#fanfict – Debaran yang sama

Medusa memandang berkeliling ke seluruh penjuru ruang aula. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya ketika dia berjalan masuk ke ruang ini. Sesuatu, bukan, seseorang yang menggetarkan hatinya, yang membuat sesuatu di dalam perutnya menggeliat. Lalu matanya menemukan seseorang itu sedang berdiri dengan gagahnya di bagian lain dari aula itu. Dia nampak sedang asik berbincang dengan dewi yang dikenalinya sebagai Athena. Laki-laki itu bergerak-gerak dengan semangat, tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang seru dengan Athena. Mungkin sebuah strategi perang, jika itu berhubungan dengan Athena, dewi kemenangan yang gila perang.

Selama Medusa berbincang dengan para dewi di sekitarnya, matanya sering mencuri-curi pandang ke arah lelaki itu. Beberapa saat dia merasa lelaki itu juga sedang mencuri pandang kepadanya. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya terasa panas. Namun dia berusaha menenangkan diri dengan menghela napas keras-keras. Saat itulah dia menyadari seseorang tengah memperhatikannya. Seorang anak kecil dengan sepasang sayap di tubuhnya tersenyum pada Medusa.  Dia mengedipkan mata penuh arti. Medusa tau urusan ini akan menjadi gawat. Anak kecil itu, Eros, tampaknya sedang mengincarnya.

Medusa menggelengkan kepala ke arahnya dengan pandangan memohon. Tidak! Dia tidak boleh jatuh cinta pada lelaki di seberang sana. Seluruh dunia akan mengutuknya jika hal itu terjadi. Namun Eros sepertinya tidak peduli. Dia justru menikmati setiap aura cinta yang dipancarkan oleh Medusa.  Beruntung, ketika Eros mengangkat busurnya, Dewa Phorcys menginterupsi para tamu dengan suaranya yang menggelegar.

“ Terima kasih sudah bersedia menghadiri pesta ulang tahun putri kami, Medusa. Tak terasa, putri kecil kami kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Malam ini akan diadakan pula upacara kedewasaan baginya. Kami mohon agar kawan-kawan bersedia memberikan berkat kalian bagi Medusa. Nah medusa, bersiaplah!”

Seketika itu pikiran tentang lelaki tadi terabaikan. Debar di jantung Medusa semakin kencang. Saat ini praktis dia menjadi pusat perhatian. Dia merasa bahkan melangkahkan satu kakipun dia tak akan bisa. Medusa merasakan seseorang menggenggam tangannya. Dia menoleh dan mendapati ibunya tersenyum. Medusa merasakan aliran energi ketenangan dari tangan ibunya itu. Medusa melangkah maju dan merasa lebih siap. Inilah saatnya!

 

*bersambung

————————————————————————————————————————————-

previous story:

1. Ulang tahun

2. Pesona Gadis Palung Laut Dalam

—————————————————————————————————————-

picture from:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s