#fanfict – ulang tahun

Musim semi mengambang di atas lautan. Mengantarkan kesejukan dan geliat semangat baru ke segala penjuru bahkan hingga sampai ke dasar lautan yang paling dalam. Tempat dimana sebuah kerajaan besar berdiri, rumah penguasa lautan dalam, Dewa Phorcys.

Sejak pagi kerajaan laut dalam itu sangat sibuk. Mereka  tengah menyiapkan sebuah pesta besar, pesta ulang tahun yang sekaligus menjadi penanda kedewasaan putri ketiga Dewa Forkis. Pesta tersebut telah direncanakan dengan matang dan sedang dipersiapkan sebaik-baiknya apalagi akan ada banyak dewa yang datang.

Sementara semua penghuni kerajaan sibuk bersiap-siap, putri ketiga Dewa Forkis pun juga tengah mempersiapkan dirinya. Hari ini dia begitu bersemangat. Pesta ulang tahun ini bukan hanya main-main. Ini akan menjadi hari yang sangat penting baginya karena pada akhirnya dia akan diijinkan muncul ke permukaan laut dan berkelana seperti kedua kakaknya yang sudah terlebih dahulu menjalani upacara kedewasaan.

Dia sedang menyisir rambutnya yang hitam dan panjang ketika pintu kamarnya diketuk. Seraut wajah muncul dari balik pintu.

“ Ibu!” serunya sambil tersenyum. Ibunya, Ceto, masuk diikuti oleh para dayang.

“ Medusa! Putriku yang cantik! Selamat ulang tahun, Sayang!” Ceto memeluk putrinya itu dan memberikan sebuah kecupan di keningnya.

“ Terima kasih Ibu, Ibulah yang seharusnya diberi ucapan selamat karena telah melahirkan dan membesarkanku dengan limpahan kasih sayang yang tak terkira.” Medusa tersenyum. Ceto mengambil sisir dari tangan Medusa dan menyisir rambut Medusa dengan lembut.

“ Ah Sayang, siapapun yang memiliki putri secantik dirimu pasti akan rela melimpahkan kasih sayang sebesar yang mereka miliki untukmu. Ibu akan sangat heran jika di pesta nanti tidak ada dewa yang jatuh cinta kepadamu.” Ujar Ceto. Pipi Medusa memerah mendengar pujian dari ibunya.

“ Namun ingatlah Nak, kau harus hati-hati jika didekati oleh para dewa nanti. Kau harus bisa memilih yang terbaik karena dialah yang kelak akan mendampingimu memerintah kerajaan.” Sambung Ceto. Ceto mendongak menatap cermin dan melihat wajah putrinya yang gelisah.

“ Ada apa sayang?” tanya Ceto.

“ Tidak ibu. Mungkin aku hanya sedang gelisah saja. Medusa memaksakan diri tersenyum. Dia diselamatkan dari pertanyaan-pertanyaan ibunya oleh sebuah ketukan keras di pintunya. Kedua kakaknya muncul dari balik pintu.

“ Ini dia gadis yang berulang tahun!” Euryale, kakak kedua Medusa, menghampirinya dan memeluk Medusa. Medusa balas memeluk kakaknya dengan penuh kerinduan. Setelah lepas dari pelukan Euryale, Medusa beralih memeluk Stheno, kakak tertuanya. Matanya berkaca-kaca melihat mereka datang. Ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah upacara kedewasaan Euryale 3 tahun yang lalu.

“ Hey, jangan menangis Sayang!” kata Stheno. Jemarinya yang lentik mengusap airmata yang mengalir di pipi adiknya. “ Apakah seburuk itu bertemu dengan kami sehingga membuatmu menangis?” Stheno tertawa diikuti oleh ibu dan adiknya. Mau tak mau Medusa pun tersenyum.

“ Bukan buruk Kak! Justru aku senang melihat kalian datang. Aku sangat merindukan kalian!”

“ Tentu saja kami akan datang! Adik kecil kami berulangtahun dan ini adalah saat-saat yang kami tunggu. Dari ujung dunia manapun kami pasti akan datang. Sudah kau lanjutkan saja bersiap-siap. Kami belum bertemu dengan ayah.” Kata Stheno. Dia mencium kedua pipi adiknya, lalu bergantian dengan Euryale memeluk ibunya. Mereka berdua keluar dari kamar Medusa. Sebelum menutup pintu, Euryale berseru, “ Berdandanlah yang cantik dan bersiap untuk menggoda para dewa, adikku sayang!” dia mengedipkan sebelah mata lalu menutup pintu Medusa. Ceto tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu.

“ Kedua kakakmu itu.. tidak juga berubah walaupun sudah menjadi biarawati.”

“ Aku justru senang mereka seperti itu ibu, aku sangat merindukan mereka.” ujar Medusa sambil tersenyum pada bayangan ibunya di cermin.

“ Baiklah sayang, kurasa ibu seharusnya mengecek persiapan pestamu. Kedua dayang ibu akan membantumu berdandan.” kata Ceto sambil menyerahkan sisir rambut Medusa.

“ Iya Bu! Terima kasih. Ibu jangan terlalu lelah ya!”

“ Iya sayang.” Ceto mengecup kening putrinya sekali lagi dan berjalan keluar kamar. Medusa memandangi ibunya hingga sosoknya menghilang ke balik pintu. Dia kemudian meletakan sisirnya dan tertunduk memandangi kedua tangannya yang tertangkup. Kata-kata ibunya kembali terngiang. Jelas bahwa kedua orangtuanya mengharapkan Medusa menjadi pewaris tahta. Padahal dia sendiri ingin menjadi biarawati seperti Euryale dan Stheno.

Lamunannya terputus ketika salah satu dayang Ceto memanggilnya, “ Tuan Putri, bolehkah kami mulai mendandani Tuan Putri?”

“ Iya, terima kasih.” ujar Medusa tersenyum. Pikirannya masih mengembara namun dia memilih untuk mengesampingkannya dulu. Ada upacara kedewasaan yang harus dia jalani. Paling tidak, itu sudah cukup untuk saat ini. Mengenai keinginannya, dia berencana akan membicarakannya dengan ayah dan ibunya nanti. Dia percaya akan bisa meyakinkan kedua orangtuanya.

*bersambung

next story

2. Pesona Gadis Palung Laut Dalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s