Tiga hari part #3: Prisma

somewhere over the rainbow, skies are blue..

Aku ingat aku sangat gembira saat menerima pesannya yang mengatakan bahwa dia akan ke Jogja untuk menemuiku. Pukul 17.00 tepat dia akan menjemputku di rumah lalu kami akan pergi entah kemana.

Aku ingat wajahnya tertekuk sebal karena aku justru terlambat pulang ke rumah dan membuatnya harus menunggu. Hanya sepuluh menit, hanya sepersekian dari waktu yang kuhabiskan menunggunya datang padaku, tapi dia tetap saja tak mau tau.

Aku ingat dia kesal mengetahui aku bahkan belum makan dari pagi. Tapi kemudian tersenyum jahil saat aku mengingatkannya bahwa sehari sebelumnya dia juga lupa makan. Dia lalu dengan sabar menungguiku makan. Menolak ikut memesan makanan karena dia sudah makan di rumah dan kemudian merasa tak bisa menahan godaan lalu memesan makanan yang sama dengan yang kumakan.

Aku ingat kami kemudian duduk bersebelahan menikmati coklat panas setelah kedinginan diguyur hujan. Membicarakan tentang banyak hal terutama perasaan. Merasa patah hati saat tau bahwa waktu bergulir terlalu laju. Berat hati meninggalkan sofa hangat dan menatap tak rela pada perpisahan yang menjemput paksa.

Aku ingat ketika tubuhku gemetar saat dia menciumku. Meleleh dalam pelukannya yang hangat dan melebur pada aroma tubuhnya yang ramah. Mencuri dengar namun tak mengerti arti degupan jantungnya yang tersandi dengan rapi.

Aku ingat kedua matanya yang tertuju padaku. Memandangku dengan tatapan yang penuh rindu. Saat itu aku tak mengerti, dia hanya berkata bahwa dia ingin menatapku selagi bisa.

***

Aku menciptakan kehampaanku sendiri di sudut kafe terakhir yang kukunjungi bersamanya. Menatap secangkir coklat panas yang uapnya mengabarkan rasa manis dan pahit. Menghadirkan lamunan atas helai-helai waktu yang kulalui dengan berjalan sendiri.

Bahwa kalimatnya malam itu memang dimaksudkan seperti itu. Dia pergi. Dia takkan kembali. Dia pura-pura tak mengenalku lagi. Dia sudah tau itu dan aku baru mengetahuinya saat ini.

Empat bulan berlalu dan akhirnya aku bisa mengartikan segalanya. Bahwa aku baginya hanyalah persinggahan sementara, bahkan mungkin bukan apa-apa. Aku hanyalah secangkir coklat panas yang dia nikmati saat dingin menyapa. Lalu dia pergi, hanya meninggalkan cangkir kosong berampas untuk disingkirkan pelayan dari meja perjamuan. Secangkir coklat panas yang manis dan pahit untuk disesap sampai tandas.

Aku memahami bahwa pada akhirnya aku memang harus kehilangan dia. Aku memahami bahwa aku akan mengenangnya sewaktu-waktu seperti melicinkan kertas kusut yang telah lama berjejal dalam lobus otakku yang menyimpan kenangan masa lalu.

Bagiku, dia selamanya tetap akan menjadi satu-satunya prisma yang membiaskanku menjadi tujuh warna dalam pantulan cahaya. Membuatku menampakkan merahku, jinggaku, kuningku, hijauku, biruku, nilaku, unguku. Membuatku menemukan diri sendiri dalam warna warni yang selama ini tersembunyi. Membebaskanku menjadi aku yang apa adanya.

Bukan dia pelanginya, tapi aku. Dia hanyalah sebuah dimensi bernama kebahagiaan sesaat, yang sering aku khayalkan berada di suatu tempat di atas pelangi.

there’s a land that i heard of once in a lullaby..

“Kau tak lebih dari selembar kebahagiaan yang terkoyak. Menyingkap lebih banyak kisah namun akan terdesak ke dalam sebuah dimensi bernama kenangan. Waktu akan mengaburkanmu menjadi butiran debu.”

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s