PAGI BERBAGI part 1: berbagi nasi box

Aku dan Dipta (@hanidipidipta) yang pertama kali sampai di tempat perjanjian tepat pukul tujuh malam. Kami memesan dua gelas es teh dan menonton berita tentang demo sembari menunggu kawan-kawan yang lain. Malam ini kami dan beberapa teman dari komunitas PagiBerbagi berencana akan melakukan aksi “Berbagi Nasi Box”. Aku sendiri merasa sangat bersyukur karena akhirnya dapat mengikuti acara yang diadakan oleh @PagiBerbagi setelah beberapa kali gagal berpartisipasi karena waktunya selalu bertubrukan dengan jadwal pulang kampung. Jadi malam itu aku tak kalah bersemangatnya dengan teman-teman mahasiswa yang sedang (adu otot dan emosi) demo menolak dinaikannya harga BBM di depan gedung DPR.

Pukul setengah delapan seorang gadis manis berambut panjang dengan kacamata yang membingkai matanya datang. Dia memperkenalkan diri sebagai Astrid (@grettywaworuntu). Kami, Dipta dan Astrid, mengobrol tentang ini dan itu meskipun aku lebih banyak men-scroll timeline twitterku karena merasa sangat kepo dengan berlangsungnya (pesta kembang api) demo penolakan naiknya harga BBM. Beberapa saat kemudian barulah mas Arya (@aryagede) disusul oleh Bima (@BimaAryawan) melengkapi kelompok kecil kami.

Menu nasi box yang dibagikan

Astrid memberitahu kami bahwa sekitar jalan Solo macet tak terkira karena adanya demo. Aku menambahkan beberapa titik yang juga ditutup karena demo yang kuketahui dari twitter. Hal ini membuat kami mengubah rencana yang awalnya akan melakukan pembagian di sekitar Malioboro dan mencari alternatif tempat lain. Boleh atau tidak, aku merasa sangat kesal dan bertanya-tanya, apakah jika para demonstran itu tau kami akan melakukan sesuatu (yang lebih riil) untuk rakyat (yang katanya) mereka bela dan aksi mereka sedikit mengacaukan kami maka mereka akan mengurungkan aksi mereka di tempat tersebut? I don’t think so dan aku malas memperpanjang pikiranku ini. Aku sendiri tau bahwa aku anti demo (lebih tepatnya anti kekerasan) sehingga selalu skeptis jika membicarakannya.

Akhirnya kami memilih sasaran Godean – Wates dan mendiskusikan rute yang harus kami tempuh (MM UGM, jembatan teknik, perempatan Jetis, Jalan Magelang, Godean, Wates). Aku dan Dipta membawa 20 box nasi, Bima dan Astrid 20 box, dan Mas Arya 10 box. Kami berangkat pukul 21.30 dengan semangat yang membara, menembus keremangan malam Yogyakarta yang dingin untuk menyaksikan bukti bahwa Tuhan tak pernah lalai mengasihi umatNya.

50 box nasi yang siap dibagikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s