amela mendapatkan ide dari kakaknya yang bekerja sebagai sebuah penjaga toko. Amela menyimpan uang sakunya setiap hari dan dia masukkan ke dalam kaleng bekas kue lebaran. Dia rela tidak jajan hanya demi mendapatkan payung ungu itu.

Amela melongok ke dalam kaleng dan menghitung uangnya. Tujuh lembar uang seribuan lusuh dan sepuluh keping uang lima ratus. Amela menghitung dengan jari-jarinya, mulutnya berkomat-kamit,

” Tujuh tambah lima sama dengan,” dia menekuk jarinya satu persatu, ”ย  Delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas. Dua belas ribu.” Amela tau dia masih butuh delapan ribu lagi. Harga payung itu dua puluh ribu. Amela memperkirakan dia akan bisa membeli payung itu sekitar delapan hari lagi jika emak memberinya seribu setiap hari. Tapi kadang emak memberinya lima ratus, bahkan kadang juga tidak memberi sama sekali.

***

Hari itu hari Minggu, Amela berjalan mantap ke arah pertokoan di samping pasar tepat lima hari setelah dia menghitung uang di dalam kalengnya. Dagangan emak sedang laris dan kemarin lusa kakaknya memberi uang tiga ribu. Pas dua puluh ribu. Amela berkali-kali meraba saku di roknya untuk memastikan kantung plastik tempatnya membawa uang masih ada di sana. Dia tersenyum-senyum bangga membayangkan akan membeli dan membawa pulang payung kesayangannya. Emak pasti akan senang kalau tau dia bisa menabung dan tidak merepotkan emak.

Jalan yang dilalui Amela becek, khas pasar tradisional. Amela berjalan menepi saat sebuah mobil melaju perlahan dari arah depan. Mobil itu berguncang keras saat melalui sebuah lubang di jalan yang tergenang air hujan. Mencipratkan air kotor ke seorang pengemis yang tengah membuka sebuah bungkusan di samping bak tempat sampah. Seluruh tubuhnya serta bungkusan yang baru saja dibukanya menjadi basah. Amela heran sopir mobil itu tidak mengetahui hasil perbuatannya. Dia memandang iba pada pengemis yang tampaknya kehilangan sarapan yang susah payah didapatkannya dengan mengais di tempat sampah. Amela melewatinya dengan kepala tertunduk. Dia merasa sangat sedih.

Amela sampai di toko tempat payung ungu itu dijual. Dia tersenyum senang saat mengetahui payungnya masih belum laku. Amela menyentuh payung ungu nan cantik itu dan merasa bahagia.

” Mau beli payung Dik?” tanya kakak penjaga toko. Amela menggeleng dan mengucapkan terima kasih. Dia berlari kecil menuju ke tempat pembuangan sampah dan memberikan plastik berisi uangnya kepada si pengemis. Pengemis itu menerima uang Amela dengan penuh rasa syukur. Mendadak hati Amela dipenuhi dengan rasa haru yang menyenangkan. Amela belajar tentang berbagi hari itu.

***

Amela duduk di ayunan yang tergantung di pohon mangga. Ayunan itu dibuatkan oleh bapaknya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Amela jadi teringat bapak yang sudah dua bulan belum pulang. Bapak sedang membantu pembangunan sebuah gedung besar di kota. Saat Amela sedang menyusut airmatanya, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumahnya. Amela mendongak dan matanya berbinar bahagia,

” Bapak!!!” Amela berlari menyongsong laki-laki yang baru saja meloncat turun dari mobil itu. Kedua tangannya terentang siap memeluk. Bapak menyambutnya, mengangkat Amela ke dalam pelukannya.

” Bapak punya oleh-oleh buat Amela!” kata bapak sambil menyerahkan sebuah bungkusan panjang. Amela segera membuka bungkusan itu.

” Payung ungu!!! Ini buat Amela???” bapaknya mengangguk senang.

” Emak!!! Payung ungu!!! Payung ungu Amela!!!” Amela membuka payungnya dan berlari ke arah emaknya dengan bahagia. Dia mendapatkan payung yang selama ini diinginkannya. Payung ungu dengan ujung tangkainya yang berbentuk bunga. Payung ungu Amela.

***

12 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s