#diaryCoAss – morning stress become a chronic condition

nggak tau gimana, tapi sekarang setiap tersadar dari tidur, otak langsung berpikir “kerja apa hari ini?”. saya kira itu suatu respon yang wajar karena kebiasaan setiap pagi, sampai sebelum saya mengalaminya hari minggu kemarin. errrgh.. bahkan hari minggu pun saya terbangun dengan pikiran “akan kerja apa hari ini?”. bagus sih, itu artinya saya telah menjadi terbiasa merencanakan aktivitas saya. tapi kadang jadi menjengkelkan karena secara tak sadar, hal itu justru memberati pikiran saya dan akhirnya membuat saya terpaksa harus nervous tiap pagi.

selesai bersiap-siap berangkat koas, pertanyaan “akan kerja apa hari ini?” akan berubah menjadi “bisa selesai semua nggak ya?” lalu ketika siang menjelang dan semua target telah tercapai atau bahkan belum sama sekali, stress itu akan mereda dengan sendirinya dan berubah menjadi penerimaan semacam “ya sudah lah!”. hal itu akan bertahan hingga malam dan membuat saya tenang KECUALI di antara siang sampai malam itu saya bertemu dan bersharing dengan teman yang pekerjaannya sudah berada jauh di depan saya. maka stress itu akan berkelanjutan. mengubah mbentuknya menjadi keputusasaan, ketidakberdayaan, ketidakpercayaan diri. bukan, saya tidak bermaksud untuk mengingkari janji fainnama’al ushri yushro dari Allah. tapi perasaan itu muncul dengan sendirinya. maka kalau sudah begitu, saya akan tertatih-tatih berusaha bangkit.

begitu terus setiap hari.

lelah? pasti!

maka kadang menjadi hal yang sangat menyenangkan berkumpul dengan teman-teman dan saling memotivasi. bercerita kesana kemari. bahkan kadang bertemu pasienpun menjadi hiburan tersendiri.

kadang juga sangat menyenangkan menepuk pundak kawan dan berkata “ayo kita pasti bisa!” waaupun sesungguhnya di dalam pikiran tengah terjadi badai. setiap kali saya menyemangati seorang kawan sesungguhnya saya juga tengah berusaha meredakan badai kecemasan dalam pikiran saya.

saya pengen cepat selesai. bukan karena apa-apa lagi. tapi karena saya pengen cepat lepas dari kondisi seperti ini. saya rasa Allah pun tak keberatan jika saya ingin lekas selesai.

kekuatan saya hanya satu, ketika saya sedang down, saya hanya takut saya jadi terlalu berputus asa. saya hanya selalu berusaha tetap berpegangan kepadaNya. kekuatan saya adalah rasa percaya saya kepadaNya. saya yakin Allah nggak akan menguji saya di luar batas kemampuan saya. jadi saya menjalani hari dengan itu saja. dengan Allah saja.

innallahama’ana πŸ™‚

Iklan

mantan nikah? so?

beberapa hari yang lalu saya mendapat sms dari mantannya seorang mantan (heran deh, saya selalu bisa akrab sama mantannya mantan2 saya -_-“). awalnya dia menanyakan kabar, lalu bertanya apakah benar si mantan ini sudah menikah.

saya bahkan mengharapkan reaksi yang lain daripada reaksi “datar dan geli” dari diri saya sendiri. hahahaha…

yup..membaca sms itu tidak sedikitpun membangkitkan rasa galau atau apapun yang (mungkin) seharusnya terjadi. saya bisa menjawabnya dengan tenang. bahkan sedikit menertawakan ketika ‘membaca’ adanya rasa cemburu dari si mantannya mantan.

mengapa bisa begitu? kata seorang teman saya sih karena saya sudah move on. see? jadi kalau temen2 galau karena mendapat berita si mantan nikah, artinya..

mmm… simpulkan sendiri yak… hahahaha.. πŸ˜€

anyway, congrats to mantan, kalo emang beneran sudah menikah. happy for you! semoga bisa membangun keluarga sakinah mawaddah warrohmah bersama seorang yang terbaik buatmu.. πŸ™‚

#FFdadakan – kain perca usang

β€œ Aku masih ingat pertama kali kamu bilang mau PDKT sama dia Ar!” kataku.

β€œ Oya?”

β€œ Ya! Kamu bilang dia cewek yang pertama kali kamu suka. Terus, nggak berapa lama kamu hilang begitu saja, sibuk dengan dia.”

β€œ I was in love with her beb!”

β€œ Hahaha…”

β€œ Jangan ketawa ah! I feel so dumb tauk!” aku masih tertawa meihat ekspresi cemberutnya yang lucu. Dia menyebalkan. Sungguh! Tapi kami menertawakan semuanya setelah itu. Sampai kemudian ada panggilan masuk ke handphonenya. Perasaanku mengatakan hal buruk akan terjadi. Benar!

β€œ Dita!” hatiku mencelos saat Arya menyebutkan nama itu. Arya berdiri menjauh, mengobrol dengan Dita. Tertawa-tawa.

Aku tak tau apakah aku atau Arya yang bodoh. Dita jelas-jelas meninggalkannya tanpa alasan dan Arya masih saja bersikap baik pada Dita. Biar berulang kali dia bilang sudah tak mencintai Dita, tapi matanya tak bisa membohongiku. Bodoh! Dan aku? Mungkin aku juga bodoh. Arya jelas-jelas masih saja memeluk erat bayangan masa lalunya dan aku tetap berharap bisa menjadi masa depannya?

Arya menyudahi teleponnya dan kembali duduk di depanku. Wajahnya berbinar.

β€œ Kamu bilang sudah tak mencintainya ha?”

β€œ Ya memang! Apa aku terlihat..”

β€œ Ya! Sangat! Kamu masih sangat mencintainya!” tak kubiarkan Arya menyelesaikan kalimatnya.

β€œ Hanya mengenang masa lalu beb!” dia tersenyum usil, mungkin mengira aku bercanda seperti biasa.

β€œ Sudah malam Ar! Aku pulang!” aku berdiri dari kursiku.

β€œ Beb?”

β€œ Nikmati dulu nostalgiamu Ar! Besok baru kau temui aku saat kamu patah hati lagi. Seperti biasa. Daah!”

Kutinggalkan Arya begitu saja. Aku tak peduli. Tapi aku tau dia pasti kembali lagi. Nanti, saat waktunya sepi. Baginya, aku hanya kain penambal baju yang usang, sementara dia adalah keseluruhan gaun rindu yang kukenakan. Suatu saat, aku tau suatu saat dia akan menyadari bahwa aku lebih berharga daripada kain perca usang!

 

*diikutkan dalam proyek @nulisbuku – #FFdadakan dengan tema: Terry – Harusnya Kau Pilih Aku