tiga hari part #2: adhesi

Aku memesan secangkir coklat hangat kegemaranku. Aku selalu memesannya jika sedang mengunjungi kafe ini. Aku selalu mengunjungi kafe ini jika sedang ingin sendiri.

Sekelilingku ramai. Di bawah kafe ini adalah toko buku yang tak pernah sepi pengunjung. Kafe ini pun selalu mengundang perhatian bagi para penikmat kopi dan coklat sepertiku. Namun keramaian ternyata tak juga mampu mengusir hening yang mengungkungku. Telingaku pekak oleh sepi.

Pelayan mengantarkan coklat hangat pesananku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya lalu kembali menekuni kesendirian.

Aku lagi-lagi didera kenangan, di tempat pertemuan kedua ini. Imajinasi kembali mengambil alih seluruh perhatianku. Aku sedang memandang dia dan aku, duduk berhadapan di meja depanku. Mereka, kami, sedang berdiskusi tentang perasaan.

” Mmm.. rasanya seperti main tenis sama tembok. Perasaanku ke dia ini nggak terbalas. Begitulah kira-kira!” aku mendengar diriku sendiri berbicara sambil tertawa geli.

” Iya kah? Lalu kenapa nggak cari lawan main yang lain?” dia menimpali.

“Yaaah.. gimana ya? Mungkin nanti. Saat ini juga aku sedang berusaha untuk melepaskan diri dari perasaanku kok.” dia tersenyum mendengar jawabanku.

Seorang pelayan tak sengaja menyenggol mejaku, membuat coklat hangat dalam cangkirku bergoyang pelan. Aku mendongak ke arah meja di depanku. Kedua bayangan itu sudah menghilang.

Aku ingat pertemuan kedua itu terjadi satu minggu setelah pertemuan pertama, sekitar 1 bulan sejak perkenalan kami. Kami terbiasa menghabiskan malam dengan percakapan panjang di layar komputer setelahnya. Memperbincangkan hari. Hari-hari yang dirahasiakan. Waktu yang sangat singkat tapi telah memunculkan banyak hal yang membuatku melekat kepadanya, membuat dia melekat padaku.

Adhesi.

Gaya tarik menarik antara dua hal yang tak sejenis.

Kesadaran menghantam ulu hatiku. Sebagian besar kenangan bertubi-tubi mendobrak pikiranku, berebut untuk keluar. Aku melihat diriku yang tak sabar melalui hari, menunggui siang berganti malam, waktu kami bercumbu dengan kata-kata. Aku melihat diriku yang berkali-kali membaca ulang setiap pesannya, merasakan pelukan pada setiap kalimat yang meluncur dari jemarinya. Aku melihat diriku yang selalu mencarinya, mencuri-curi kesempatan untuk bisa mengecup pesan rahasia yang ditujukannya kepadaku. Kami begitu akrab meski tak juga mampu mendeskripsikan hubungan kami dengan tepat. Terikat, jelas. Tapi ada batas-batas tertentu yang membuat kami meragu meskipun hari-hari bersama telah menjadi candu.

Dia awalnya hanyalah pria pengalih, menjadi bahu tempatku menyandarkan rasa sedihku, menjadi jemari yang menghapus airmataku, menjadi telinga yang mendengarkan keluh kesahku. Dia kemudian menjadi pria pengalih yang mengalihkan hatiku, dia menjelma menjadi pelukan yang membahagiakan. Cikal bakal rindu dari segala rindu.

Aku meneguk habis sisa coklatku. Mengabaikan manis dan pekat yang biasanya aku nikmati dengan tenang. Berharap mujarab untuk menahan airmataku yang mulai menggenang. Ini harus dihentikan!

Aku bergegas menuju kasir, membayar tagihanku, dan segera meninggalkan kafe itu.

Dalam keremangan malam kota Jogja, ditemani hawa dingin yang tersisa dari hujan, aku pulang.

Kamu pernah menjadi istimewa meskipun kita bukan sesiapa. Seperti pelangi menyenangkan yang datang setelah hujan, kamu pun menghilang sesudahnya.

_________________________________________________________________________________

picture taken from: http://afrianadcahyani.blogspot.com/2012/01/after-rain.html

3 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s